IHSG Anjlok Nyaris 2 Persen, Rupiah Tembus Rp 18.000 dan Sentimen Makin Rapuh

IHSG kembali terpukul pada penutupan perdagangan Rabu, 8 Juli 2026. Indeks utama Bursa Efek Indonesia itu turun 107,41 poin atau 1,89% ke level 5.873, seiring rupiah yang kembali melemah dan menembus Rp 18.000 per dolar AS.

Tekanan datang hampir merata di pasar saham. Dari total perdagangan di Bursa Efek Indonesia, hanya 191 saham yang menguat, sementara 482 saham melemah dan 116 saham lainnya tidak berubah.

Rupiah yang Melemah Ikut Menekan Pasar

Di pasar valas, kurs spot rupiah tercatat turun 34,5 poin atau 0,19% menjadi Rp 18.027 per dolar AS. Bloomberg Dollar Index juga menunjukkan pelemahan rupiah 34 poin atau 0,19% ke posisi Rp 18.014 per dolar AS.

Pelemahan mata uang domestik ini menjadi salah satu latar yang ikut membebani sentimen pasar. IHSG dibuka di 5.984, sempat menyentuh level tertinggi 5.984, lalu bergerak ke titik terendah 5.872 sebelum ditutup di bawah 5.900.

Hanya Sektor Kesehatan yang Bertahan

Dari 11 indeks sektoral, hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 1%. Sepuluh sektor lainnya terkoreksi, dengan tekanan paling besar datang dari sektor barang baku yang turun 4,35%.

Setelah itu, sektor properti melemah 2,68% dan sektor barang konsumen siklikal turun 2,50%. Kondisi ini menunjukkan koreksi tidak hanya terjadi pada satu kelompok saham, melainkan meluas ke banyak lini di bursa.

SektorPergerakanKeterangan
Kesehatan+1%Satu-satunya sektor yang menguat
Barang baku-4,35%Penurunan terdalam
Properti-2,68%Termasuk sektor yang ikut tertekan
Barang konsumen siklikal-2,50%Masuk jajaran pelemahan terbesar

Transaksi Tetap Ramai, Tapi Tekanan Jual Masih Dominan

Meski pasar terkoreksi, aktivitas transaksi tetap tinggi. Total volume perdagangan saham mencapai 21,63 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 10,22 triliun.

Di kelompok LQ45, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi penguatan terbesar setelah naik 4%. Di belakangnya ada PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang naik 3,87% dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang menguat 1,93%.

Di sisi lain, tekanan paling besar di LQ45 datang dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) yang anjlok 6,58%. Dua saham lain yang ikut melemah tajam adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 6,27% dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terkoreksi 5,90%.

Data perdagangan BEI menunjukkan tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan minat beli, sementara sektor kesehatan menjadi satu-satunya penopang di tengah koreksi yang meluas. Dengan rupiah yang kembali berada di atas Rp 18.000 per dolar AS, pasar domestik menutup sesi dalam kondisi rapuh.

Source: www.beritasatu.com
Terkait