Sebuah cincin emas berusia sekitar 2.000 tahun yang ditemukan di Thailand bagian barat memunculkan petunjuk langka tentang hubungan kawasan ini dengan budaya India kuno. Ukiran pada permukaannya diduga memakai aksara Brahmi dan mungkin terkait dengan identitas maupun kepercayaan pemiliknya.
Cincin itu ditemukan bersama satu rangka manusia, sehingga nilainya tidak hanya terletak pada bahan emasnya. Konteks makam memberi arkeolog kesempatan untuk membaca status sosial serta latar budaya orang yang pernah mengenakannya.
Ukiran yang Mengarah ke Pushya
Tim ahli menilai karakter pada salah satu cincin kemungkinan merupakan aksara Brahmi, salah satu sistem tulisan kuno dari India. Pembacaan awal mengarah pada kata “pusarakhitasa”, yang dimaknai sebagai “yang dilindungi oleh Pushya”.
Pushya dikenal sebagai salah satu rasi bintang yang dianggap paling mujur dalam astronomi India. Karena itu, ukiran tersebut berpotensi mencerminkan harapan, keyakinan, atau penanda identitas yang penting bagi pemilik cincin pada masa lalu.
Arkeolog belum dapat memastikan siapa orang yang dimakamkan bersama dua cincin tersebut. Namun, sejumlah ahli menduga pemiliknya mungkin seorang pedagang dari kasta Vaishya dalam masyarakat India kuno.
Dugaan itu masih berupa penilaian awal dan memerlukan penelitian lanjutan. Meski demikian, keberadaan tulisan yang berhubungan dengan tradisi India memberi konteks kuat bagi kemungkinan hubungan budaya dan aktivitas perdagangan pada periode tersebut.
Dua Cincin dalam Satu Makam
Penemuan itu mencakup dua cincin emas dengan karakter berbeda. Salah satunya berukir, sedangkan cincin lainnya memiliki bentuk lebih sederhana tanpa tulisan pada permukaannya.
| Temuan | Ciri Utama | Konteks |
|---|---|---|
| Cincin emas berukir | Diduga memuat aksara Brahmi dan tulisan “pusarakhitasa” | Ditemukan bersama rangka manusia |
| Cincin emas polos | Tidak memiliki ukiran | Ditemukan dalam makam yang sama |
Keberadaan kedua benda di satu konteks pemakaman menjadi bagian penting dalam penafsiran arkeologis. Cincin polos juga dapat membantu peneliti memahami kumpulan perhiasan yang menyertai individu tersebut, meski tidak menyimpan tulisan seperti cincin pertama.
Temuan ini berasal dari situs arkeologi Don Yai Thong di Provinsi Phetchaburi, sekitar 130 kilometer di barat daya Bangkok. Lokasi tersebut diperkirakan berasal dari periode prasejarah akhir Thailand atau Zaman Besi.
Makam yang Diduga untuk Kelompok Elite
Usia situs Don Yai Thong diperkirakan berada pada rentang 1.500 hingga 2.500 tahun. Perkiraan itu sejalan dengan usia sekitar 2.000 tahun yang dilekatkan pada dua cincin emas tersebut.
Departemen Kesenian Thailand menyatakan kedua cincin ditemukan pada awal Juli di lokasi yang sama dengan satu rangka manusia. Sejak Februari, penggalian di situs itu telah menemukan delapan rangka manusia beserta beragam benda pendukung.
Artefak yang ditemukan meliputi perhiasan emas dan perunggu, tembikar, serta benda-benda lain. Kumpulan temuan tersebut membuat area itu diduga pernah digunakan sebagai pemakaman seremonial bagi orang kaya atau anggota kelas atas pada masanya.
Penggalian di Don Yai Thong bermula setelah warga menemukan pecahan drum perunggu kuno di area persawahan. Penemuan awal itu kemudian mendorong penelitian lebih luas untuk mengungkap fungsi dan sejarah situs tersebut.
Jejak Pertukaran Budaya di Thailand Barat
Ukiran yang diduga menggunakan aksara Brahmi menjadikan cincin ini lebih dari sekadar perhiasan makam. Benda kecil tersebut dapat menyimpan bukti mengenai pertemuan tradisi lokal Thailand dengan pengaruh budaya India pada masa lampau.
Hubungan itu belum otomatis menjawab asal-usul pemilik cincin atau alasan benda tersebut dikuburkan bersamanya. Penelitian yang masih berlangsung akan menentukan seberapa jauh pembacaan tulisan, konteks makam, dan artefak lain dapat menjelaskan pertanyaan tersebut.
Departemen Kesenian Thailand berencana memamerkan artefak hasil penggalian kepada publik setelah penelitian berjalan lebih lanjut. Untuk saat ini, cincin berukir itu tetap menjadi salah satu petunjuk paling menarik dari Don Yai Thong tentang manusia yang pernah hidup dan dimakamkan di sana.







