Harga Minyak Naik, Rupiah dan Inflasi Indonesia Terancam Tekanan Baru

Kenaikan harga minyak dunia kembali menambah risiko bagi perekonomian Indonesia. Tekanan utamanya kini mengarah ke impor yang lebih mahal, rupiah yang berpotensi melemah, dan inflasi yang bisa ikut terdorong jika harga bertahan tinggi.

Situasi ini muncul di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang ikut mengangkat harga energi global. Bagi Indonesia, dampaknya tidak berhenti di pasar minyak, karena pelemahan kurs dan tekanan neraca perdagangan dapat ikut menjalar ke sektor lain.

Brent dan WTI sama-sama menguat

Pada Rabu (15/7) pukul 09.20 WIB, data Refinitiv menunjukkan harga minyak Brent naik 1,17% menjadi US$85,72 per barel. Di waktu yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,98% ke posisi US$80,12 per barel.

Jenis MinyakPergerakanHarga
BrentNaik 1,17%US$85,72 per barel
WTINaik 0,98%US$80,12 per barel

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Riza Annisa Pujarama, menilai lonjakan harga minyak akan mendorong nilai impor naik dan memperburuk tekanan di neraca perdagangan. Dalam keterangannya kepada Media Indonesia, ia menyebut kondisi itu bisa berlanjut ke depresiasi rupiah dan inflasi.

Defisit dagang jadi sinyal yang perlu diwaspadai

Risiko tersebut menjadi lebih sensitif karena Indonesia baru mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit itu mengakhiri surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, dengan salah satu pemicu utamanya adalah lonjakan impor BBM dan komoditas migas.

Di tengah kondisi itu, Riza menilai pemerintah belum tentu langsung menyesuaikan harga BBM di dalam negeri. Menurut dia, keputusan tersebut tetap bergantung pada berapa lama harga minyak bertahan tinggi dan seberapa jauh posisinya dari asumsi harga minyak dalam APBN.

APBN masih punya batas tekanan

Riza menegaskan perhatian ekstra dibutuhkan jika harga minyak naik jauh melampaui asumsi makro. Ia mengatakan, “Tapi, untuk bisa mencapai tahap ancaman mungkin seperti kemarin ya, yang sudah mencapai US$100 per barel itu akan berat buat APBN.”

Dengan pasar energi yang masih dipengaruhi konflik AS-Iran, tekanan pada Indonesia berpotensi terus bergerak dari sektor migas ke impor, kurs rupiah, hingga inflasi. Jika reli harga minyak berlanjut, beban itu bisa terasa lebih luas di perekonomian nasional.

Source: mediaindonesia.com
Terkait