Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara Eropa memunculkan pertanyaan besar di Indonesia. Namun, kondisi panas di tanah air tidak bisa disamakan dengan heatwave di Eropa karena mekanisme atmosfer yang bekerja berbeda jauh.
BMKG menjelaskan, suhu tinggi di Indonesia lebih sering dipengaruhi oleh karakter wilayah tropis, gerak semu matahari, dan minimnya tutupan awan saat musim kemarau. Sementara di Eropa, panas ekstrem muncul ketika pola sirkulasi atmosfer terganggu dan udara panas terjebak dalam waktu lama.
Mengapa Eropa Bisa Mengalami Heatwave
Sekretaris Utama BMKG Guswanto menyebut dua pola utama yang sering memicu kondisi itu adalah omega block dan heat dome. Keduanya membuat udara panas tertahan di satu kawasan tanpa jalur keluar yang efektif.
Dalam pola omega block, aliran jet stream yang biasanya bergerak dari barat ke timur melemah dan membentuk pola menyerupai huruf omega. Sistem tekanan tinggi terkunci di tengah, sementara tekanan rendah berada di sisi lain.
Situasi itu menciptakan semacam kemacetan atmosfer. Udara panas menumpuk lebih lama karena sirkulasi yang semestinya membawa massa udara bergerak justru terhambat.
Peran Heat Dome dan Udara Panas dari Selatan
Heat dome bekerja seperti tutup besar di atmosfer. Tekanan tinggi menekan udara ke bawah, udara memanas lagi karena kompresi, lalu langit yang minim awan membuat radiasi matahari terus masuk tanpa banyak hambatan.
Dalam kondisi tertentu, pola itu juga bisa menarik massa udara panas dari wilayah selatan. Guswanto menyebut udara panas dari Afrika Utara dapat terdorong menuju Eropa dan bertahan di sana.
Posisi geografis Eropa membuat kawasan ini rentan terhadap situasi tersebut. Sebagian besar wilayahnya berada di lintang 35 hingga 55 derajat lintang utara, yaitu zona transisi yang sensitif terhadap perubahan pola sirkulasi atmosfer.
Pemanasan Global Memperparah Dampaknya
BMKG juga menyoroti bahwa perubahan iklim global ikut memperkuat gelombang panas di Eropa. Guswanto menyebut laju kenaikan suhu di benua itu mencapai sekitar 0,56 derajat celsius per dekade, atau sekitar dua kali lipat dari rata-rata global.
Berikut sejumlah faktor yang ikut memperburuk kondisi tersebut:
| Faktor | Dampak |
|---|---|
| Berkurangnya partikel aerosol | Atmosfer makin lemah memantulkan sebagian radiasi matahari |
| Penyusutan es dan salju | Permukaan yang memantulkan panas berkurang, digantikan daratan dan air yang menyerap energi lebih besar |
BMKG menilai berkurangnya aerosol memang membantu kualitas udara, tetapi di sisi lain mengurangi efek pendinginan alami dari atmosfer. Penyusutan es dan salju di wilayah lintang tinggi juga memperbesar penyerapan energi di permukaan.
Kenapa Indonesia Tidak Mengalami Mekanisme yang Sama
Guswanto menegaskan Indonesia tidak mengalami pola atmosfer yang sama seperti Eropa. Letak Indonesia di garis khatulistiwa membuat wilayah ini tidak dipengaruhi jet stream lintang menengah yang menjadi kunci terbentuknya omega block.
Di wilayah tropis, cuaca lebih banyak dikendalikan oleh konveksi lokal dan siklus hujan. Karena itu, suhu panas di Indonesia umumnya muncul saat matahari tampak bergerak lebih dekat ke wilayah selatan atau saat awan berkurang, bukan karena massa udara panas terperangkap dalam sistem atmosfer besar seperti di Eropa.
Perbedaan inilah yang membuat angka suhu tinggi di Indonesia tidak otomatis berarti heatwave seperti di benua Eropa. Meski demikian, BMKG mengingatkan perubahan iklim tetap menjadi ancaman yang perlu diwaspadai karena dapat mengubah pola cuaca di banyak wilayah, termasuk kawasan tropis.
Source: www.beritasatu.com






