Nama Atlus selama ini kerap langsung dikaitkan dengan Persona, tetapi katalog mereka jauh lebih luas daripada satu seri andalan itu. Di balik popularitas besar Persona 5 Royal, ada deretan game lain yang menunjukkan bagaimana Atlus berani bermain di banyak genre tanpa kehilangan identitas.
Ragam itu terlihat dari aksi, RPG, dungeon crawler, simulasi bedah, hingga misteri FMV. Dari sekian banyak judul yang pernah mereka rilis sejak 1986, tujuh game ini sering disebut sebagai representasi paling kuat dari sisi Atlus yang paling berani bereksperimen.
Persona 5 Royal Masih Jadi Puncak Popularitas
Persona 5 Royal tetap menjadi nama paling mudah diingat saat membicarakan Atlus. Game ini mengikuti sekelompok siswa SMA yang membentuk kelompok vigilante dan memanggil manifestasi jiwa terinspirasi mitologi dan budaya dunia untuk melawan kejahatan.
Versi Royal menambahkan karakter baru, cerita dan lokasi tambahan, serta peningkatan quality-of-life. Perubahan itu membuatnya terasa lebih lengkap dibanding versi non-Royal dan memperkuat posisinya sebagai seri yang paling dikenal publik.
Metaphor: ReFantazio Membuka Arah Baru
Di luar Persona, Atlus menunjukkan bahwa mereka masih mampu menghadirkan dunia baru yang kuat lewat Metaphor: ReFantazio. Game ini membawa semesta berbeda dengan nuansa dan mekanisme yang terasa akrab, tetapi tetap berdiri sebagai identitas tersendiri.
Dalam permainan itu, karakter memanfaatkan kekuatan Raja-Raja masa lalu yang disebut Archetype untuk bertarung. Ceritanya berpusat pada misi menjadi penguasa kerajaan magis bernama Euchronia.
Shin Megami Tensei V Menegaskan Fondasi Lama Atlus
Sebelum Persona meroket, Shin Megami Tensei sudah lebih dulu menjadi fondasi penting bagi Atlus. Seri ini menampilkan anak sekolahan yang bisa memanggil makhluk mitologis dari berbagai budaya untuk diajak bertarung.
Shin Megami Tensei V banyak dianggap sebagai puncak modern seri tersebut. Latar pasca-apokaliptik dan perang memperebutkan hak membangun ulang alam semesta membuatnya punya skala cerita yang besar dan berbeda dari RPG arus utama.
Etrian Odyssey 5 Menyempurnakan Dungeon Crawler
Atlus juga pernah mengubah cara pemain menikmati dungeon crawler lewat Etrian Odyssey. Seri ini sempat terasa sangat segar karena pemain diminta menggambar sendiri peta dungeon yang dijelajahi sambil mencatat progres di layar sentuh DS.
Dari seluruh serinya, Etrian Odyssey 5: Beyond the Myth sering dipandang paling matang. Game ini menyempurnakan formula sebelumnya lewat cerita yang menarik, gameplay yang lebih bervariasi, dan pilihan class karakter yang lebih banyak.
Unicorn Overlord Mengubah Cara Taktik Diterapkan
Unicorn Overlord memperlihatkan arah taktis yang berbeda lewat kolaborasi Vanillaware dan Atlus. Alih-alih mengatur tiap unit satu per satu, pemain mengarahkan seluruh pasukan dalam pertempuran real-time.
Cerita game ini mengikuti seorang pangeran yang berkeliling dunia untuk mengumpulkan pendukung. Setiap keputusan pemain memberi dampak nyata pada perjalanan cerita dan perkembangan kekuatan mereka.
Trauma Center dan Tesla Effect Menunjukkan Sisi Paling Eksperimental
Trauma Center: Under the Knife jadi bukti bahwa Atlus tidak ragu mengambil ide yang tidak biasa. Game Nintendo DS ini memanfaatkan layar sentuh untuk gameplay operasi bedah di masa depan, lalu memadukannya dengan elemen visual novel khas Jepang.
Kombinasi itu berhasil menarik perhatian banyak pemain dan membuat seri ini bertahan hingga Trauma Team. Meski sudah berakhir, konsepnya masih menyisakan ruang besar untuk kembali di tengah maraknya game simulasi.
Tesla Effect: A Tex Murphy Adventure membawa nostalgia dari sisi yang berbeda. Setelah vakum panjang sejak game terakhir pada 1998, seri detektif cyberpunk noir itu kembali dengan misteri baru, penulisan cerita yang kocak, akting karakter solid, dan dunia 3D yang bisa dijelajahi secara menyeluruh.
Deretan judul ini memperlihatkan bahwa kekuatan Atlus tidak berhenti pada Persona. Justru di luar seri itulah terlihat bagaimana mereka konsisten merilis game yang unik, berani, dan sulit disamakan dengan studio lain.
