Festival Bambu Magetan, Cara Menjaga Alam Sekaligus Menggerakkan Ekonomi Warga

Magetan memanfaatkan Festival Bambu sebagai panggung untuk menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan bisa berjalan seiring dengan penguatan ekonomi warga. Ajang ini menegaskan pesan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan alam, terutama saat daerah berupaya menjaga keseimbangan antara ekologi dan ekonomi.

Festival yang telah memasuki tahun ketiga itu juga menjadi ruang kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, swasta, komunitas, pegiat lingkungan, UMKM, dan masyarakat Magetan terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan yang dikaitkan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Ekologi dan ekonomi diposisikan sejajar

Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti menekankan bahwa pembangunan ekonomi harus tetap menjaga kelestarian ekologi. Ia menilai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan perlindungan lingkungan perlu terus dijaga dalam setiap langkah pembangunan.

Nanik juga mengingatkan bahwa perubahan dalam pengelolaan lingkungan hidup harus dimulai dari hal paling dekat dengan keseharian warga. Menurut dia, kebiasaan baik perlu dibangun dari rumah, sekolah, hingga komunitas terkecil agar dampaknya bisa meluas.

Pesan itu ditekankan sebagai tanggung jawab bersama, bukan tugas satu pihak saja. Pemerintah Kabupaten Magetan juga menempatkan pengembangan Ruang Terbuka Hijau Eco Bamboo Park sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan di daerah itu.

Bambu jadi potensi lokal yang diangkat

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan Magetan Saif Muchlisun menjelaskan bahwa Festival Bambu digelar untuk mendorong pemberdayaan potensi lokal, khususnya komoditas bambu. Bambu dinilai punya nilai ekologis sekaligus ekonomis yang besar bagi daerah.

Menurut Muchlisun, bambu bermanfaat untuk menyimpan air dan menyerap karbon. Di saat yang sama, komoditas ini juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan lebih jauh lewat kegiatan kreatif dan pemberdayaan pelaku usaha kecil.

Karena itu, festival ini tidak hanya menjadi agenda pelestarian lingkungan. Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendorong UMKM lokal, melestarikan kesenian tradisional, dan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Rangkaian acara untuk warga dan pengunjung

Festival Bambu 2026 dijadwalkan berlangsung pada 12-21 Juni 2026, mulai pukul 15.00 hingga 22.00 WIB, di Halaman GOR Ki Mageti, Magetan. Selama kegiatan, pengunjung akan menemukan pameran stan kreasi bambu, lomba masak rebung, bazar UMKM dan kuliner kuno-kini, penyerahan Penghargaan Lingkungan Hidup, serta berbagai wahana permainan.

Rangkaian hiburan juga disiapkan untuk menarik pengunjung dari berbagai kalangan. Agenda itu mencakup penampilan Srikandi Art Dance, Musik Tongkling Sanggar Pringgowulung Kamulan Budaya Dharmawangsa, lomba fesyen show Batik Bambu, pentas seni pelajar, atraksi angklung dan egrang, serta hiburan campursari.

Dengan format seperti itu, Festival Bambu Magetan diposisikan bukan sekadar acara seremonial. Ajang ini sekaligus menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana potensi lokal, kepedulian lingkungan, dan perputaran ekonomi warga bisa bergerak dalam satu panggung yang sama.

Source: jatim.antaranews.com

Terkait