Cuaca panas yang makin sering terasa di berbagai wilayah Indonesia tidak hanya membuat anak mudah tidak nyaman saat bermain. Dalam kondisi tertentu, paparan suhu tinggi bisa berkembang menjadi gangguan serius yang berujung pada heat stroke.
Masalahnya, tanda awal sering muncul saat anak masih asyik beraktivitas di luar ruangan. Saat keluhan seperti haus, pusing, atau lemas tidak segera dikenali, kondisi ringan bisa bergeser menjadi keadaan darurat medis.
Anak lebih rentan saat suhu naik
Menurut dosen program pendidikan dokter spesialis kedokteran keluarga layanan primer Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Siti Rizki Fauziah, anak belum memiliki sistem pengaturan suhu tubuh yang seefektif orang dewasa. Karena masih berada dalam masa pertumbuhan, tubuh anak lebih mudah kewalahan saat panas berlangsung terus-menerus.
Secara fisiologis, luas permukaan tubuh anak relatif lebih besar dibandingkan berat badannya. Kondisi ini membuat panas dari lingkungan lebih mudah terserap, sementara kemampuan membuang panas lewat keringat belum berkembang sempurna.
Saat anak berlari, bermain, atau berolahraga, tubuh juga menghasilkan panas tambahan dari dalam. Jika paparan panas berlangsung lama, suhu tubuh dapat naik lebih cepat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Gejala awal yang kerap terlewat
Pada tahap awal, tubuh biasanya menunjukkan gejala kelelahan akibat panas atau heat exhaustion. Tanda-tandanya meliputi keringat berlebih, sakit kepala, pusing, mual, muntah, tubuh lemah, hingga kram otot.
Anak sering tidak langsung menyadari bahwa tubuhnya mulai kewalahan. Rasa haus, kurang fokus, atau tubuh yang mulai lemas kerap baru terlihat setelah kondisi memburuk.
Jika segera dipindahkan ke tempat sejuk dan diberi cairan yang cukup, anak masih bisa pulih. Namun jika gejala ini diabaikan, gangguan tersebut dapat berkembang menjadi heat stroke.
Heat stroke bukan keluhan biasa
Heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan untuk mengontrol suhu internal. Kondisi ini termasuk keadaan darurat karena dapat mengganggu organ vital.
Siti Rizki menegaskan bahwa heat stroke merupakan kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh yang bisa berdampak pada otak, jantung, dan ginjal. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain kebingungan, sulit berkomunikasi, mengantuk berlebihan, perubahan perilaku, hingga kehilangan kesadaran.
Dalam situasi seperti ini, kecepatan mengenali gejala menjadi sangat penting. Keterlambatan penanganan dapat memperbesar risiko kondisi yang lebih berat.
Bayi dan balita perlu pengawasan ekstra
Di antara kelompok usia anak, bayi dan balita disebut paling rentan terhadap dampak buruk suhu panas ekstrem. Kementerian Kesehatan sebelumnya juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dehidrasi dan heat stroke pada kelompok usia ini.
Orang tua perlu memastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi dan membatasi aktivitas di bawah paparan matahari langsung. Pengawasan yang lebih ketat sangat dibutuhkan karena anak usia dini belum mampu menyampaikan keluhan dengan jelas.
Cara pencegahan yang bisa dilakukan di rumah
Pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana saat cuaca panas. Aktivitas luar ruangan sebaiknya dibatasi pada jam-jam dengan suhu tinggi, terutama sekitar pukul 10.00 hingga 15.00 WIB.
Anak juga perlu minum cukup meski belum merasa haus. Pakaian yang ringan, longgar, dan berwarna terang dapat membantu mengurangi penyerapan panas dari lingkungan.
Setelah bermain, anak sebaiknya segera beristirahat di tempat teduh atau ruangan yang lebih sejuk. Orang tua juga perlu aktif mengamati perubahan kondisi fisik anak, terutama saat aktivitas berlangsung lebih lama dari biasanya.
Kewaspadaan menjadi kunci utama saat suhu udara meningkat ekstrem. Dengan mengenali gejala lebih cepat, orang tua dapat mencegah heat exhaustion berkembang menjadi heat stroke yang mengancam keselamatan anak.
Source: www.beritasatu.com






