IHSG Ambruk 30 Persen, Harga Saham Indonesia Justru Masuk Zona Diskon

Author: Cung Media

Penurunan tajam IHSG justru membuat harga saham Indonesia terlihat makin murah. Saat indeks anjlok 30 persen sepanjang 2026, sejumlah ukuran valuasi pasar mulai masuk ke area yang dianggap diskon.

Situasi ini terjadi di tengah tekanan besar dari luar dan dalam negeri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kekhawatiran pelebaran defisit fiskal, dan pelemahan rupiah membuat pasar saham domestik bergerak sangat volatil.

IHSG dan rupiah sama-sama tertekan

Bloomberg Technoz mencatat IHSG melemah hingga 30 persen sepanjang 2026. Pada saat yang sama, rupiah terdepresiasi 7 persen secara point-to-point terhadap dolar Amerika Serikat hingga perdagangan siang, Jumat 12 Juni 2026.

Kombinasi itu menempatkan bursa saham Indonesia pada posisi terlemah sejak lima tahun terakhir. Sentimen negatif dari Timur Tengah juga ikut menekan sejumlah bursa utama Asia.

Di kawasan regional, beberapa indeks masuk zona merah secara year-to-date, termasuk SENSEX di India, Hang Seng di Hong Kong, dan PSEI di Filipina. Namun, tidak semua bursa Asia mengalami tekanan yang sama karena sejumlah indeks masih mencatat penguatan sepanjang 2026.

Valuasi Indonesia terlihat lebih murah dibanding Asia

Berdasarkan kompilasi data Bloomberg per Jumat 12 Juni 2026, rasio Price Book Value atau PBV IHSG berada di level 1,55 kali. Sementara itu, estimasi Price Earning Ratio atau PER ada di 9,21 kali.

Dari perbandingan regional, valuasi pasar modal Indonesia dinilai jauh lebih murah dibanding sejumlah bursa lain di Asia. Dari sisi PBV, IHSG berada di bawah Taiwan, Jepang, India, Korea Selatan, Vietnam, Singapura, dan Malaysia.

Dari sisi PER, IHSG juga terlihat murah dibanding SETI Thailand dan Shanghai Composite China. PBV mengukur kapitalisasi pasar terhadap nilai buku ekuitas, sedangkan PER membandingkan kapitalisasi dengan total keuntungan seluruh emiten.

Dalam tabel valuasi Asia per Juni 2026, IHSG menempati PBV 1,55 kali dan PER 9,21 kali, lebih rendah dari Taiwan yang mencatat PBV 4,15 kali dan PER 21,41 kali, serta Jepang dengan PBV 2,99 kali dan PER 22,83 kali.

Risiko masih ada, tapi harga sudah banyak mencerminkan sentimen

Sinarmas Sekuritas menilai posisi P/E bursa saat ini berada di kisaran 10 kali. Mereka menyebut level itu merepresentasikan area dua standar deviasi di bawah rata-rata pergerakan P/E lima tahunan.

Dalam riset terbarunya, Sinarmas Sekuritas menyampaikan bahwa sebagian besar risiko yang sudah diketahui pasar telah tercermin signifikan dalam harga saham. Artinya, pasar sudah lebih dulu mengompres valuasi saat sentimen negatif membesar.

Meski begitu, pemulihan IHSG tidak otomatis terjadi hanya karena valuasi murah. Akselerasi pergerakan indeks masih memerlukan pendorong eksternal yang lebih kuat untuk mengembalikan kepercayaan pelaku pasar.

Salah satu faktor yang dinilai penting adalah kepastian status Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets. Kejelasan itu diyakini dapat membantu meredam volatilitas dan memperkuat minat investasi.

Di tengah tekanan yang masih besar, penurunan tajam IHSG mulai dipandang bukan hanya sebagai sinyal risiko, tetapi juga sebagai peluang bagi investor dengan horizon lebih dari satu tahun. Dengan valuasi yang sudah tertekan dan sentimen yang banyak tercermin di harga, pasar Indonesia kini masuk ke area yang layak dicermati lebih dekat.

Terbaru