Saudi Menimbang Serangan Baru, Ancaman Rudal Houthi Mengarah ke Fasilitas Minyak

Author: Cung Media

Arab Saudi dilaporkan tengah mempertimbangkan operasi militer ofensif terhadap Houthi di Yaman. Langkah itu berisiko memicu serangan balasan ke fasilitas minyak, bandara, pelabuhan, dan instalasi vital Saudi.

Ancaman terhadap infrastruktur energi menjadi perhatian besar karena jalur ekspor minyak Saudi di Laut Merah memiliki peran penting. Ketegangan ini juga muncul ketika gencatan senjata yang rapuh antara Riyadh dan Houthi telah berlangsung selama empat tahun.

Ancaman Langsung ke Infrastruktur Saudi

Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi menyampaikan ancaman tersebut dalam pidato televisi pada Kamis (16/7). Ia mengatakan seluruh fasilitas minyak Saudi dan instalasi vital dapat menjadi sasaran rudal serta drone jika Riyadh kembali terlibat menyerang Yaman.

“Bandara untuk bandara, pelabuhan untuk pelabuhan, dan blokade untuk blokade,” kata Abdul Malik al-Houthi. Pernyataan itu menandakan kelompok tersebut akan membalas setiap eskalasi militer baru dengan serangan terhadap titik strategis Saudi.

Menurut laporan Middle East Eye, Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman memberi isyarat bahwa Amerika Serikat telah memberikan lampu hijau bagi operasi ofensif. Namun, para pemimpin Saudi disebut belum mengambil keputusan akhir mengenai rencana tersebut.

Seorang pejabat Amerika Serikat dan seorang pejabat dari negara Barat mengatakan pembicaraan itu memperlihatkan perbedaan pandangan di lingkungan kerajaan Saudi. Riyadh disebut masih dihadapkan pada pilihan antara membuka kembali perang atau mempertahankan jalur diplomasi.

Rangkaian Ketegangan yang Memanas

Peristiwa Pihak Terkait Rincian
Serangan di Abha Houthi Rudal dan drone diluncurkan ke kota di barat daya Saudi.
Pengeboman Bandara Sanaa Pemerintah Yaman Landasan pacu dibom untuk mencegah pesawat dari Iran mendarat.
Ancaman fasilitas vital Abdul Malik al-Houthi Fasilitas minyak, bandara, dan pelabuhan Saudi disebut dapat menjadi sasaran.

Pekan ini, Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke Kota Abha di barat daya Saudi. Pemerintah Saudi menyatakan seluruh serangan tersebut berhasil dicegat.

Houthi menyebut serangan ke Abha sebagai balasan atas pengeboman landasan pacu Bandara Sanaa pada 13 Juli. Kelompok itu menuduh serangan dilakukan untuk mencegah sebuah pesawat dari Iran membawa pejabat Houthi mendarat di ibu kota Yaman.

Pemerintah resmi Yaman yang didukung Saudi mengaku bertanggung jawab atas serangan di bandara tersebut. Pemerintah itu menyatakan penerbangan tersebut melanggar kedaulatan Yaman.

Menurut keterangan Houthi, pesawat itu membawa pejabat yang menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Penerbangan menuju Sanaa umumnya hanya datang dari Amman di Yordania dan Kairo di Mesir.

Jalur Minyak Laut Merah Jadi Sorotan

Eskalasi Saudi dan Houthi terjadi saat perang antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Kondisi itu membuat keamanan jalur energi regional semakin disorot, terutama karena Laut Merah menjadi rute penting bagi ekspor minyak Saudi.

Sejak Iran berupaya menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, sekitar 4,5 juta barel minyak Saudi per hari dikirim melalui Pipa Timur-Barat. Jalur tersebut mengarah ke Laut Merah dan menjadi bagian penting pergerakan ekspor energi Arab Saudi.

Mohammed Al Basha, pakar Yaman yang berbasis di Amerika Serikat, menilai konflik ini tidak memiliki jalan keluar mudah. Kepada Middle East Eye, ia mengatakan kesepakatan damai dengan Houthi dapat menuntut miliaran dolar dalam bentuk ganti rugi, sementara kembali ke perang memberi peluang kemenangan Saudi yang disebutnya “50-50”.

Houthi sebelumnya menyerang kapal-kapal di Laut Merah setelah Israel menyerang Gaza pada Oktober 2023. Kelompok itu menyebut serangan tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina, selain juga dipercaya bertanggung jawab atas sejumlah serangan darat di Saudi.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru