Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mendorong susu hadir lebih sering dalam program makan bergizi gratis atau MBG. Dorongan ini muncul karena MBG dinilai bisa menjadi pintu untuk membiasakan konsumsi susu sekaligus memperkuat kualitas generasi muda.
Hanif melihat frekuensi pemberian susu yang lebih rutin bukan sekadar soal menu, tetapi soal kebiasaan baru yang bisa dibangun lewat program pemerintah. Ia berharap susu tidak hanya muncul beberapa kali dalam sepekan, melainkan bisa diterima lebih sering oleh para penerima manfaat.
Susu dianggap bisa membentuk kebiasaan baru
Menurut Hanif, MBG memiliki peluang besar untuk memperluas budaya konsumsi susu di Indonesia. Karena itu, ia menilai pemberian susu perlu ditingkatkan agar manfaatnya lebih terasa di tengah masyarakat.
Hanif menegaskan, “Ini menjadi kesempatan emas. Dengan program MBG, paling tidak susu bisa diberikan lebih sering, syukur-syukur setiap hari, tidak hanya dua kali dalam seminggu,” ujar Hanif dikutip dari Antara, Minggu (14/6/2026).
Pernyataan itu menempatkan susu bukan sebagai pelengkap biasa, melainkan bagian penting dari pola makan bergizi yang ingin diperluas melalui program pemerintah.
Konsumsi susu nasional masih tertinggal
Hanif juga menyoroti rendahnya konsumsi susu di Indonesia yang berada di kisaran 16,2 hingga 16,8 liter per kapita per tahun. Ia menyebut angka itu masih jauh dari cukup bila ingin mendorong dampak kesehatan yang lebih besar.
“Kalau dirata-ratakan, konsumsi susu kita hanya sekitar satu sendok makan per orang per hari. Sulit memberikan dampak yang besar jika kondisinya tidak terus ditingkatkan,” katanya.
Data tersebut menunjukkan masih ada ruang besar untuk mengubah pola konsumsi masyarakat. Dalam pandangan Hanif, peningkatan konsumsi susu merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk sumber daya manusia Indonesia.
Peran susu bagi generasi muda
Hanif menjelaskan susu mengandung protein, kalsium, kalium, vitamin A, vitamin B12, dan vitamin D. Kandungan itu berperan dalam menjaga kesehatan tulang, memperkuat otot, serta mendukung perkembangan otak anak dan remaja.
Karena itu, peningkatan konsumsi susu tidak hanya berkaitan dengan kecukupan gizi harian. Langkah ini juga terkait langsung dengan upaya menyiapkan generasi produktif yang lebih sehat dan kuat.
Butuh gerakan bersama
Hanif menekankan bahwa dorongan meningkatkan konsumsi susu tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Ia mengajak dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat untuk ikut terlibat.
Menurut dia, kesadaran publik perlu dibangun lebih luas agar konsumsi susu menjadi kebiasaan yang lebih kuat di tengah masyarakat. Dengan begitu, MBG dapat memberi manfaat langsung sekaligus mendorong perubahan pola makan yang lebih sehat dalam jangka panjang.
Source: www.beritasatu.com






