Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Tertahan, Pasar Masih Menimbang Risiko Serangan

Author: Cung Media

Harga minyak dunia kembali melemah tipis, tetapi penurunannya belum cukup besar untuk meredakan kekhawatiran pasar. Fokus utama pelaku pasar masih sama: risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah dan peluang meredanya konflik yang bisa menekan harga kembali.

Brent turun 16 sen menjadi US$ 77,86 per barel, sementara WTI melemah 15 sen ke US$ 73,37 per barel. Pergerakan ini terjadi setelah kedua acuan sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni 2026 pada sesi sebelumnya.

Selat Hormuz Jadi Penentu Arah

Selat Hormuz masih menjadi titik tekan utama karena jalur ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia dan LNG sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari 2026. Setiap sinyal gangguan di jalur tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar, terutama ketika investor belum melihat kepastian soal arus distribusi.

Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade, mengatakan pasar masih mengevaluasi situasi itu karena peluang deeskalasi konflik ikut menahan reli harga. Ia menilai ketidakpastian arus minyak melalui Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan.

Risiko Pasokan Masih Dua Arah

Situasi pasar juga dipengaruhi laporan bahwa perusahaan asuransi perang menyarankan perusahaan pelayaran menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz. Sejumlah perusahaan asuransi lain disebut masih meninjau ketentuan polis setelah serangan terhadap kapal di kawasan itu kembali meningkat.

Goldman Sachs menilai risiko pasokan minyak dari kawasan Teluk masih bergerak ke dua arah. Jika negosiasi kembali berlanjut, sanksi atas ekspor minyak Iran dilonggarkan, dan keamanan pelayaran membaik, arus distribusi melalui Selat Hormuz diperkirakan kembali normal pada akhir Juli 2026.

Dalam skenario itu, volume pengiriman melalui Selat Hormuz diperkirakan naik sekitar 6,6 juta barel per hari. Sebaliknya, jika perundingan gagal, serangan terhadap kapal tanker meningkat, atau AS menerapkan blokade terhadap ekspor minyak Iran, gangguan pasokan bisa semakin besar.

Acuan Harga Pergerakan Harga
Brent Turun 16 sen atau 0,21% US$ 77,86 per barel
WTI Turun 15 sen atau 0,20% US$ 73,37 per barel

Direktur Riset Makroekonomi WisdomTree Aneeka Gupta memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran US$ 75 hingga US$ 85 per barel dalam satu bulan ke depan, dengan kecenderungan menguat terbatas. Pandangan itu sejalan dengan pasar yang masih menunggu kepastian arah konflik dan pasokan dari kawasan tersebut.

Di luar Timur Tengah, Rusia juga menambah ketatnya pasokan dengan melarang ekspor diesel mulai Rabu (8/7/2026). Kebijakan itu diambil untuk menjaga pasokan bahan bakar domestik setelah serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang minyak memicu kelangkaan dan lonjakan harga.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru