Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh. Jumhur Hidayat mendapat pesan kuat dari Emil Salim soal arah gerakan lingkungan di Indonesia. Emil menekankan bahwa pembangunan lingkungan tidak cukup dijalankan dengan pendekatan birokratis, tetapi perlu sentuhan manusia atau human touch yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pesan itu muncul dalam pertemuan keduanya yang membahas arah pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Dari pertemuan tersebut, menguat satu garis besar: gerakan lingkungan tidak bisa berdiri sebagai agenda satu kementerian saja, melainkan harus menjadi kerja bersama yang melibatkan banyak pihak.
Gerakan lingkungan tak bisa berjalan sendiri
Jumhur menilai pengelolaan lingkungan tidak akan optimal jika hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah. Ia menekankan perlunya keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat yang selama ini menjaga lingkungan secara sukarela.
Menurut Jumhur, arah kerja ke depan harus membuka ruang lebih besar bagi kolaborasi lintas pihak. Ia menilai gerakan lingkungan perlu hidup di tengah masyarakat, bukan hanya kuat di level regulasi.
Pendekatan itu juga dinilai penting agar isu lingkungan tidak berhenti sebagai wacana kelembagaan. Dengan kolaborasi yang lebih luas, gerakan lingkungan dapat menjadi bagian dari kebiasaan sosial yang lebih membumi.
Pesan Emil tentang human touch
Emil Salim memberi penekanan pada pentingnya human touch dalam pembangunan lingkungan hidup. Pesan itu menyoroti bahwa kebijakan lingkungan perlu menyentuh manusia secara langsung, bukan hanya mengandalkan instrumen teknis dan administratif.
Bagi Emil, gerakan lingkungan harus melibatkan masyarakat sipil dan berbagai kekuatan lain. Pandangan ini sejalan dengan kebutuhan agar perlindungan lingkungan tidak bergantung pada satu aktor, tetapi tumbuh sebagai gerakan bersama.
Pesan tersebut juga memperlihatkan bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan membutuhkan unsur sosial yang kuat. Tanpa keterhubungan dengan masyarakat, kebijakan berisiko berjalan jauh dari realitas lapangan.
Siklus alam dan cara pandang terhadap sampah
Dalam pertemuan itu, Emil juga mengingatkan bahwa alam bekerja dalam siklus yang harus dijaga keseimbangannya. Ia menyoroti cara pandang terhadap sampah yang semestinya tidak berhenti sebagai buangan, melainkan dipahami sebagai bagian dari proses yang bisa dimanfaatkan kembali.
Emil menjelaskan bahwa sumber daya dapat menjadi produk, lalu produk menjadi sampah, dan sampah kembali menjadi sumber daya untuk produk. Cara pandang ini penting agar sampah tidak diperlakukan sebagai akhir dari proses, melainkan sebagai bagian dari siklus yang masih memberi manfaat.
Pandangan tersebut menempatkan sampah sebagai sumber kehidupan yang tetap punya nilai. Dengan sudut pandang seperti itu, pengelolaan lingkungan tidak hanya bicara soal pembuangan, tetapi juga pemulihan dan pemanfaatan kembali.
Regenerasi pemikiran lintas generasi
Pertemuan Jumhur dan Emil juga menjadi ruang untuk memperkuat kesinambungan pemikiran lintas generasi dalam isu lingkungan. Di tengah tantangan perubahan iklim, persoalan sampah, dan degradasi lingkungan yang makin kompleks, pendekatan yang dibutuhkan dinilai tidak cukup hanya bertumpu pada teknologi dan kebijakan.
KLH/BPLH menegaskan perlunya nilai, etika, dan kesadaran kolektif dalam pengelolaan lingkungan. Dalam kerangka itu, masyarakat diposisikan sebagai bagian penting untuk menjaga siklus alam agar tetap berfungsi dan memberi manfaat bagi kehidupan.
Arah tersebut memperlihatkan bahwa urusan lingkungan menuntut kerja bersama yang lebih luas daripada sekadar instruksi dari atas. Di titik inilah pesan Emil Salim bertemu dengan kebutuhan praktis pengelolaan lingkungan: membangun gerakan yang manusiawi, kolaboratif, dan dekat dengan masyarakat.
Source: www.medcom.id






