Chelsea Pecat Liam Rosenior, Ruang Ganti Memanas Setelah Lima Laga Tanpa Kemenangan

Chelsea mengambil keputusan besar dengan memberhentikan Liam Rosenior setelah hubungan di ruang ganti disebut memburuk dan performa tim terus menurun. Langkah itu datang setelah Rosenior hanya bertahan sekitar 100 hari sejak ditunjuk menangani The Blues pada Januari 2026.

Pencopotan ini tidak semata-mata dipicu hasil pertandingan, tetapi juga oleh laporan ketidakpuasan pemain terhadap cara kerja sang pelatih. Situasi internal klub disebut merenggang, baik dalam urusan teknis maupun hubungan personal, sehingga tekanan terhadap Rosenior meningkat dari hari ke hari.

Performa yang tidak kunjung membaik

Chelsea menjalani lima laga beruntun tanpa kemenangan di Liga Inggris di bawah arahan Rosenior. Dalam periode itu, tim juga gagal mencetak gol, sebuah catatan yang langsung memperburuk posisi mereka di papan klasemen.

Situasi tersebut membuat Chelsea terlempar dari zona Liga Champions. Tekanan bertambah karena di kompetisi Eropa, langkah mereka juga terhenti di babak 16 besar.

Rangkaian hasil ini membuat evaluasi terhadap Rosenior berlangsung cepat. Dalam klub sebesar Chelsea, rentetan tanpa kemenangan biasanya langsung memunculkan sorotan besar, terlebih ketika tim kesulitan menemukan ritme permainan.

Ruangan ganti ikut terdampak

Masalah Chelsea tidak berhenti di lapangan. Laporan yang beredar menyebut sejumlah pemain kebingungan dengan strategi dan taktik yang diterapkan Rosenior, sehingga kepercayaan di internal skuad ikut menurun.

Komunikasi antara pelatih dan pemain juga disebut terganggu. Situasi ini membuat suasana latihan tidak lagi kondusif dan berdampak pada stabilitas tim saat pertandingan.

Ketegangan itu mencapai titik sensitif ketika Rosenior membekukan status Enzo Fernandez. Langkah tersebut diambil setelah komentar sang gelandang mengenai rumor kepindahannya ke Real Madrid.

Keputusan itu memperlihatkan bahwa hubungan antara manajer dan skuad sudah berada dalam kondisi yang sulit. Dalam ruang ganti, tindakan semacam itu kerap memicu reaksi lanjutan, apalagi jika performa tim sedang jatuh.

Sindiran dari pemain dan rapuhnya kepercayaan

Laporan yang beredar bahkan menyebut munculnya julukan bernada ejekan dari beberapa pemain untuk Rosenior. Mereka disebut memanggil mantan asisten pelatih itu dengan sebutan “guru pengganti”.

Istilah tersebut menunjukkan keraguan terhadap pengaruh kepemimpinannya di mata sebagian skuad. Bagi tim yang sedang tertekan, hilangnya respek di ruang ganti biasanya menjadi masalah serius karena dapat memengaruhi konsentrasi dan disiplin taktik.

Sorotan terhadap Rosenior juga makin besar karena hubungan personal dengan pemain tidak berjalan mulus. Pada tahap ini, masalah Chelsea tampak bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal otoritas pelatih di dalam tim.

Masih ada peluang menutup musim dengan trofi

Di tengah situasi yang sulit, Chelsea masih menyimpan satu peluang untuk mengakhiri musim dengan gelar melalui Piala FA. Kesempatan itu menjadi satu-satunya titik terang di saat performa liga dan perjalanan Eropa sama-sama mengecewakan.

Namun suasana perpisahan tidak berlangsung hangat. Hingga keputusan diambil, belum ada pemain yang menyampaikan pernyataan resmi untuk melepas Rosenior.

Kondisi itu menunjukkan bahwa proses pergantian pelatih terjadi dalam suasana canggung. Di level skuad, perubahan besar seperti ini sering menyisakan ketegangan emosional yang belum selesai.

Calum McFarlane ambil alih sementara

Untuk mengisi kekosongan kursi pelatih, Chelsea menunjuk Calum McFarlane sebagai pelatih sementara. Tugasnya adalah menjaga stabilitas tim sampai akhir musim di tengah tekanan besar yang masih mengiringi klub.

Setelah masa itu selesai, Chelsea disebut akan mulai mencari manajer tetap untuk musim depan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya klub memperbaiki arah tim setelah hasil buruk dan problem ruang ganti sama-sama gagal memberi fondasi kuat bagi Rosenior.

Terkait