BI Rate Naik 5,50 Persen, Dana Asing Bisa Lebih Dulu Masuk ke Obligasi

Author: Cung Media

Kenaikan BI Rate ke 5,50 persen membuka peluang masuknya dana asing ke pasar keuangan domestik, tetapi arus itu diperkirakan tidak langsung mengalir ke saham. Investor global dinilai lebih dulu akan melirik obligasi pemerintah karena respons pasar surat utang biasanya muncul lebih cepat saat suku bunga naik.

Di saat yang sama, kebijakan Bank Indonesia itu juga ditujukan untuk menahan pelemahan rupiah. Pasar kemudian membaca sinyal ini sebagai upaya menjaga stabilitas, sekaligus memberi ruang bagi aset rupiah kembali terlihat menarik di mata investor asing.

Obligasi Jadi Pintu Awal

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menilai peluang dana asing masuk masih terbuka. Namun, ia menegaskan perpindahan modal biasanya berjalan bertahap karena pasar keuangan bereaksi melalui siklus likuiditas.

Menurut Faris, instrumen yang paling awal merespons adalah obligasi pemerintah. Ketika BI menaikkan suku bunga, yield obligasi ikut naik dan membuat imbal hasilnya lebih kompetitif bagi investor asing.

Karena itu, bond market berpotensi menjadi tempat pertama yang menyerap arus dana baru sebelum efek positifnya merambat ke pasar saham. Jika likuiditas membaik, sentimen di bursa bisa ikut terdorong.

Valuasi Saham Ikut Menyesuaikan

Kenaikan BI Rate juga memaksa pasar menilai ulang harga wajar saham. Faris menjelaskan, suku bunga yang lebih tinggi menaikkan discount rate dalam perhitungan valuasi, sehingga nilai kini dari arus kas dan keuntungan masa depan menjadi lebih rendah.

Dampaknya, saham yang sebelumnya terlihat murah bisa berubah tampak lebih mahal. Revaluasi seperti ini biasanya membuat ruang kenaikan harga saham menjadi lebih terbatas dibandingkan saat suku bunga rendah.

Investor pun cenderung menjadi lebih selektif. Emiten dengan fundamental kuat, arus kas sehat, dan tingkat utang rendah berpeluang lebih disukai ketimbang saham yang sangat bergantung pada pembiayaan murah.

Banking Diuntungkan, Properti Tertekan

Di tengah penyesuaian tersebut, sektor perbankan diperkirakan menjadi penerima manfaat utama. Kenaikan BI Rate berpotensi mendorong Net Interest Margin atau NIM bank karena bunga kredit biasanya menyesuaikan lebih cepat dibanding bunga simpanan.

Bank besar yang menjadi tulang punggung pasar saham juga berpotensi mendapat dorongan kinerja. Kondisi itu membuat sektor banking dinilai lebih tahan menghadapi kenaikan suku bunga dibanding sektor lain.

Sebaliknya, properti justru berisiko tertekan karena pembelian rumah masih banyak bergantung pada Kredit Pemilikan Rumah atau KPR. Ketika bunga naik, cicilan ikut membesar dan minat beli masyarakat bisa melemah.

Emiten dengan beban utang tinggi juga berada dalam tekanan yang sama. Kenaikan BI Rate menambah cost of capital dan beban bunga perusahaan, sehingga profitabilitas bisa tergerus dan ruang ekspansi menjadi lebih sempit.

Respons Pasar Sudah Muncul

Di pasar, respons terhadap keputusan bank sentral sudah terlihat. Pada hari yang sama dengan pengumuman kenaikan suku bunga acuan, IHSG melonjak 404 poin atau 7,57 persen ke level 5.747 saat perdagangan ditutup.

Rupiah juga menguat di pasar spot pada penutupan perdagangan Selasa. Mata uang Garuda terapresiasi 0,71 persen ke level Rp 18.058 per dolar Amerika Serikat, menandakan pasar masih sangat peka terhadap arah kebijakan moneter dan aliran dana asing.

Dengan kombinasi yield obligasi yang lebih menarik, rupiah yang bergerak lebih stabil, dan valuasi saham yang mulai disesuaikan, arus modal asing berpeluang kembali ke Indonesia secara bertahap. Namun, langkah awalnya kemungkinan besar tetap lewat obligasi sebelum bergerak lebih jauh ke saham.

Terbaru