Microsoft tidak perlu menyalin Surface Laptop Ultra mentah-mentah untuk membuat lini Surface Laptop berikutnya terasa lebih bernilai. Justru, model consumer akan lebih masuk akal jika mengambil beberapa ide terbaik dari perangkat Ultra tanpa ikut membawa harga dan kompleksitas yang terlalu tinggi.
Itulah yang paling menonjol dari arah pengembangan Surface Laptop berikutnya: bukan mengejar spek setinggi mungkin, melainkan memilih fitur yang paling terasa di pemakaian harian. Bagi pengguna umum, peningkatan seperti konektivitas yang lebih lengkap, layar yang lebih terang, dan touchpad yang lebih nyaman akan jauh lebih berguna.
Port yang lebih fleksibel, tanpa harus berlebihan
Salah satu perubahan paling masuk akal adalah pilihan port yang lebih luas. Surface Laptop Ultra membawa HDMI, tiga USB-C, USB-A, pembaca kartu SD, dan jack headphone, sementara Surface Laptop 8 for Business hanya punya dua USB-C Thunderbolt 4, satu USB-A, jack headphone, dan Surface Connect.
Untuk model consumer, konfigurasi terbaik tampaknya ada di tengah. Microsoft tidak perlu meniru jumlah port Surface Laptop Ultra sepenuhnya, tetapi laptop premium tetap akan terasa lebih lengkap jika konektivitasnya lebih beragam daripada susunan port pada model bisnis saat ini.
Ada pula detail menarik pada port USB-C di sisi kanan Surface Laptop Ultra. Zac Bowden mengatakan port itu tampak berbeda dari koneksi standar dan mungkin memakai desain breakaway, bahkan magnetik, untuk memudahkan penyelarasan.
Layar lebih terang akan terasa langsung manfaatnya
Dari sisi panel, Surface Laptop Ultra menawarkan peningkatan yang sulit diabaikan. Laptop 15 inci itu memakai layar mini-LED dengan puncak kecerahan HDR 2.000 nits, sedangkan Surface Laptop 8 for Business mencapai 500 nits dalam pengujian Daniel Rubino.
Kecerahan setinggi itu memang tidak realistis untuk laptop consumer, bahkan di kelas premium. Namun Surface Laptop akan jauh lebih kompetitif jika bisa naik ke kisaran 600 hingga 700 nits agar lebih nyaman dipakai di berbagai kondisi cahaya.
Situs itu juga mencatat bahwa Surface Laptop 8 for Business punya layar anti-glare dan fitur privasi terintegrasi yang baik. Karena itu, Microsoft perlu menjaga keseimbangan antara kecerahan yang lebih tinggi dan fitur privasi, bukan hanya mengejar satu sisi saja.
Touchpad haptic besar sudah terbukti relevan
Area lain yang layak diadopsi adalah touchpad haptic yang lebih besar. Surface Laptop Ultra memiliki haptic touchpad terbesar yang pernah hadir di perangkat Surface, dan Rubino menyebut touchpad haptic baru di Surface Laptop 8 for Business sebagai perangkat yang “joy to use”.
Keunggulan touchpad haptic terasa pada konsistensi permukaan dan minimnya dead zone yang mengganggu. Pengalaman itu membuat interaksi terasa lebih stabil dibanding model diving board tradisional yang mengandalkan tekanan berbeda di tiap titik.
Microsoft juga semakin serius pada teknologi haptik di Windows 11. Sistem operasi itu kini punya fitur umpan balik sentuhan halus, termasuk efek “bump” saat menyeret file antar folder, sehingga perangkat Surface semestinya ikut memanfaatkan kemampuan tersebut secara penuh.
Harga tetap harus jadi batas utama
Tantangan terbesar Microsoft tetap pada keseimbangan fitur dan harga. Perusahaan tidak bisa sekadar mengecilkan Surface Laptop Ultra lalu menjadikannya Surface Laptop biasa, karena laptop yang lebih kecil sering kali justru lebih mahal untuk dibuat.
Pendekatan itu juga tidak cocok jika hanya mengganti chip ke opsi yang lebih murah. Beberapa komponen Surface Laptop Ultra, seperti dual-fan cooling, memang tidak diperlukan di model reguler, sedangkan unified memory lebih banyak ditentukan pembuat chip daripada Microsoft.
Komponen lain seperti RTX Spark dan mini-LED juga kemungkinan akan membuat Surface Laptop terlalu mahal jika dipaksa masuk ke model consumer. Karena itu, fokus yang paling masuk akal adalah membawa fitur yang lebih terjangkau dan paling berdampak ke pemakaian sehari-hari.
Microsoft pada akhirnya perlu mencari titik tengah antara Ultra PC dan premium PC. Jika terlalu agresif mengejar spesifikasi tinggi, pasar consumer bisa tergerus, tetapi jika terlalu hati-hati, Surface Laptop akan kalah menarik dibanding laptop premium lain di rentang harga yang sama.
Di titik inilah port yang lebih lengkap, layar yang lebih terang, dan touchpad haptic yang lebih besar bisa menjadi pembeda paling realistis. Dengan langkah seperti itu, Surface Laptop berpeluang memberi pengalaman yang lebih matang tanpa kehilangan identitasnya sebagai laptop premium untuk pengguna umum.
