BRIN bersama pemerintah Republik Korea resmi membuka fasilitas High Performance Computing (HPC) ASEAN-Korea yang diposisikan sebagai penguat baru ekosistem riset digital di Asia Tenggara. Sistem ini membawa kapasitas komputasi puncak teoritis 4,28 Petaflops dan performa maksimum 3,10 Petaflops berdasarkan uji standar nyata.
Yang membuat fasilitas ini penting bukan hanya kekuatan mesinnya, tetapi juga arah pemanfaatannya. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk mendukung kolaborasi lintas negara anggota ASEAN dalam AI, teknologi digital canggih, dan riset berbasis komputasi besar.
Fondasi untuk riset yang lebih besar
Kepala BRIN Arif Satria menilai kehadiran infrastruktur ini sebagai langkah maju dalam tata kelola dan pemanfaatan data di Asia Tenggara. Ia menyebut fondasi kuat dibutuhkan untuk masa depan ASEAN dalam AI dan teknologi digital canggih agar fasilitas ini bisa mendorong inisiatif serta kolaborasi antarnegara anggota.
Arif juga menegaskan bahwa data adalah sumber daya fundamental dalam riset dan inovasi. Karena itu, penyelesaian tantangan kompleks seperti pemodelan iklim, pengembangan kecerdasan artifisial, dan teknologi mutakhir lainnya membutuhkan kekuatan komputasi yang besar.
Didukung investasi dan jaringan riset kawasan
Proyek ini merupakan bagian dari Korea–ASEAN Digital Innovation Flagship Project (KADIF) dengan total investasi USD 10 juta selama 4 tahun, pada periode 2024–2028, melalui Dana Kerja Sama Korea–ASEAN. Skema ini menegaskan bahwa HPC ASEAN-Korea bukan proyek tunggal, melainkan bagian dari agenda digital kawasan yang lebih luas.
| Komponen | Detail | Keterangan |
|---|---|---|
| Kapasitas puncak teoritis | 4,28 Petaflops | Performa komputasi maksimum pada hitungan teoritis |
| Performa maksimum nyata | 3,10 Petaflops | Berdasarkan uji standar |
| Konektivitas | 10 GbE | Melalui ID-REN |
| Investasi KADIF | USD 10 juta | Selama 4 tahun, 2024–2028 |
Dari sisi infrastruktur, sistem ini menyediakan konektivitas 10 GbE melalui ID-REN atau Indonesia Research and Education Network. Jalur itu dirancang untuk menjamin akses berkecepatan tinggi melalui konektivitas REN di negara anggota ASEAN.
Perangkat keras fasilitas tersebut telah diterima oleh BRIN di KST Soekarno Cibinong pada 21 April 2026. Kehadiran perangkat itu menjadi penanda bahwa pengembangan fasilitas sudah masuk tahap implementasi yang lebih konkret.
Bukan hanya mesin, tetapi juga talenta
BRIN dan mitra Korea juga menyiapkan penguatan sumber daya manusia lewat Program Pelatihan Data dan AI Korea-ASEAN. Program ini mengumpulkan peserta dari ASEAN Member States dan membahas topik penting, mulai dari AI dan Quantum Machine Learning hingga jaringan berkinerja tinggi.
Langkah ini menunjukkan proyek HPC ASEAN-Korea tidak berhenti pada penyediaan kapasitas komputasi. Penguatan kemampuan manusia diposisikan sebagai bagian penting agar teknologi yang tersedia benar-benar bisa dimanfaatkan secara luas di kawasan.
Tata kelola dibuat berlapis
Proyek strategis ini juga disokong struktur tata kelola yang terdiri dari Project Steering Committee, Advisory Committee, dan Scientific Committee. Keberadaan komite tersebut dimaksudkan untuk menjaga arah implementasi teknis dan memastikan fasilitas dipakai secara optimal.
Keanggotaan komite melibatkan pakar HPC dari KISTI-Korea dan negara-negara anggota ASEAN. Arif menyebut keterlibatan para ahli itu penting agar pemanfaatan sumber daya ini bisa mempercepat penelitian, mendorong inovasi, dan membangun ASEAN yang lebih sejahtera serta tangguh secara teknologi.
Fasilitas HPC ini dibuka untuk peneliti, ilmuwan, pelaku industri, analis kebijakan, dan perencana di seluruh ASEAN. Dengan akses yang lebih luas, BRIN dan Korea berharap fasilitas tersebut menjadi pusat kolaborasi nyata bagi berbagai agenda riset dan pengembangan teknologi di kawasan.
Source: www.idntimes.com






