Indonesia memasang ambisi untuk tidak hanya menjadi pasar besar kecerdasan buatan atau AI, melainkan ikut menciptakan nilai ekonomi dari teknologi tersebut. Pemerintah membidik posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekosistem AI global melalui penguatan infrastruktur, talenta, riset, dan aturan yang disiapkan di dalam negeri.
Target ini penting karena AI mulai mengubah peta persaingan ekonomi dan penguasaan teknologi antarnegara. Negara dengan kapasitas komputasi, sumber daya manusia, serta tata kelola yang kuat berpeluang mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai digital.
Strategi untuk Naik Kelas
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan arah tersebut dalam rangkaian acara World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO di Shanghai, China. Dalam High-Level Meeting of WAICO Founding State pada Sabtu (18/7/2026), ia menegaskan Indonesia ingin terlibat aktif dalam perlombaan AI dunia.
“Indonesia tidak ingin hanya sekadar menjadi penonton atau konsumen dalam perlombaan kecerdasan buatan ini. Kami adalah arsitek aktif dari garda terdepan era digital,” kata Airlangga.
Pemerintah menyiapkan National AI Roadmap sebagai acuan pengembangan ekosistem nasional. Peta jalan ini dirancang untuk menyatukan pembangunan infrastruktur digital, pengembangan sumber daya manusia, penguatan riset, dan tata kelola AI yang bertanggung jawab.
Arah kebijakan tersebut menunjukkan fokus pemerintah tidak berhenti pada perluasan penggunaan layanan berbasis AI. Targetnya adalah memastikan nilai tambah dari pengembangan teknologi, data, komputasi, dan inovasi dapat tumbuh di Indonesia.
Modal Pasar Digital dan Pusat Data
Indonesia memiliki basis digital besar yang dapat menjadi modal awal pengembangan AI. Hingga 2026, pengguna internet nasional mencapai sekitar 235 juta orang dengan tingkat penetrasi sekitar 81%.
Infrastruktur pusat data juga menjadi faktor penting karena layanan cloud dan AI memerlukan kemampuan untuk menyimpan, mengelola, serta memproses data dalam skala besar. Pertumbuhan fasilitas ini membuka peluang investasi pada kapasitas komputasi dan infrastruktur digital pendukung.
| Indikator | Data | Keterangan |
|---|---|---|
| Pengguna internet | 235 juta orang | Hingga 2026 |
| Penetrasi internet | Sekitar 81% | Hingga 2026 |
| Pusat data nasional | 182 fasilitas | Telah beroperasi |
| Pusat data di Jakarta | 94 fasilitas | Konsentrasi terbesar |
| Pusat data di Batam | 16 fasilitas | Salah satu konsentrasi utama |
Konsentrasi pusat data di Jakarta dan Batam memperlihatkan kapasitas digital mulai terbentuk di sejumlah wilayah utama. Namun, besarnya pasar digital saja belum cukup untuk menjadikan Indonesia pemain utama tanpa riset, talenta, dan industri teknologi yang saling terhubung.
Semikonduktor Jadi Bagian dari Agenda
Penguatan AI juga dikaitkan dengan industri semikonduktor, yang menjadi salah satu fondasi perangkat dan komputasi modern. Pemerintah telah memulai kerja sama strategis bidang semikonduktor dan AI dengan ARM Holdings sejak Februari 2026.
Kolaborasi itu diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai semikonduktor sekaligus mendukung digitalisasi nasional. Langkah tersebut melengkapi agenda pembangunan infrastruktur, inovasi riset, dan penciptaan talenta teknologi.
Menurut laporan teknologi.bisnis.com, pemerintah optimistis Indonesia dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan AI di kawasan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026. Ambisi itu juga mencakup peran Indonesia dalam pembentukan tata kelola AI di tingkat global.
Peran Indonesia di WAICO
Indonesia menjadi salah satu dari 29 negara pendiri WAICO, organisasi yang melibatkan negara Asia Tenggara, Uni Ekonomi Eurasia, BRICS, serta negara dari Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, Asia Selatan, dan Eropa Timur. Keikutsertaan ini memberi ruang bagi Indonesia untuk terlibat dalam kerja sama teknologi lintas kawasan.
Airlangga mengajak negara anggota menjadikan komitmen teknologi sebagai hasil yang berdampak bagi masyarakat dan ekonomi. “Bersama-sama, mari kita terjemahkan komitmen teknologi ini menjadi hasil nyata, yang mendorong kesejahteraan bersama dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi semua negara,” tuturnya.
Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan target tersebut menjadi kapasitas yang nyata, dari pusat data dan komputasi hingga riset serta tenaga kerja terampil. Keberhasilan agenda itu akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi pengguna AI dalam skala besar atau turut mengambil peran dalam pertumbuhan industrinya.







