Tekanan harga di Jawa Timur belum mereda dan pada Juni 2026 justru terlihat lebih tinggi dari nasional. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi year-on-year di provinsi ini mencapai 3,36 persen, sedikit di atas angka nasional 3,34 persen.
Kenaikan itu tercermin dari pergerakan Indeks Harga Konsumen yang naik dari 108,52 pada Juni 2025 menjadi 112,17 pada Juni 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa lonjakan harga masih terasa di sejumlah kelompok pengeluaran yang dekat dengan kebutuhan harian masyarakat.
Tiga kelompok yang paling mendorong inflasi
Pelaksana Tugas Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Herum Fajarwati menyebut ada tiga kelompok pengeluaran yang paling besar memberi tekanan pada inflasi tahunan. Ketiganya adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, transportasi, serta makanan, minuman, dan tembakau.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 10,34 persen dan andil 0,73 persen. Komoditas yang menonjol dari kelompok ini antara lain emas perhiasan, pasta gigi, sampo, bedak, dan pembalut wanita.
Kelompok transportasi mencatat inflasi 5,87 persen dengan andil 0,72 persen terhadap inflasi tahunan di Jawa Timur. Tekanan di kelompok ini terutama datang dari kenaikan angkutan udara dan bensin.
| Kelompok Pengeluaran | Inflasi Tahunan | Andil ke Inflasi Jatim |
|---|---|---|
| Perawatan pribadi dan jasa lainnya | 10,34% | 0,73% |
| Transportasi | 5,87% | 0,72% |
| Makanan, minuman, dan tembakau | 4,01% | 1,10% |
Makanan dan tembakau masih menahan laju harga
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan harga tahunan sebesar 4,01 persen pada Juni 2026. Kelompok ini memberi andil terbesar di antara tiga penyumbang utama, yakni 1,10 persen terhadap inflasi tahunan Jawa Timur.
BPS mencatat beras, minyak goreng, daging sapi, cabai, bawang merah, dan daging ayam ras termasuk komoditas yang mendorong inflasi. Sejumlah barang lain seperti air kemasan, tahu mentah, tempe, wortel, jeruk, pepaya, dan udang basah juga ikut menyumbang tekanan harga.
Produk tembakau turut memberi tekanan, terutama melalui Sigaret Kretek Mesin, Sigaret Kretek Tangan, dan Sigaret Putih Mesin. Kombinasi kebutuhan pokok dan barang konsumsi harian ini membuat inflasi Jatim tidak hanya ditopang satu sektor, melainkan tersebar di beberapa kelompok belanja.
Inflasi bulanan Surabaya paling tinggi di Jatim
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan Jawa Timur pada Juni 2026 sebesar 0,30 persen. Di tingkat kota dan kabupaten, Surabaya membukukan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,46 persen.
Sebaliknya, Kabupaten Sumenep mencatat inflasi bulanan terendah dengan 0,01 persen. Pada pergerakan bulanan ini, kelompok transportasi kembali menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,31 persen.
| Wilayah | Inflasi Bulanan Juni 2026 |
|---|---|
| Jawa Timur | 0,30% |
| Surabaya | 0,46% |
| Kabupaten Sumenep | 0,01% |
Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga di Jawa Timur masih ditopang terutama oleh kebutuhan harian, mobilitas, dan konsumsi pribadi. Selama tiga kelompok itu masih bergerak naik, ruang mereda bagi inflasi di daerah ini tampak belum besar.
