Irak dan Norwegia akan saling berhadapan pada laga pembuka Grup I Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, Rabu, 17 Juni 2026 pukul 05.00 WIB. Duel ini langsung menarik perhatian karena mempertemukan dua tim yang lama absen dari putaran final turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Bagi Irak, pertandingan ini terasa sangat besar maknanya karena menjadi comeback mereka ke Piala Dunia setelah terakhir tampil pada 1986 di Meksiko. Norwegia juga datang dengan cerita serupa, sebab mereka terakhir bermain di Piala Dunia 1998 di Prancis dan kala itu berhasil mencapai babak 16 besar.
Jalur kualifikasi yang kontras
Perjalanan kedua tim menuju Amerika Utara berlangsung dengan cara yang sangat berbeda. Irak harus melewati 21 pertandingan dari putaran kedua hingga putaran kelima kualifikasi zona Asia, lalu memastikan tiket lewat kemenangan atas Bolivia di playoff antarkonfederasi.
Norwegia justru tampil sangat stabil di bawah asuhan Stale Solbakken. Mereka menyapu bersih delapan pertandingan kualifikasi zona Eropa dan mencetak 37 gol, sebuah catatan yang menegaskan efektivitas lini serang mereka.
Haaland dan rasa percaya diri Norwegia
Ketajaman Erling Haaland menjadi alasan utama produktivitas Norwegia. Penyerang Manchester City itu menyumbang 16 gol selama kualifikasi dan menjadi figur paling menonjol dalam langkah mereka ke Piala Dunia 2026.
Meski unggul di atas kertas, Norwegia tetap menjaga kewaspadaan. Gelandang Patrick Berg menilai timnya superior, tetapi ia juga mengingatkan bahwa laga pembuka selalu menyimpan risiko kejutan.
“Saya merasa kami adalah tim yang superior,” kata Berg, dikutip dari fifa.com.
Berg juga menyoroti kekuatan fisik Irak yang menurutnya tidak boleh diremehkan. Ia mengingatkan bahwa hasil di pertandingan lain sudah menunjukkan setiap laga di turnamen ini bisa berjalan sulit.
“Akan tetapi, kami tahu Irak adalah tim kuat dengan para pemain yang juga kuat. Anda melihat sendiri apa yang terjadi di laga Spanyol vs Tanjung Verde, setiap pertandingan akan sulit. Kami harus mengeluarkan yang terbaik,” imbuhnya.
Modal yang relatif seimbang
Jika melihat lima pertandingan internasional terakhir, Irak dan Norwegia datang dengan modal yang tidak terlalu jauh berbeda. Irak mencatat dua kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan, termasuk kemenangan penting 2-1 atas Bolivia.
Norwegia juga menunjukkan konsistensi yang cukup baik meski sempat kalah satu kali. Dalam lima laga terakhir, mereka meraih dua kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan.
Dengan latar belakang itu, duel di Grup I diperkirakan berjalan terbuka sejak awal. Satu tim membawa semangat comeback setelah penantian panjang, sementara tim lainnya datang dengan kepercayaan diri tinggi berkat kualifikasi yang sempurna.
Laga ini bukan sekadar perebutan tiga poin pertama, tetapi juga ujian awal bagi Irak dan Norwegia untuk membuktikan kesiapan mereka bersaing di panggung tertinggi sepak bola dunia.







