Negara-negara G7 mendorong gencatan senjata segera di Libanon saat ketegangan regional ikut terseret oleh perang Iran. Di saat yang sama, mereka juga menyiapkan langkah untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz melalui diversifikasi jalur pasokan energi.
Tekanan itu muncul ketika pembahasan kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran mulai beredar dari Washington dan Teheran sebelum pengumuman resmi. Jika kesepakatan itu benar-benar berjalan, pintu negosiasi lanjutan bisa terbuka untuk meredakan konflik yang telah menewaskan lebih dari 7.000 orang, sebagian besar di Iran dan Libanon.
Fokus G7 bergeser ke keamanan kawasan
Dalam pertemuan di Evian-les-Bains, Prancis, para pemimpin G7 menekankan perlunya negosiasi untuk merespons ancaman Iran di kawasan. Mereka juga menegaskan bahwa Iran tidak boleh pernah memiliki senjata nuklir.
Presiden AS Donald Trump memaparkan kesepakatan dengan Iran kepada para sekutu utamanya di G7, yaitu Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang. Meski sama-sama menaruh kekhawatiran pada program nuklir Iran, para pemimpin itu sebelumnya tidak sepenuhnya mendukung keputusan AS untuk ikut terlibat dalam perang.
G7 juga menyoroti kemungkinan Iran memperoleh pengaruh baru bila mampu bertahan dari tekanan militer dan mengamankan kontrol atas Selat Hormuz. Jalur itu adalah salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global, sehingga setiap gangguan langsung memicu perhatian pasar dan pemerintah negara besar.
Isi kesepakatan sementara AS-Iran
Dokumen nota kesepahaman AS-Iran yang belum dipublikasikan disebut memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari untuk memberi ruang bagi negosiasi menuju gencatan permanen. Dalam skema itu, Iran tetap tidak akan memiliki senjata nuklir, sementara pengawasan atas stok uranium yang diperkaya juga menjadi bagian dari pembahasan lanjutan.
Sejumlah isu sensitif lain belum masuk pembicaraan utama, termasuk dukungan Iran terhadap kelompok milisi regional dan program rudal. Hal itu menunjukkan bahwa proses diplomatik masih berada pada tahap awal dan belum menyentuh seluruh sumber ketegangan yang ada.
G7 menyatakan siap membantu implementasi kesepakatan tersebut. Koalisi yang dipimpin Inggris dan Prancis juga akan mengamankan jalur pelayaran setelah Selat Hormuz kembali dibuka, demi menjaga kelancaran distribusi energi dan stabilitas kawasan.
Libanon, Hizbullah, dan tekanan yang belum reda
Selain isu Iran, G7 menyerukan gencatan senjata segera di Libanon serta pelucutan senjata Hizbullah. Seruan itu muncul ketika ketegangan di Libanon masih berlangsung dan Israel disebut tetap mempertahankan kehadiran militernya di wilayah selatan negara tersebut.
Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Libanon. Di sisi lain, Israel menyatakan tidak akan mundur dan tetap membuka opsi penggunaan kekuatan militer, sehingga perbedaan sikap kedua pihak masih jauh dari titik temu.
Situasi itu ikut berdampak pada pasar energi global. Harga minyak dunia tercatat turun seiring munculnya harapan bahwa Selat Hormuz bisa kembali dibuka, meski arah situasi di lapangan masih sangat bergantung pada hasil negosiasi lanjutan.
Langkah energi yang dipercepat G7
Para pemimpin G7 juga sepakat mempercepat diversifikasi jalur pasokan energi. Tujuannya adalah mengurangi kerentanan global terhadap gangguan di Selat Hormuz dan memperkuat cadangan energi masing-masing negara.
Keputusan itu memperlihatkan bahwa G7 tidak hanya memikirkan penyelesaian konflik, tetapi juga dampaknya terhadap rantai pasok energi dunia. Dalam kondisi seperti ini, stabilitas Libanon, kelanjutan negosiasi AS-Iran, dan keamanan Selat Hormuz menjadi tiga isu yang saling terhubung dan terus dipantau negara-negara besar.
Source: www.beritasatu.com






