Dari Desa Tepi Kedungombo, Ibra 11 Tahun Dapat Apresiasi NASA atas Laporan Bug

Author: Cung Media

Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD berusia 11 tahun dari Boyolali, mendapat surat apresiasi dari NASA setelah melaporkan temuan bug melalui jalur resmi. Pencapaian itu diraih dari Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, kawasan yang berada di tepian Waduk Kedungombo.

Anak yang akrab disapa Ibra tersebut mempelajari pemrograman dan keamanan siber secara mandiri dengan perangkat yang tersedia di rumah. Perjalanannya menunjukkan bahwa minat teknologi dapat berkembang dari akses belajar digital, meski jauh dari pusat kota dan fasilitas teknologi besar.

Empat Laporan Lewat Kanal Resmi NASA

Apresiasi NASA diperoleh bukan dari satu percobaan yang langsung berhasil. Ibra diketahui telah mengirim empat laporan melalui Vulnerability Disclosure Policy atau VDP milik NASA.

VDP merupakan mekanisme pelaporan yang membuka ruang bagi peneliti keamanan untuk menyampaikan potensi kerentanan pada sistem publik NASA. Laporan yang masuk dapat ditinjau dan ditindaklanjuti oleh pengelola sistem sesuai prosedur yang berlaku.

Laporan Status
1 Dianggap duplikat
2 Ditolak
3 Diterima dan mendapat surat apresiasi
4 Berstatus approve, belum ada balasan lanjutan

Menurut keterangan ayahnya, Aminudin Salas, satu laporan Ibra dinilai sebagai temuan yang sudah pernah dilaporkan. Laporan lainnya ditolak, sementara laporan ketiga diterima hingga menghasilkan surat apresiasi dari NASA.

Satu laporan berikutnya disebut telah berstatus approve, tetapi belum ada tanggapan lanjutan. Hasil yang beragam tersebut menggambarkan bahwa pelaporan kerentanan membutuhkan ketelitian serta kesiapan menghadapi proses peninjauan yang tidak selalu berakhir dengan penerimaan.

Berawal dari Gim di Ponsel

Ketertarikan Ibra pada teknologi bermula dari kebiasaannya bermain gim melalui ponsel. Ia kemudian diarahkan untuk tidak hanya memainkan gim, melainkan juga mencoba membuat gim sendiri.

Dari proses itu, Ibra mulai mengenal coding dan memperluas minatnya pada dunia digital. Ia disebut mulai mempelajari pemrograman sejak masih duduk di kelas 4 SD.

Untuk belajar, Ibra memanfaatkan video YouTube, internet, serta kecerdasan buatan atau AI. Dalam sekitar enam bulan terakhir, fokus belajarnya bergeser ke bidang keamanan siber.

Bidang tersebut membawanya memahami cara mencari kemungkinan celah pada sistem digital yang memang terbuka untuk diuji melalui mekanisme pelaporan. Proses ini berbeda dari upaya mengakses sistem tanpa izin karena Ibra mengirimkan temuannya melalui kanal yang disediakan NASA.

Dukungan Bertahap dari Keluarga

Aminudin Salas, ayah Ibra, berprofesi sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan di SMKN Kemusu. Meski memiliki latar belakang teknologi informasi, Aminudin menyatakan tidak mendalami keamanan siber sehingga Ibra banyak belajar secara autodidak.

Dukungan keluarga diberikan secara bertahap mengikuti keseriusan Ibra dalam belajar. Ia mula-mula menggunakan telepon genggam, lalu memakai komputer bekas, sebelum akhirnya mendapat laptop untuk menunjang kegiatan belajarnya.

Desa Genengsari berada sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Boyolali. Lokasi tersebut memberi kontras tersendiri dengan capaian Ibra di bidang yang sering diasosiasikan dengan perangkat canggih dan lingkungan teknologi perkotaan.

Kisah Ibra disampaikan Aminudin kepada detik.com pada Sabtu, 18 Juli 2026. Surat apresiasi NASA menjadi pengakuan atas satu laporan yang diterima, sekaligus mencatat proses belajar seorang siswa sekolah dasar yang berawal dari gim di ponsel.

Terbaru