Kanal Pinglu Mulai Terisi, Jalur Baru China-ASEAN Makin Dekat dan Lebih Murah

Author: Cung Media

Pengisian air di seluruh Kanal Pinglu menandai langkah penting yang bisa mengubah arus logistik antara China barat daya dan ASEAN. Kanal ini diproyeksikan membuka jalur laut yang lebih langsung, lebih pendek, dan lebih murah menuju Teluk Beibu.

Air mulai dialirkan pada Rabu di sepanjang kanal, seiring dimulainya operasi pengisian di pusat pelayaran Madao dan Qishi menjelang pembukaan yang dijadwalkan pada September. Bagi China, ini bukan sekadar tahap konstruksi, melainkan awal dari rute perdagangan baru yang dirancang untuk memperkuat konektivitas kawasan.

Kanal Pinglu membentang sepanjang 134,2 kilometer di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan. Jalurnya menghubungkan Sungai Pingtang di Hengzhou, melewati Luwu di wilayah Lingshan, Qinzhou, lalu mengikuti aliran Sungai Qinjiang hingga mencapai Teluk Beibu.

China merancang kanal itu untuk menampung kapal hingga 5.000 ton. Dengan kapasitas tersebut, Kanal Pinglu menjadi salah satu jalur air pedalaman dengan level tertinggi di negara itu.

Memotong Rute Panjang Lewat Timur

Selama puluhan tahun, Teluk Beibu memang menjadi gerbang maritim terdekat bagi banyak wilayah di China barat daya. Namun, kawasan itu tidak memiliki jalur air pedalaman utara-selatan yang langsung menghubungkan sistem sungai di pedalaman dengan laut.

Akibatnya, kargo dari Yunnan, Guizhou, dan Chongqing selama ini banyak bergerak ke arah timur melalui Sungai Xijiang. Barang-barang itu baru mencapai pelabuhan di Delta Sungai Mutiara sebelum diekspor.

Kanal Pinglu dirancang untuk mengubah pola tersebut. Dengan koneksi langsung antara sistem Sungai Xijiang dan Teluk Beibu, arus barang dari wilayah barat daya China akan punya akses yang lebih singkat ke jalur pelayaran internasional.

Dibandingkan rute yang bergantung pada pelabuhan di kawasan Guangzhou, jalur melalui kanal ini disebut dapat memangkas pelayaran sekitar 560 kilometer. Pemangkasan jarak itu diharapkan meningkatkan efisiensi transportasi dan menurunkan biaya logistik.

Manfaatnya juga meluas ke moda lain. Barang yang dikirim melalui kereta api, jalan raya, dan jalur air pedalaman akan dapat bertemu di kanal ini sebelum bergerak langsung ke pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pesisir Teluk Beibu.

Dorongan Baru untuk Perdagangan China-ASEAN

Kanal Pinglu juga diproyeksikan memperkuat peran Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru. Jaringan logistik ini selama ini menjadi penghubung penting antara wilayah barat China dan pasar global.

ASEAN tetap menjadi mitra dagang terbesar China selama beberapa tahun berturut-turut. Dalam konteks itu, pembukaan jalur yang lebih cepat menuju Teluk Beibu dinilai dapat memberi dorongan baru pada arus perdagangan antara China barat dan negara-negara Asia Tenggara.

Lei Xiaohua, wakil direktur Institut Studi Asia Tenggara di Akademi Ilmu Sosial Guangxi, menilai kanal itu akan meningkatkan kapasitas angkutan dan efisiensi operasional koridor tersebut. Menurut dia, kondisi itu akan memberi kemudahan lebih besar bagi pertukaran ekonomi dan perdagangan antara bagian barat China dan perekonomian ASEAN.

Pelabuhan Teluk Beibu sendiri kini berperan sebagai gerbang penting yang menghubungkan China barat daya dengan pasar ASEAN di bawah koridor tersebut. Sejak implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership atau RCEP, posisi pelabuhan itu sebagai pintu ke Asia Tenggara terus berkembang.

Saat ini, Pelabuhan Teluk Beibu mengoperasikan rute pelayaran ke berbagai tujuan utama di Asia Tenggara. Layanan kontainer yang menghubungkan China dengan Vietnam, Thailand, Jepang, serta sejumlah negara dan kawasan lain juga terus diperluas.

Proyek Strategis di Luar Fungsi Transportasi

Pembangunan Kanal Pinglu dimulai pada Agustus 2022. Sejak awal, proyek ini menarik perhatian luas karena dinilai dapat mengubah distribusi kargo antara pedalaman China barat daya dan pasar luar negeri.

Kanal ini juga punya arti khusus dalam sejarah pembangunan infrastruktur China. Proyek tersebut disebut sebagai kanal pertama sejak berdirinya Republik Rakyat China yang direncanakan dan dikoordinasikan di tingkat nasional untuk menghubungkan jalur air pedalaman langsung ke laut.

Sejumlah akademisi menilai signifikansi kanal ini melampaui fungsi transportasi. Mereka melihat proyek tersebut sebagai contoh upaya memperkuat konektivitas melalui pembangunan infrastruktur yang disesuaikan dengan kondisi geografis setempat.

Ni Yuping, wakil dekan Fakultas Humaniora dan profesor sejarah di Universitas Tsinghua, mengatakan Kanal Pinglu melayani pelayaran domestik sekaligus perdagangan internasional. Menurut dia, kanal itu akan membawa Yunnan, Guizhou, dan Chongqing lebih dekat ke pasar ASEAN, sementara penurunan biaya transportasi air akan membuat perputaran kargo China-ASEAN menjadi jauh lebih efisien.

Analisis harian Singapura Lianhe Zaobao juga menilai kanal ini bukan hanya proyek infrastruktur besar. Setelah rampung dan dibuka, kanal tersebut dipandang sebagai poros strategis yang dapat membentuk ulang lanskap pembangunan Guangxi dan memperkuat keterbukaan wilayah barat China.

Saat uji coba berbasis air terus berjalan di sepanjang rute penuh kanal, proyek ini makin bergeser dari tahap rancangan menuju operasi nyata. Bagi China barat, kanal ini menjanjikan jalan yang lebih pendek ke laut, sedangkan bagi China dan ASEAN, kanal ini membuka ruang bagi arus logistik yang lebih lancar, perdagangan yang lebih erat, serta konektivitas kawasan yang semakin dalam.

Terbaru