Hari Tari Sedunia di Klaten, 10 Tari Daerah Dipentaskan dari Anak hingga Dewasa

Peringatan Hari Tari Sedunia di Klaten tahun ini tidak berhenti pada seremoni. Dewan Kesenian Klaten justru menjadikannya panggung besar untuk menampilkan 10 tari potensi daerah yang dibawakan penari dari anak-anak hingga orang dewasa.

Pentas seni yang digelar di Taman Budaya Monumen Juang 45 Klaten pada Selasa (30/6) malam itu memperlihatkan bagaimana tradisi lokal masih dijaga lewat pertunjukan yang hidup. Diiringi gamelan, acara tersebut juga menjadi ruang temu antara pemerintah, komunitas seni, dan pelaku budaya.

10 tarian, satu panggung tradisi

Seluruh penampilan malam itu dirancang untuk menonjolkan keragaman seni tari daerah yang berkembang di Klaten. Di antara tarian yang ditampilkan ada Tari Gambyong Retno Kusumo, Tari Bondan Tani, Tari Merak, Tari Joko Tarub, Tari Bambangan Cakil, dan Tari Klono Sekartaji.

Pembawaan tarian oleh penari lintas usia memberi pesan bahwa regenerasi seni masih terus berjalan. Formasi itu sekaligus menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga terus diajarkan kepada generasi yang lebih muda.

AspekDetailKeterangan
LokasiTaman Budaya Monumen Juang 45 KlatenTempat pementasan
WaktuSelasa (30/6) malamPeringatan Hari Tari Sedunia
Jumlah tarian10 tariDitampilkan oleh penari anak-anak hingga dewasa
PengiringGamelanMemperkuat nuansa tradisi Jawa

Pelestarian budaya di tengah tantangan modernisasi

Wakil Ketua Dewan Kesenian Klaten, Suwito Radyo, menegaskan bahwa peringatan ini menjadi momentum untuk merayakan dan menghargai keberagaman seni tari di daerah. Ia juga menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya pengembangan dan pelestarian warisan leluhur.

Suwito mengingatkan bahwa seni tari daerah kini menghadapi tekanan dari arus globalisasi dan modernisasi. Karena itu, ruang tampil seperti ini dinilai penting agar seni lokal tidak kehilangan tempat tumbuhnya di tengah pengaruh budaya luar.

Kegiatan tersebut juga disebut sejalan dengan amanat UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Perda No 2 Tahun 2014 tentang Pelestarian Budaya dan Bahasa Jawa. Dua landasan itu mempertegas bahwa pelestarian seni daerah tidak hanya bergantung pada semangat komunitas, tetapi juga pada kerangka hukum yang mendukungnya.

Bupati Hamenang Wajar Ismoyo yang hadir dalam acara itu mengapresiasi gelaran tersebut sebagai bukti keseriusan bersama menjaga seni budaya daerah. Ia menekankan pentingnya pengembangan seni budaya agar generasi muda mengenal dan menjaga eksistensinya di masa depan.

Budaya dan wisata saling menguatkan

Hamenang juga mengaitkan pemajuan seni budaya dengan sektor pariwisata Klaten. Ia menyebut Klaten kini menempati urutan kedua terbanyak jumlah wisatawan di Jawa Tengah, dengan kunjungan wisatawan pada 2025 mencapai 7,5 juta.

Menurut dia, peningkatan itu tidak lepas dari pengembangan seni budaya daerah. Karena itu, pengelola objek wisata diimbau untuk melengkapi destinasi dengan paket pertunjukan seni budaya agar daya tarik Klaten semakin kuat.

Pentas tari ini akhirnya memperlihatkan hubungan yang saling menguatkan antara pelestarian budaya, regenerasi penari, dan pengembangan wisata daerah. Dalam satu panggung, Klaten bukan hanya merayakan Hari Tari Sedunia, tetapi juga menegaskan bahwa seni tradisi masih punya peran penting dalam identitas daerah.

Source: mediaindonesia.com

Terkait