63 Sumur Kuno Menguak Kota Majapahit yang Diduga Membentang 10×10 Kilometer

Author: Cung Media

Temuan kembali 63 sumur kuno di Nglinguk Wetan membuka petunjuk penting tentang kehidupan warga di kawasan Majapahit. Sumur dengan bentuk, ukuran, dan teknologi berbeda itu memperlihatkan akses air bersih telah menjadi bagian dari permukiman kuno tersebut.

Petunjuk air ini menguatkan dugaan bahwa Kota Majapahit di Trowulan bukan sekadar deretan bangunan bersejarah yang berdiri terpisah. Sebaran tinggalan arkeologisnya diperkirakan membentang sekitar 10×10 kilometer persegi, setara kawasan permukiman berskala kota.

Jejak Kota yang Melampaui Area Situs

Skala sebaran tersebut mencakup sejumlah desa dan kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Para peneliti membaca tinggalan yang tersebar itu sebagai indikasi adanya klaster permukiman dengan fungsi yang tidak sama.

Yusmaini Aryawati, peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, menyebut kawasan Trowulan telah dihuni sejak abad ke-10 Masehi. Permukiman itu berlanjut dari masa Mataram Kuno, kemudian Singhasari, hingga berkembang pada era Majapahit.

Kesinambungan hunian lintas zaman membuat pembacaan tata ruang Trowulan menjadi lebih kompleks. Kawasan ini tidak hanya menyimpan jejak pusat kekuasaan Majapahit, tetapi juga lapisan sejarah permukiman dari periode sebelumnya.

Kawasan Indikasi Arkeologis Petunjuk Tata Ruang
Trowulan Sebaran tinggalan sekitar 10×10 kilometer persegi Permukiman berskala kota
Sentonorejo Diduga menjadi hunian raja dan bangsawan Kawasan elite dan sakral
Nglinguk Wetan 63 sumur kuno ditemukan kembali Akses terhadap air bersih

Klaster Hunian dengan Fungsi Berbeda

Sejumlah kawasan disebut dalam pembacaan pola permukiman, antara lain Sentonorejo, Segaran, Pendopo Agung, Nglinguk, Grogol, Pakis, dan Puri. Nama-nama ini memberi gambaran bahwa ruang kota kemungkinan terbagi dalam beberapa klaster kegiatan.

Pembagian tersebut menunjukkan permukiman di Trowulan diduga tidak terbentuk secara acak. Peneliti masih perlu menelusuri hubungan antarkawasan untuk mengetahui fungsi, batas, dan perkembangan masing-masing klaster.

Sentonorejo menjadi salah satu titik yang penting dalam dugaan struktur sosial kota. Kawasan ini diperkirakan menjadi tempat tinggal raja dan bangsawan serta memiliki area sakral berupa Pamerajan Agung milik istana.

Keberadaan hunian elite dan ruang sakral memberi petunjuk tentang pengaturan fungsi permukiman di pusat kekuasaan Majapahit. Paparan mengenai kawasan ini disampaikan Yusmaini dalam Webinar Forum Kebhinnekaan Seri #37 bertajuk “Wawasan Baru di Metropolitan Majapahit”.

Sumur Kuno Menjadi Petunjuk Kebutuhan Air

Di Nglinguk Wetan, 63 sumur kuno yang ditemukan kembali memperlihatkan kebutuhan air dipenuhi melalui infrastruktur yang beragam. Perbedaan bentuk, ukuran, dan teknologi pembuatannya membuka peluang penelitian mengenai pengelolaan air di kawasan permukiman.

Temuan itu tidak serta-merta menjelaskan seluruh sistem air Kota Majapahit. Namun, keberadaan puluhan sumur memberi dasar nyata untuk melihat bagaimana warga memperoleh sumber air bersih di lingkungan huniannya.

Sugeng Riyanto, peneliti PRAPS BRIN, menilai karakter permukiman Majapahit di Trowulan diduga merupakan kelanjutan dari masa Singhasari. Ia mengaitkan kesinambungan tersebut dengan asal-usul Singhasari dan Majapahit yang disebut berasal dari garis Wangsa Rajasa.

Garis itu bermula ketika Ken Arok menaklukkan Kerajaan Kediri pada 1222 Masehi. Konteks tersebut menempatkan perkembangan Trowulan sebagai bagian dari proses sejarah yang lebih panjang, bukan kota yang tumbuh tanpa latar sebelumnya.

Batas Kota dan Jaringan Jalan Belum Terjawab

Kepala PRAPS BRIN, Irfan Mahmud, menyatakan proyek Indonesian Field of Archaeology di Trowulan pada dekade 1990-an menghasilkan data arkeologi yang kaya. Meski demikian, batas kota, struktur permukiman, jaringan jalan, kawasan industri, dan lanskap budaya masih terus ditelusuri.

Peneliti juga masih mengkaji sistem pengelolaan air yang menopang kehidupan di kawasan tersebut. Luas sebaran tinggalan belum otomatis menjawab cara kota kuno itu diatur, dihubungkan, dan dijalankan pada masanya.

“Majapahit merupakan memori kolektif bangsa yang merekam perkembangan politik, ekonomi, teknologi, tata kota, hingga interaksi budaya Nusantara,” ujar Irfan. Karena itu, penelitian di Trowulan juga menjadi bagian dari upaya memahami warisan sejarah yang lebih luas.

Pelestarian dilakukan di Situs Bhre Kahuripan melalui inventarisasi, ekskavasi, penetapan zonasi, dan konservasi berkala. Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur juga menempatkan juru pelihara untuk menjaga kelestarian situs tersebut.

Terbaru