
Tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba kembali memunculkan respons tegas dari Rusia. Moskow menegaskan akan terus mendukung Havana di tengah sanksi yang dinilai memperburuk kehidupan masyarakat Kuba.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyampaikan solidaritas itu melalui telegram resmi kepada Raul Castro saat memperingati ulang tahun tokoh revolusioner Kuba tersebut. Lavrov menyebut Rusia tetap berdiri di belakang Kuba untuk menghadapi tekanan eksternal yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya.
Moskow pertahankan kemitraan strategis
Lavrov menegaskan bahwa hubungan Rusia dan Kuba akan terus dipertahankan sebagai kemitraan strategis. Ia juga menyatakan kedua negara akan memperkuat kerja sama bilateral dan mendorong terbentuknya tatanan dunia multipolar yang lebih adil.
Dalam pesannya, Lavrov mengenang pertemuan-pertemuannya dengan Raul Castro yang disebut berlangsung terbuka dan penuh makna. Ia juga menyampaikan doa agar Castro mendapat kesehatan, ketabahan, dan kesejahteraan.
Pernyataan itu menunjukkan posisi Rusia yang konsisten membela Kuba di tengah meningkatnya tekanan politik dan ekonomi dari Amerika Serikat. Solidaritas tersebut juga menandai upaya Moskow menjaga hubungan lama dengan Havana di tengah situasi geopolitik yang makin tegang.
Tekanan sanksi AS makin menekan ekonomi Kuba
Kuba saat ini menghadapi beban berat akibat kebijakan sanksi yang diterapkan Washington. Pemerintah Amerika Serikat terus menambah tekanan terhadap Havana melalui berbagai langkah politik dan ekonomi.
Salah satu langkah yang disorot terjadi pada Januari lalu ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengenakan tarif terhadap impor dari negara-negara pemasok minyak ke Kuba. Trump juga mengumumkan status darurat nasional yang dikaitkan dengan dugaan ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.
Kebijakan itu memperburuk krisis bahan bakar yang sudah lebih dulu melanda Kuba. Dampaknya merambat ke banyak sektor penting, mulai dari pembangkit listrik, transportasi, rantai pasok pangan, hingga layanan kesehatan dan pendidikan.
Kondisi tersebut membuat layanan publik vital di Kuba semakin tertekan. Di saat yang sama, kebutuhan dasar masyarakat ikut terganggu karena tekanan ekonomi yang belum mereda.
Pesan politik di tengah krisis
Dukungan Rusia kepada Kuba tidak hanya bernilai simbolis, tetapi juga mengirim sinyal politik di tengah persaingan yang lebih luas dengan Amerika Serikat. Moskow menempatkan hubungan dengan Havana sebagai bagian dari garis kebijakan luar negeri yang menolak tekanan sepihak.
Lavrov menyebut kerja sama bilateral perlu terus diperkuat agar kedua negara dapat menghadapi tantangan bersama. Dalam kerangka itu, Rusia kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendukung Kuba menghadapi tekanan ekonomi dan politik dari Washington.
Kuba sendiri masih bergulat dengan dampak jangka panjang dari sanksi yang menekan arus energi dan mengganggu aktivitas ekonomi. Dengan beban yang terus menumpuk, dukungan dari Rusia menjadi salah satu pesan paling jelas bahwa Havana belum dibiarkan sendirian menghadapi tekanan tersebut.
Source: www.suara.com




