BAIC Indonesia langsung menaruh ambisi besar lewat kehadiran BAIC T1. Mobil listrik murni ini masuk ke segmen hatchback crossover premium, pasar yang sudah semakin padat dan kompetitif.
Yang membuat langkah ini penting, BAIC T1 bukan sekadar model baru. Mobil ini menjadi fondasi awal strategi New Energy Vehicle BAIC di Indonesia, setelah merek tersebut lebih dulu bermain di SUV bermesin bensin dan hybrid.
Target Besar di Debut Perdana
PT JIO Distribusi Indonesia (JDI) meluncurkan BAIC T1 pada 9 Juli 2026 di Tangerang. Dalam momen itu, BAIC langsung menargetkan penjualan 1.000 unit hingga akhir 2026 dan membidik sekitar 16% pangsa pasar di segmen Premium Hatchback Crossover EV.
Menurut Dhani Yahya, Chief Operating Officer PT JIO Distribusi Indonesia, BAIC T1 diposisikan sebagai fondasi jangka panjang untuk menghadapi era elektrifikasi di Indonesia. Target itu juga didukung oleh data internal BAIC yang menunjukkan pertumbuhan pasar elektrifikasi dalam beberapa tahun terakhir.
| Indikator | Periode | Angka |
|---|---|---|
| BEV | 2021-2025 | Tumbuh 78% |
| HEV | 2021-2025 | Tumbuh 59% |
| PHEV | 2021-2025 | Melonjak 342% |
Pergerakan itu menunjukkan konsumen Indonesia makin terbuka terhadap kendaraan listrik. Di saat yang sama, pilihan model EV juga terus bertambah dan infrastruktur pengisian daya makin berkembang.
Strategi BAIC Tidak Berhenti di Satu Model
Kehadiran BAIC T1 melengkapi portofolio BAIC yang sebelumnya sudah berisi kendaraan ICE dan HEV. Ke depan, perusahaan juga menyiapkan lebih banyak model elektrifikasi, mulai dari SUV, sedan, MPV, hingga kendaraan dengan teknologi PHEV dan REEV.
Artinya, BAIC tampak ingin membangun lini produk yang lebih luas agar bisa masuk ke lebih banyak kebutuhan konsumen di Indonesia. T1 menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir.
Pada tahap awal, BAIC T1 dijual dalam bentuk Completely Built Up atau CBU agar bisa lebih cepat hadir di pasar dengan harga yang kompetitif. Setelah itu, BAIC menargetkan produksi lokal atau CKD dengan kandungan lokal hingga 60% pada 2027.
Rencana CKD ini penting karena berpotensi membuat harga lebih bersaing dan suplai suku cadang lebih terjaga di masa depan. Bagi calon pembeli mobil listrik, dua hal itu biasanya menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan membeli.
Jaringan Dealer dan Modal Penjualan Ikut Menguat
Optimisme BAIC untuk T1 juga ditopang kinerja penjualan mereka sendiri. Sepanjang Semester I 2026, BAIC Indonesia mencatat wholesales 382 unit, naik 91% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
| Model BAIC | Penjualan Wholesales | Porsi |
|---|---|---|
| BAIC BJ30 | 214 unit | 56% |
| BAIC BJ40 Plus | 119 unit | 32% |
| BAIC X55 II | 49 unit | Tidak disebutkan |
Hasil itu memperlihatkan BAIC mulai mendapat tempat di pasar Indonesia, terutama lewat SUV hybrid dan SUV 4×4 yang mengandalkan kombinasi performa, efisiensi, dan teknologi modern. Basis pelanggan yang tumbuh ini menjadi modal penting saat mereka membawa model listrik pertama ke pasar.
Di sisi lain, BAIC juga memperluas layanan purna jual. Hingga pertengahan 2026, sudah ada 16 dealer resmi BAIC di Indonesia, dan jumlah itu ditargetkan bertambah menjadi 22 dealer sampai akhir tahun.
Ekspansi jaringan ini menjadi poin penting karena layanan purna jual masih menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum membeli mobil listrik. Dengan dukungan dealer yang lebih luas, BAIC ingin memberi rasa aman sekaligus memperkuat posisi BAIC T1 di pasar EV Indonesia.
Source: moladin.com






