Hamil di Usia 40 Tahun Makin Umum, Risiko Kesehatan Ini Perlu Diwaspadai

Kehamilan di usia 40 tahun ke atas kini makin sering dibicarakan, seiring meningkatnya jumlah perempuan yang menunda memiliki anak. Di balik pilihan yang terasa lebih matang, ada risiko kesehatan yang tetap perlu dipahami sejak awal.

Fenomena ini terlihat di sejumlah negara maju, termasuk Amerika Serikat dan Singapura. Data itu menunjukkan bahwa kehamilan di usia 40-an bukan lagi kejadian yang jarang, melainkan bagian dari perubahan pola membangun keluarga.

Tren Kehamilan di Usia 40-an Naik

Nama publik seperti Anne Hathaway, Syahrini, Chloë Sevigny, dan Janet Jackson ikut membuat topik ini semakin menonjol. Mereka menjadi contoh bahwa kehamilan di usia 40 tahun ke atas kini lebih mudah terlihat di ruang publik.

Berdasarkan data dari Center for Human Reproduction, perempuan berusia di atas 40 tahun yang hamil menjadi kelompok usia dengan pertumbuhan anak paling pesat di Amerika Serikat. Di Singapura, data yang dikutip CNBC Indonesia dari Strait Times menunjukkan pada 2025 ada 9,6 bayi lahir per 1.000 perempuan pada kelompok usia 40-44 tahun.

Kelompok UsiaAngka KelahiranWilayah
40-44 tahun9,6 bayi per 1.000 perempuanSingapura
45-49 tahun0,5 bayi per 1.000 perempuanSingapura

Mengapa Banyak Perempuan Menunda Kehamilan

Profesor Jean Yeung, direktur ilmu sosial di Institut Pengembangan dan Potensi Manusia A*STAR, menjelaskan bahwa dalam beberapa dekade terakhir semakin banyak perempuan menunda pernikahan dan menjadi ibu. Salah satu alasannya adalah waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk pendidikan dan karier.

Dr. Kalpana Vignehsa, peneliti senior di Institut Studi Kebijakan, menambahkan bahwa pada pasangan yang sudah menikah, keputusan memiliki anak kini sering dibuat secara disengaja dan bersyarat. Stabilitas karier dan pembagian kerja antara pasangan ikut dipertimbangkan sebelum memulai keluarga.

Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Meski trennya meningkat, kehamilan di usia 40-an tetap membawa risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Center for Human Reproduction menyebut beberapa kondisi yang dapat muncul dan perlu dipantau lebih ketat.

Risiko itu mencakup diabetes gestasional pada perempuan dengan pradiabetes, hipertensi selama kehamilan termasuk preeklampsia dan eklampsia, serta dekompensasi jantung pada perempuan dengan masalah jantung yang dapat berujung pada gagal jantung kongestif.

RisikoPenjelasanDampak
Diabetes gestasionalPradiabetes dapat berkembang menjadi diabetes penuh selama kehamilanPerlu pemantauan khusus
Hipertensi kehamilanHipertensi ambang batas dapat berkembang menjadi preeklampsia atau eklampsiaMeningkatkan risiko komplikasi
Masalah jantungDekompensasi jantung bisa memicu gagal jantung kongestifBerisiko mengganggu kondisi ibu
Penyakit autoimunMeski sering membaik saat hamil, kondisi ini berpeluang kambuh di akhir kehamilan dan pascapersalinanPerlu perhatian pada masa setelah melahirkan
Masalah tulang belakangHormon kehamilan melonggarkan ligamen dan dapat memperburuk nyeri punggung bawah atau masalah cakram tulang belakangKeluhan fisik bisa lebih berat

Masalah tulang belakang juga menjadi perhatian karena hormon kehamilan dapat melonggarkan ligamen. Kondisi itu bisa memperparah nyeri punggung bawah dan gangguan pada cakram tulang belakang.

Perubahan pola memiliki anak di usia yang lebih matang menunjukkan pergeseran besar dalam perencanaan keluarga. Namun, di balik tren tersebut, perhatian pada kondisi kesehatan tetap menjadi hal yang paling penting untuk dijaga.

Terkait