Ketidakpastian insentif kendaraan listrik mulai dipandang sebagai masalah yang lebih besar daripada sekadar program yang tertunda. Di tengah sinyal maju-mundur kebijakan, kepercayaan pasar terhadap komitmen pemerintah dinilai ikut tertekan.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai situasi ini bisa menahan minat investasi di industri kendaraan listrik dan ekosistem pendukungnya. Jika berlarut, dampaknya bukan hanya terasa di sektor otomotif, tetapi juga dapat merembet ke perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Pasar menunggu kepastian, bukan sekadar besaran insentif
Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, mengatakan pelaku pasar mulai mempertanyakan konsistensi dukungan pemerintah. Menurut dia, yang paling mengkhawatirkan adalah ketidakpastian arah kebijakan dan insentif kendaraan listrik yang terus berubah.
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung menahan ekspansi, meninjau ulang strategi, atau mencari lokasi yang dianggap lebih stabil. Karena itu, persoalan utamanya bukan hanya apakah insentif diberikan, tetapi kapan kepastian itu hadir.
Indikasi mulai terasa di keputusan investasi
IESR menyebut sinyal keraguan sudah terlihat dari pergeseran keputusan investasi di sektor otomotif. Pada bulan Juni, ada indikasi dua pabrikan yang memutuskan beralih ke bisnis kendaraan listrik, tetapi justru merelokasi fasilitasnya ke Vietnam.
Negara tersebut dinilai lebih mendukung bisnis kendaraan listrik, sehingga penundaan kebijakan di Indonesia ikut memunculkan perbandingan yang tidak menguntungkan. Situasi ini memperkuat kekhawatiran bahwa peluang investasi bisa bergeser ke pasar yang menawarkan sinyal lebih pasti.
Motor listrik kembali tertunda
Kekhawatiran itu muncul ketika insentif pembelian sepeda motor listrik kembali belum berjalan sesuai rencana. Program yang semula dijanjikan mulai berlaku pada Juli mendatang justru kembali tertunda selama satu bulan ke depan.
Penundaan ini bukan yang pertama. Pada Selasa (23/6), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto menyebut skema insentif masih dalam tahap kajian, sementara penundaan sebelumnya juga sempat diumumkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan alasan serupa.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Status insentif motor listrik | Kembali tertunda satu bulan ke depan |
| Janji awal | Mulai berlaku pada Juli mendatang |
| Pernyataan pemerintah | Skema masih dalam tahap kajian |
| Pihak yang menyampaikan | Airlangga Hartanto dan Purbaya Yudhi Sadewa |
Hitungan manfaat fiskal dinilai masih kuat
Di sisi lain, IESR menilai pemerintah sebenarnya masih punya dasar ekonomi yang cukup kuat untuk tetap memberi dukungan. Berdasarkan perhitungan lembaga itu, satu motor listrik bisa menghemat subsidi BBM sebesar Rp18 juta selama masa pakai 10 tahun.
Estimasi tersebut memakai asumsi harga keekonomian BBM sekitar Rp15.000 per liter pada Mei 2026. Jika manfaat eksternal ikut dihitung, seperti pengurangan polusi udara, nilai karbon, dan penghematan devisa, total penghematan disebut bisa mencapai Rp37 juta per motor listrik.
Potensi hemat triliunan rupiah
IESR juga menyoroti dampak yang lebih besar bila adopsi motor listrik meluas secara nasional. Dengan asumsi harga keekonomian BBM tetap, penggunaan 13 juta motor listrik sesuai skenario dalam Enhanced National Determined Contribution (ENDC) berpotensi menghemat subsidi hingga Rp23 triliun per tahun.
Namun, angka itu masih berupa estimasi skenario adopsi. IESR mengingatkan bahwa sampai sekarang belum ada mandat atau regulasi yang jelas untuk mencapai skala tersebut.
Insentif perlu lebih tepat sasaran
Selain soal waktu pelaksanaan, IESR mendorong desain insentif yang lebih efektif. Lembaga itu menilai insentif pembelian motor listrik sebaiknya difokuskan pada model yang punya utilitas setara dengan sepeda motor konvensional.
Fokus itu mencakup performa dan jarak tempuh yang cukup untuk penggunaan harian. Salah satu usulan yang disampaikan adalah ambang kapasitas baterai minimum sekitar 2 kWh agar kendaraan yang mendapat insentif benar-benar bisa dipakai intensif.
| Usulan IESR | Detail |
|---|---|
| Kapasitas baterai minimum | Sekitar 2 kWh |
| Jarak tempuh harian | Sekitar 40 km per hari |
| Dampak konsumsi BBM | Hingga 1 liter per hari untuk setiap unit |
Dengan kapasitas itu, motor listrik diharapkan cukup untuk mobilitas harian dan menghasilkan pengurangan konsumsi BBM yang lebih nyata. Di tengah penundaan berulang, sinyal kebijakan yang konsisten menjadi faktor yang semakin menentukan bagi pasar maupun calon investor.
