Proyek LNG Abadi di Blok Masela diproyeksikan memberi penerimaan langsung bagi negara hingga US$37,8 miliar, atau sekitar Rp680 triliun. Nilai itu menempatkan proyek gas di Laut Arafura sebagai salah satu investasi energi terbesar yang diharapkan menggerakkan ekonomi Indonesia Timur.
Dampaknya tidak hanya diarahkan ke penerimaan fiskal, tetapi juga ke penyerapan tenaga kerja di Maluku dan wilayah sekitarnya. Pada masa konstruksi, proyek ini diperkirakan membutuhkan sekitar 12.000 pekerja langsung.
Peluang Kerja untuk Tenaga Lokal
Pemerintah menyiapkan prioritas bagi tenaga profesional dari daerah untuk terlibat dalam proyek tersebut. Ketika fasilitas memasuki masa operasi, kebutuhan tenaga kerja diproyeksikan berada di kisaran 800 hingga 1.000 orang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah menyepakati langkah persiapan sumber daya manusia setempat. Sejumlah anak daerah telah dikirim mengikuti pendidikan khusus di Cepu, termasuk di Politeknik Energi dan Mineral Akamigas milik Kementerian ESDM.
“Dan mereka semuanya akan kita serap untuk bekerja di proyek Blok Masela, Proyek LNG Abadi Masela,” kata Bahlil saat menyampaikan rencana penyerapan peserta pendidikan tersebut. Ia menegaskan tenaga profesional dari daerah akan diprioritaskan sebelum kebutuhan tambahan dipenuhi dari wilayah lain atau luar negeri.
Prioritas itu disebut berlaku bagi tenaga profesional kelompok tier satu dan tier dua. Pemerintah juga meminta pengusaha lokal mendapat kesempatan lebih besar untuk mendukung pembangunan proyek agar manfaat investasi berputar di Maluku.
Nilai Ekonomi Proyek Abadi Masela
Bahlil menyampaikan proyeksi ekonomi tersebut saat groundbreaking proyek LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7). Lokasi proyek berada sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena.
Selain penerimaan langsung bagi negara, proyek ini diperkirakan menyumbang pajak tidak langsung senilai US$6,43 miliar. CNN Indonesia melaporkan angka tersebut setara sekitar Rp115,74 triliun per tahun setelah groundbreaking.
| Komponen | Proyeksi | Keterangan |
|---|---|---|
| Penerimaan langsung negara | US$37,8 miliar | Sekitar Rp680 triliun |
| Pajak tidak langsung | US$6,43 miliar | Sekitar Rp115,74 triliun per tahun setelah groundbreaking |
| Investasi proyek | US$20,9 miliar | Sekitar Rp352 triliun |
| Kapasitas LNG | 9,5 juta ton per tahun | Rancangan produksi Lapangan Abadi |
Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai US$20,9 miliar atau sekitar Rp352 triliun. Pemerintah berharap investasi tersebut menjadi katalis bagi pertumbuhan industri, penerimaan negara, dan munculnya aktivitas ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
Cadangan Gas dan Pasokan Industri
Lapangan Abadi memiliki potensi cadangan gas hingga 18,54 triliun kaki kubik atau TCF. Proyek Strategis Nasional ini dirancang untuk menghasilkan 9,5 juta ton gas alam cair atau LNG setiap tahun.
Produksi dari lapangan tersebut juga disiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri domestik. Pasokan gas bagi industri dalam negeri diproyeksikan mencapai sekitar 150 juta kaki kubik gas per hari.
Selain LNG dan gas pipa, Lapangan Abadi dirancang memproduksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari. Rancangan produksi itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan energi nasional dari wilayah Laut Arafura.
Konsorsium Pengelola
Blok Masela dikelola oleh konsorsium yang dipimpin INPEX Masela Ltd dengan kepemilikan 65 persen. Pertamina Hulu Energi memiliki 20 persen saham, sementara Petronas Masela Sdn. Bhd. memegang 15 persen.
Presiden Prabowo Subianto telah melakukan peletakan batu pertama proyek LNG Abadi Masela sebagai penanda dimulainya tahapan pembangunan. Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai pengembangan gas yang diharapkan memperkuat ketahanan energi sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi Maluku.
