Upaya protes terhadap Hamas di Gaza berakhir tanpa gelombang besar di jalanan. Yang muncul justru penguatan pengawasan, pengerahan bersenjata, dan intimidasi yang membuat banyak warga memilih diam.
Seruan aksi itu beredar selama dua pekan terakhir dan menargetkan Hamas pada 26 Juni. Pesan-pesan yang banyak disebarkan akun berafiliasi Fatah itu menyoroti kerasnya hidup di Jalur Gaza dan lambatnya kemajuan pada fase kedua kesepakatan, sambil menyalahkan kepemimpinan Hamas.
Tekanan di lapangan meredam protes
Hamas memantau kampanye tersebut dan bersiap menghadapi kemungkinan demonstrasi pada Jumat. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok itu memperkuat langkah pencegahan, termasuk memublikasikan eksekusi orang-orang yang dicurigai bekerja sama dengan Israel.
Kelompok itu juga menjalankan kampanye tandingan yang menyerukan protes ضد Israel dan utusan Nikolay Mladenov atas kegagalan pembicaraan yang dimediasinya dengan Israel. Menurut penilaian IDF, Hamas mendorong warga untuk berdemo di dekat Yellow Line.
Namun, di lapangan warga Palestina tidak turun ke jalan. IDF menilai kehadiran pasukan keamanan bersenjata Hamas di jalan-jalan dan persimpangan, ditambah ancaman terhadap penduduk, membuat banyak orang enggan ikut protes.
Kendali Hamas masih terlihat kuat
Peristiwa itu kembali menunjukkan betapa kuatnya kontrol Hamas di Gaza setelah hampir tiga tahun pertempuran intens dengan IDF. Hamas dinilai telah membangun kembali kekuasaannya dan terus mengintimidasi publik, tanpa ada pihak yang mampu menantang posisi atau kendalinya.
Upaya kelompok bersenjata Badui untuk menantang Hamas lewat serangan terarah juga belum mengubah keadaan. Operasi IDF dari darat dan udara tetap berlangsung, tetapi kendali Hamas atas populasi sipil masih tampak kuat.
Situasi ini memberi sinyal bahwa dua juta warga Palestina di sisi lain pagar perbatasan belum menunjukkan penolakan terbuka terhadap pemerintahan Hamas. Bagi pihak yang ingin membentuk realitas baru di Gaza melalui zona bebas terorisme dan aktivitas Hamas, perkembangan ini menjadi pukulan serius.
Rekonstruksi Gaza dan kalkulasi kekuasaan
Di tengah kondisi tersebut, rencana rekonstruksi Gaza juga dipandang berpotensi memperkuat Hamas. Rekonstruksi tidak hanya berarti membangun kembali infrastruktur dan bangunan, tetapi juga dapat membantu memperdalam kekuatan sayap militer dan aparat keamanan yang menjaga kontrol lewat rasa takut.
Pihak-pihak yang ingin mendorong perubahan di Gaza kini menghadapi kenyataan bahwa selama Hamas tetap berkuasa, peluang perubahan sangat terbatas. Bahkan jika pembangunan kembali berjalan, hal itu bisa menjadi sarana bagi kelompok tersebut untuk memperkokoh cengkeramannya.
Medan tempur masih diperebutkan
Laporan yang pertama kali dipublikasikan Walla menyebut IDF menguasai sekitar 70 persen Jalur Gaza. Penguasaan itu dicapai lewat operasi teknik untuk menemukan infrastruktur teror di atas dan bawah tanah serta menjauhkan ancaman dari Yellow Line.
Perluasan kendali tersebut berlangsung bersamaan dengan serangan udara ke sasaran teror di dalam Gaza dan operasi darat terhadap upaya menembus Yellow Line. Di sisi lain, Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir juga menyetujui rencana yang diajukan Komandan Komando Selatan Mayjen Yaniv Asor untuk kampanye militer baru jika negosiasi dengan mediator menemui jalan buntu dan Hamas menolak melucuti senjata.
