Setelah penantian panjang selama 20 tahun, lokasi syuting The Devil Wears Prada 2 ikut menjadi pusat perhatian yang membangkitkan kembali dunia Miranda Priestly. Film ini tidak hanya kembali ke energi New York, tetapi juga memperluas skala visualnya hingga Milan dan Lake Como.
Perpaduan itu membuat sekuel ini terasa lebih besar, lebih berlapis, dan tetap dekat dengan identitas mode yang melekat pada waralaba tersebut. Setiap kota dan bangunan dipilih untuk menghadirkan suasana yang berbeda, mulai dari hiruk-pikuk urban hingga kemegahan Eropa.
Manhattan tetap jadi poros utama
Manhattan masih memegang peran paling kuat dalam sekuel ini. Central Park, Madison Square Park, Midtown Manhattan, Chelsea, Hudson Yards, dan gerai Dior yang baru dibuka menjadi bagian dari lanskap yang menjaga film tetap berakar pada kehidupan New York.
Pilihan itu mempertahankan rasa akrab yang dulu membuat film pertamanya begitu ikonik. Di saat yang sama, area bisnis dan mode di Manhattan menegaskan kembali bahwa dunia The Devil Wears Prada selalu berkaitan dengan ambisi, citra, dan kekuasaan.
Brooklyn dan Long Island memberi nada yang lebih personal
Di luar pusat kota, Brooklyn menghadirkan sisi yang lebih hangat lewat Long Island Bar. Lokasi itu dipakai untuk adegan kencan Andy dengan Peter, sosok kekasih barunya yang diperankan Patrick Brammall.
Bar tersebut dikenal lewat neon sign yang khas dan sejarah lebih dari 50 tahun di Brooklyn. Kehadiran elemen itu membuat adegan terasa lebih intim dibandingkan kesibukan Manhattan yang dominan.
Long Island juga membawa warna berbeda melalui nuansa suburban yang lebih personal. Sebuah waterfront estate dipakai sebagai rumah Hamptons milik Miranda, dan properti berpagar itu disebut bernilai $8.3 juta.
Ruang glamor New York tetap dipertahankan
American Museum of Natural History menjadi salah satu lokasi penting yang memperkuat sisi mewah film ini. Bangunan itu digunakan sebagai pengganti gala Met yang fiktif, sehingga menjadi latar megah untuk pembuka dunia Runway.
Aula-aula monumental di museum tersebut memberi kesan institusional yang kuat. Pilihan ini selaras dengan karakter Miranda Priestly dan dunia fashion yang selalu menuntut citra prestisius.
Milan membawa skala mode yang lebih besar
Setelah Paris di film sebelumnya, Milan hadir sebagai kelanjutan alami untuk sekuel ini. Beberapa lokasi yang digunakan antara lain Galleria Vittorio Emanuele II, Palazzo Parigi Hotel & Grand Spa, Villa Arconati, halaman gereja Santa Maria delle Grazie, dan Palazzo Clerici.
Accademia di Brera menjadi salah satu titik yang paling menonjol. Sekolah seni rupa itu diposisikan sebagai panggung besar bagi dunia fashion Runway, sehingga menambah dimensi artistik ke dalam cerita.
Kehadiran Milan menegaskan bahwa sekuel ini tidak sekadar menampilkan latar mewah. Kota itu juga memperluas hubungan film dengan dunia mode Eropa yang menjadi identitas kuat waralaba ini.
Lake Como menambah sentuhan elegan
Lake Como membawa nada yang lebih halus dan elegan ke dalam film. Pengambilan gambar berpusat di Villa del Balbiano di Tremezzina, sebuah palazzo abad ke-16, serta desa tepi danau Brienno dan Argegno.
Pilihan lokasi itu memberi kontras terhadap energi Manhattan yang serba cepat. Hasilnya, film ini memiliki lapisan visual yang lebih lembut tanpa kehilangan kemewahan yang menjadi ciri utamanya.
Rangkaian lokasi dari Manhattan, Brooklyn, Long Island, Milan, hingga Lake Como menunjukkan bahwa sekuel ini dibangun sebagai pengalaman visual yang lebih luas. Setiap tempat dipakai untuk memperkuat emosi, status, dan ritme naratif yang masih melekat pada dunia The Devil Wears Prada.
Source: en.tempo.co






