Irak menyiapkan jalur ekspor minyak baru senilai sekitar 60 miliar dollar AS untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Proyek ini menjadi taruhan strategis ketika ketegangan kawasan kembali mengancam salah satu rute energi paling vital di dunia.
Jalur pipa tersebut dirancang membawa minyak Irak ke pasar global melalui Suriah dan Turkiye. Jika terealisasi, rute darat ini dapat memberi Irak pilihan ekspor selain pengiriman laut yang selama ini sangat bergantung pada Hormuz.
Hormuz Menjadi Titik Risiko Energi
Selat Hormuz dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan kecil di kawasan itu dapat segera memicu gejolak harga energi internasional. Sebelum perang, sekitar 23 juta barel minyak per hari melewati jalur laut tersebut.
Sejak perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari 2026, Iran beberapa kali mengancam menutup Selat Hormuz. Posisi Irak menjadi rumit karena negara ini memiliki cadangan minyak besar, menampung pangkalan militer AS, serta menjadi basis sejumlah kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Tekanan pada jalur pengiriman ikut tercermin pada harga minyak. Minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI tercatat naik hampir 5 persen menjadi 88 dollar AS per barrel pada perdagangan Jumat sore waktu setempat, setelah sebelumnya berada di kisaran 67 dollar AS per barrel sebelum konflik dan sempat melampaui 110 dollar AS per barrel pada awal April.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Nilai kemitraan | Sekitar 60 miliar dollar AS | Mencakup energi, kesehatan, komunikasi, dan infrastruktur |
| Kapasitas pipa Irak-Suriah | Sekitar 2 juta barel per hari | Dirancang sebagai jalur ekspor alternatif |
| Kapasitas tujuh proyek pipa | Sekitar 14 juta barel per hari | Perkiraan kapasitas total pada akhir 2028 |
| Volume melalui Hormuz sebelum perang | Sekitar 23 juta barel per hari | Menunjukkan besarnya kebutuhan jalur alternatif |
Rute dari Basra ke Mediterania
Pemerintah Irak dan Suriah menyepakati percepatan rehabilitasi serta rekonstruksi pipa minyak Irak-Suriah. Departemen Luar Negeri AS menyambut kesepakatan tersebut dan mendukung keterlibatan konsorsium internasional yang dipimpin perusahaan AS dalam pembiayaan maupun aspek teknis.
Menurut pejabat Irak, jaringan pipa itu akan menghubungkan Basra di Irak selatan dengan Haditha di Irak barat. Dari Haditha, minyak direncanakan diteruskan menuju Pelabuhan Ceyhan di Turkiye dan Pelabuhan Baniyas di pesisir Suriah.
Kapasitas jalur Irak-Suriah diproyeksikan mencapai sekitar 2 juta barel per hari. Kapasitas itu belum dapat menggantikan seluruh arus minyak yang melewati Hormuz, tetapi dapat memperluas pilihan ekspor bagi Irak saat rute laut menghadapi risiko gangguan.
Suriah dipromosikan sebagai jalur transit energi alternatif meski masih menghadapi dampak perang saudara selama 14 tahun. Irak telah mengalihkan sebagian minyak menggunakan truk ke Suriah untuk diekspor melalui Baniyas, namun pengiriman darat dinilai lebih mahal dan kurang efisien dibandingkan jalur laut.
Chevron Menambah Peran di Irak
Sehari sebelum penandatanganan kemitraan, Perdana Menteri Irak Ali Falah al-Zaidi bertemu jajaran eksekutif Chevron di Houston. Ia mendorong perusahaan energi AS itu untuk memperluas sekaligus mempercepat investasinya di Irak.
Chevron kemudian menandatangani tiga perjanjian dengan pemerintah Irak. Dua perjanjian berfokus pada peningkatan produksi minyak, sedangkan satu kesepakatan lain terkait investasi jaringan pipa untuk jalur ekspor baru.
Al-Zaidi menyatakan Irak kini membidik investasi dan kemitraan jangka panjang, bukan sekadar kontrak pengerjaan proyek. Presiden Pengembangan Bisnis Korporasi Chevron Jake Spiering menyebut pembangunan jaringan pipa penting bagi keamanan energi.
Penandatanganan kerja sama dilakukan di Kamar Dagang Amerika Serikat pada Jumat, 17 Juli 2026, menurut laporan Kompas.com yang mengutip AP News. Kesepakatan itu mencakup sektor energi, kesehatan, komunikasi, dan infrastruktur.
Pembangunan Tidak Bisa Instan
Meski dipandang strategis, belum ada kepastian kapan jaringan pipa ini dapat beroperasi sebagai pengganti efektif bagi Selat Hormuz. Goldman Sachs memperkirakan pembangunan pipa di satu negara saja membutuhkan sedikitnya dua setengah tahun, sementara proyek ini melintasi dua negara atau lebih.
Goldman Sachs juga menghitung terdapat tujuh proyek jaringan pipa yang sedang dikembangkan di kawasan. Seluruh proyek tersebut diperkirakan dapat mengalihkan sekitar 60 persen volume minyak yang saat ini melewati Hormuz pada akhir 2028.
Perlintasan utama di perbatasan Irak utara dan Suriah telah dibuka kembali pada April 2026 setelah tertutup lebih dari satu dekade. Jalur tambahan itu dapat mendukung arus energi lintas batas, sementara pipa baru diharapkan memberi kapasitas ekspor yang lebih besar menuju Suriah dan Turkiye.
