Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah melancarkan gelombang serangan balasan ke-12 terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait pada Jumat, 17 Juli 2026. Pasukan Dirgantara IRGC mengklaim operasi itu memicu kebakaran hebat di dalam instalasi militer milik Washington.
Klaim tersebut menandai meluasnya ketegangan Iran dan AS ke Kuwait, negara Teluk yang menampung aset militer Amerika. Namun, pernyataan IRGC yang tersedia belum menjelaskan tingkat kerusakan maupun dampak kebakaran terhadap operasi pangkalan tersebut.
IRGC Sebut Radar hingga HIMARS Menjadi Target
Menurut pernyataan IRGC yang turut dilaporkan kantor berita Mehr, operasi terbaru menyasar fasilitas yang dianggap penting bagi kemampuan militer AS. Sasaran itu mencakup sistem pertahanan, penyimpanan persenjataan, serta peluncur roket artileri mobilitas tinggi.
| Sasaran yang Disebut IRGC | Rincian |
|---|---|
| Radar pertahanan rudal | Fasilitas untuk deteksi dan identifikasi |
| Depot senjata | Lokasi penyimpanan persenjataan |
| Sistem HIMARS | Dua peluncur roket artileri mobilitas tinggi beserta rudalnya |
IRGC memasukkan radar deteksi dan identifikasi pertahanan rudal ke dalam daftar target serangan. Depot penyimpanan senjata juga disebut menjadi bagian dari fasilitas yang disasar dalam gelombang ke-12 tersebut.
Dua sistem HIMARS beserta rudal yang berada di dalamnya turut disebut terkena target. IRGC tidak merinci apakah seluruh aset itu rusak, hancur, atau masih dapat digunakan setelah serangan.
Respons atas Serangan Berulang AS
Teheran menyebut serangan ke Kuwait sebagai bagian dari kampanye terhadap negara-negara Teluk yang menampung dan memfasilitasi aset militer AS. Iran memandang keberadaan fasilitas Amerika di kawasan itu berkaitan dengan tekanan Washington terhadap Teheran.
IRGC menegaskan operasi tersebut merupakan respons langsung atas serangan berulang militer AS. Dalam pernyataannya, pihak Iran menuding serangan AS sebelumnya menyasar fasilitas sipil, infrastruktur telekomunikasi, pekerja kereta api, dan kendaraan sipil.
Tuduhan Iran itu juga mencakup adanya korban jiwa akibat serangan-serangan tersebut. Meski begitu, IRGC tidak menyebutkan jumlah korban maupun lokasi spesifik sasaran sipil yang dimaksud.
AS Baru Menyelesaikan Enam Malam Operasi
Di tengah klaim serangan Iran ke Kuwait, Komando Pusat AS atau Centcom pada Kamis, 16 Juli 2026, mengumumkan telah menyelesaikan gelombang serangan baru. Operasi ofensif militer AS itu disebut berlangsung selama enam malam berturut-turut terhadap aset-aset militer Iran.
Rangkaian serangan dari kedua pihak menunjukkan eskalasi tidak lagi terbatas pada satu lokasi atau jenis sasaran. Iran dan AS sama-sama mengaitkan operasi militernya dengan tindakan yang lebih dahulu dilakukan pihak lawan.
Ketegangan ini berakar sejak Februari, ketika AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan berskala besar ke Iran. Sejak itu, Teheran terus membalas dengan mengirim rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi markas pasukan AS.
Serangan gelombang ke-12 menempatkan Kuwait dalam perkembangan terbaru konflik yang telah menjangkau sejumlah negara Teluk. Respons berikutnya akan bergantung pada perkembangan di lapangan dan tindak lanjut atas klaim IRGC mengenai kebakaran di pangkalan AS tersebut.
