Minum matcha, membawa tote bag, atau menyukai K-pop kini bisa memunculkan penilaian yang lebih jauh terhadap seorang laki-laki. Di media sosial, sejumlah kebiasaan itu kerap dikaitkan dengan istilah performative male, yakni citra sensitif yang dicurigai sengaja dibangun demi perhatian.
Perdebatan utamanya bukan terletak pada pilihan minuman, musik, buku, maupun gaya berpakaian. Sorotan muncul ketika publik menilai minat tersebut tidak selaras dengan karakter asli seseorang dan hanya dipakai untuk mencari validasi.
Penilaian seperti ini menjadi sensitif di kalangan Gen Z karena autentisitas dianggap penting dalam membangun kepercayaan di ruang digital. Citra yang terlihat terlalu dirancang justru dapat membuat seseorang dipertanyakan, meski ia berusaha tampil peka dan terbuka secara emosional.
Bukan Label untuk Semua Minat
Performative male merujuk pada laki-laki yang dinilai sengaja mengadopsi sifat, minat, atau penampilan yang sering diasosiasikan dengan perempuan maupun kultur soft boy. Kesan yang ingin ditampilkan biasanya berkaitan dengan sosok yang sensitif, peka, dan memiliki kecerdasan emosional.
Istilah ini tidak berarti setiap laki-laki yang menyukai matcha, K-pop, tote bag, atau buku bertema perempuan sedang melakukan pencitraan. Minat personal tidak dapat langsung dipakai sebagai bukti bahwa seseorang berpura-pura demi menarik perhatian perempuan.
Label tersebut lebih dekat pada dugaan adanya upaya memaksakan selera atau persona tertentu agar terlihat menarik di mata orang lain. Karena motivasi pribadi tidak selalu tampak dari luar, penilaian publik terhadap seseorang tetap memiliki batas yang penting untuk diingat.
Parents, seperti dikutip health.detik.com, menjelaskan bahwa istilah ini berkaitan dengan penilaian publik atas cara seseorang menampilkan sisi sensitifnya. Dalam percakapan media sosial, sebutan itu juga sering digunakan sebagai candaan untuk menyindir laki-laki yang dinilai terlalu mengikuti tren.
Keaslian Lebih Mudah Mendapat Respons
Gen Z cenderung menghargai konten yang terasa spontan, jujur, dan emosional dibanding tampilan yang terlalu dipoles. Perubahan selera ini membuat simbol gaya hidup mudah dipandang sebagai aksesori belaka apabila tidak terlihat sejalan dengan nilai serta karakter pemiliknya.
Berbagai studi mengenai budaya TikTok menunjukkan pengguna menyukai konten yang terasa apa adanya. Dalam konteks itu, foto, unggahan, atau kebiasaan yang tampak terlalu dikurasi berpotensi memunculkan keraguan, bukan kedekatan.
Namun, kesan autentik juga tidak bisa diukur hanya dari satu unggahan atau satu pilihan gaya. Seseorang dapat menyukai musik, bacaan, mode, atau minuman tertentu tanpa perlu membuktikan bahwa kesukaannya cukup “asli” di hadapan publik.
Media sosial membuat proses pembentukan citra lebih mudah terlihat karena minat, penampilan, dan tanggapan orang lain dapat dipamerkan dalam waktu bersamaan. Respons berupa perhatian dan interaksi digital kemudian dapat menjadi ukuran yang sangat terbuka bagi pengguna.
Bukan Gangguan Psikologis
Psikolog Klinis Ghina Sakiah Safari menegaskan bahwa performative male bukan gangguan psikologis, melainkan kecenderungan sosial. Perilaku tersebut dapat menjadi strategi untuk menarik perhatian atau menyesuaikan diri dengan budaya populer dan media sosial.
“Hal itu dilakukan memang bertujuan memperoleh validasi atau status melalui persepsi orang lain. Strategi ini sendiri secara budaya bukan hal yang abnormal,” kata Ghina kepada detikcom.
Keinginan untuk diterima oleh lingkungan bukan hal baru dalam kehidupan sosial. Bedanya, media sosial menyediakan ruang yang membuat penyesuaian diri itu lebih mudah dipertontonkan, diamati, dan dinilai banyak orang.
Ghina juga menyoroti peran tekanan sosial melalui fenomena masking atau social camouflaging. Kondisi ini terjadi ketika seseorang menyembunyikan sisi aslinya, secara sadar atau tidak sadar, demi memenuhi ekspektasi sosial dan kebutuhan untuk diterima.
Karena itu, istilah performative male dapat menjadi bahan kritik terhadap pencitraan, tetapi bukan alasan untuk menghakimi semua ekspresi minat laki-laki. Pembahasan yang lebih adil perlu membedakan antara pilihan personal yang tulus dan perilaku yang benar-benar berorientasi pada validasi publik.







