Banjir musiman di kawasan tropis tidak selalu menjadi tanda kerusakan lingkungan. Dalam ekosistem lahan basah tropis, naik-turunnya muka air justru dapat menjaga cadangan air, habitat, dan produktivitas hayati.
Rawa, sungai, dan danau dataran banjir bekerja sebagai satu sistem yang saling terhubung. Saat hujan meningkatkan limpasan, kawasan ini dapat menahan air sebelum melepaskannya perlahan pada musim yang lebih kering.
Denyut Banjir yang Menjaga Ekosistem
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Prof. Hidayat, menjelaskan bahwa lahan basah dataran banjir merupakan bagian penting dari sistem hidrologi global. Kawasan tersebut berfungsi sebagai penyimpan air alami, penyangga banjir, sekaligus ruang hidup bagi beragam flora dan fauna.
Menurut Hidayat, genangan musiman tidak hanya memindahkan air dari sungai ke daratan. Proses itu juga mengatur pertukaran sedimen, nutrien, dan organisme antara sungai dengan dataran banjir di sekitarnya.
“Dalam sistem tropis, banjir musiman tidak selalu dipandang sebagai gangguan, tetapi sebagai mekanisme ekologis yang mengatur ritme kehidupan,” kata Hidayat dalam orasi ilmiah bertajuk Dinamika dan Mekanisme Sistem Hidrologi Lahan Basah Dataran Banjir Tropis di Jakarta. Pandangan ini sejalan dengan konsep flood pulse, yaitu denyut banjir sebagai bagian alami dari siklus kehidupan ekosistem perairan.
Sungai, Rawa, dan Danau Tidak Bisa Dipisahkan
Riset BRIN di daerah aliran sungai Mahakam dan Kapuas menggunakan pendekatan connected hydrology. Pendekatan ini menempatkan sungai, rawa, dan danau sebagai satu kesatuan ketika menelaah pergerakan serta penyimpanan air.
Di Mahakam bagian tengah, sekitar 30 danau berperan meredam puncak ketinggian air. Peran tersebut berlangsung melalui siklus pengisian dan pengosongan danau seiring perubahan kondisi air sepanjang musim.
Air yang tertahan di danau dan rawa tidak langsung hilang dari sistem. Simpanan itu dapat dilepaskan kembali secara bertahap, sehingga lahan basah membantu menjaga ketersediaan air ketika periode kering datang.
Teknologi untuk Membaca Perubahan Air
Penelitian memadukan survei lapangan, analisis spasial, dan pemodelan proses untuk memantau perubahan genangan. Kombinasi ini dipakai untuk memahami interaksi antara sungai dan dataran banjir dalam ruang maupun waktu.
| Metode Pemantauan | Peran dalam Riset |
|---|---|
| Seri citra radar | Mengidentifikasi genangan di perairan terbuka dan kawasan bervegetasi. |
| Radar altimetri SAR | Memantau tinggi muka air serta perubahan volume danau banjiran. |
| Artificial Neural Network | Memprediksi debit sungai yang dipengaruhi pasang surut dan merekonstruksi data hilang. |
Seri citra radar dapat mendeteksi genangan, termasuk pada area yang tertutup vegetasi. Teknologi tersebut juga membantu memetakan frekuensi dan perubahan genangan tahunan maupun musiman.
Penginderaan jauh yang dipadukan dengan radar altimetri SAR membuka peluang pemantauan tinggi muka air dalam cakupan yang lebih luas. Sementara itu, Artificial Neural Network atau ANN digunakan untuk memperkirakan debit sungai yang dipengaruhi pasang surut.
Danau Sentarum dan Tekanan terhadap Ketahanan Air
Temuan di Danau Sentarum menunjukkan bahwa perubahan hidrologi berkaitan erat dengan sedimen, nutrien, produktivitas habitat, migrasi, dan keragaman biota. Danau Sentarum merupakan salah satu situs Ramsar di Indonesia yang menjadi bagian penting dalam kajian lahan basah tersebut.
Hasil riset juga memperlihatkan bahwa konsep flood pulse dari kajian sungai besar seperti Amazon dan Kongo dapat diterapkan secara kuantitatif di Indonesia. Fluktuasi air musiman dengan demikian memiliki arti ekologis yang dapat diukur, bukan sekadar perubahan pada permukaan air.
Di sisi lain, lahan basah tropis rentan terhadap perubahan lingkungan dan tekanan aktivitas manusia. Dampaknya dapat berupa fluktuasi muka air yang ekstrem, putusnya konektivitas dengan dataran banjir, hingga berkurangnya kapasitas penyimpanan air.
BRIN menilai konektivitas lateral antara sungai, rawa, dan badan air dataran banjir menjadi mekanisme mendasar bagi fungsi ekosistem. Keterhubungan ini berpengaruh pada siklus air, produktivitas hayati, mitigasi bencana hidrometeorologi, dan konservasi keanekaragaman hayati.







