Goita Muncul Lagi Usai Serangan Terbesar, Rusia Klaim Gagalkan Kudeta di Mali

Assimi Goita kembali muncul di depan publik setelah serangan kelompok bersenjata mengguncang Mali dan menekan posisi pemerintahan militer di Bamako. Kantor Goita merilis foto pertemuannya dengan Duta Besar Rusia Igor Gromyko, sementara Moskow mengklaim pasukannya ikut membantu menggagalkan upaya kudeta di tengah rangkaian serangan itu.

Kemunculan tersebut terjadi saat pemerintah militer Mali berusaha menunjukkan bahwa situasi keamanan masih terkendali. Namun, serangan di akhir pekan itu justru memperlihatkan bahwa ancaman terhadap pusat kekuasaan belum hilang, apalagi salah satu menteri yang dekat dengan Goita tewas dalam serangan tersebut.

Isyarat politik dari kemunculan Goita

Foto pertemuan Goita dan Gromyko menjadi penampilan publik pertamanya sejak serangan yang menghantam basis militer utama Mali dan area dekat bandara Bamako. Tidak ada pernyataan resmi yang menyertai publikasi foto itu, tetapi langkah tersebut memberi pesan bahwa pemerintah ingin menampilkan stabilitas di tengah tekanan keamanan.

Analis Al Jazeera Nicolas Haque menilai foto itu juga mencerminkan ketergantungan rezim Mali pada “Russian mercenaries”. Ia menilai Goita sedang berusaha meyakinkan publik bahwa dirinya masih memegang kendali dan mampu menjaga keamanan warga Bamako dengan dukungan Rusia.

Klaim Moskow soal pencegahan kudeta

Pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pasukan paramiliter yang mereka sebut Africa Corps membantu menggagalkan upaya kudeta saat serangan berlangsung. Dalam pernyataannya, Moskow mengatakan para pejuang berhasil dikalahkan sehingga tidak dapat merebut objek penting, termasuk istana kepresidenan.

Pernyataan itu juga menyebut bahwa dalam “pertempuran sengit” unit Africa Corps menimbulkan kerugian besar pada lawan dan mencegah “coup d’etat”. Rusia kemudian mengatakan secara terpisah bahwa mereka mendesak perdamaian dan stabilitas di Mali.

Tekanan keamanan yang belum reda

Meski begitu, laporan dari lapangan menunjukkan kondisi yang lebih rumit. Kelompok afiliasi al-Qaeda di Afrika Barat dan kelompok separatis Tuareg menyerang pangkalan utama tentara Mali, kawasan dekat bandara Bamako, dan mendorong pasukan Rusia keluar dari Kidal di utara.

Kementerian Pertahanan Rusia juga mengakui bahwa tentara bayaran dari Africa Corps harus mundur dari Kidal. Pada saat yang sama, Rusia memperingatkan bahwa separatis Tuareg yang menguasai kota itu sedang berkonsolidasi untuk serangan lanjutan.

Serangan terbesar dalam hampir 15 tahun

Rangkaian serangan ini disebut sebagai yang terbesar dalam hampir 15 tahun dan memperlihatkan kemampuan baru kelompok bersenjata untuk bekerja sama. Kelompok Tuareg dari Azawad Liberation Front atau FLA dan kelompok terkait al-Qaeda, Group for the Support of Islam and Muslims atau JNIM, dilaporkan bergerak maju di Mali utara.

Laporan mengenai rekaman di media sosial juga menunjukkan tentara Rusia dan pasukan Mali menyerah kepada kelompok bersenjata yang berupaya menjatuhkan pemerintahan militer. Perkembangan itu menambah tekanan terhadap Goita, yang kini berusaha menunjukkan bahwa pemerintahannya masih mampu bertahan meski serangan sudah menyasar jantung kekuasaan.

Situasi di Mali memperlihatkan medan konflik yang terus berubah, dengan pemerintah militer, pasukan Rusia, separatis Tuareg, dan kelompok terkait al-Qaeda sama-sama menjadi bagian dari perebutan kendali di berbagai wilayah. Di tengah semua itu, kemunculan Goita bersama diplomat Rusia menjadi sinyal bahwa Bamako ingin tetap mengirim pesan ketahanan, meski ancaman di lapangan belum benar-benar padam.

Terkait