Bentrokan di Second Thomas Shoal Menguji ASEAN, AS dan Australia Mengecam China

Author: Cung Media

Bentrokan antara personel Filipina dan China di Second Thomas Shoal memperbesar tekanan terhadap diplomasi ASEAN yang sedang bertemu di Manila. Insiden itu memicu kecaman dari Amerika Serikat dan Australia, sementara Manila serta Beijing menyampaikan versi yang saling bertentangan.

Ketegangan di perairan sengketa ini bukan hanya menyangkut konfrontasi antarkapal, melainkan juga menguji upaya menjaga stabilitas Laut China Selatan. Peristiwa tersebut berlangsung ketika sengketa maritim dan krisis Myanmar sama-sama membebani agenda kawasan.

Versi Berbeda atas Insiden di Laut

Filipina menyatakan seorang awak angkatan lautnya terkena pukulan tongkat kayu di kepala saat kapal China mendekati BRP Sierra Madre. Kapal perang yang telah lama dikandaskan itu digunakan Filipina sebagai pos militer di Second Thomas Shoal.

Menurut Angkatan Bersenjata Filipina, kapal Penjaga Pantai China yang membawa delapan personel datang untuk mengambil foto dan merekam video. Ketegangan kemudian meningkat ketika dua kapal karet Filipina berupaya mengusir kapal tersebut dari sekitar BRP Sierra Madre.

Manila menyerukan Beijing agar menghentikan tindakan yang dinilainya ilegal, koersif, agresif, dan menyesatkan di perairan yang disebut Filipina sebagai Laut Filipina Barat. Filipina juga meminta China mematuhi Putusan Arbitrase 2016 yang, menurut Manila, menegaskan hak maritimnya berdasarkan hukum internasional.

China membantah tuduhan tersebut dan menyatakan kapal Filipina mengabaikan peringatan serta mendekati kapal patroli China dengan cara berbahaya. Beijing menuduh personel Filipina lebih dahulu menggunakan dayung, tongkat kayu, dan peralatan lain untuk menyerang petugas penegak hukum China.

Pada Selasa, 21 Juli, Kementerian Luar Negeri China menyatakan telah memanggil Duta Besar Filipina untuk menyampaikan protes resmi. Beijing menyebut tindakan Manila di Ren’ai Reef, sebutan China untuk Second Thomas Shoal, sebagai provokasi dan serangan yang disengaja.

Reaksi Sekutu Filipina

Pihak Sikap Pernyataan Utama
Amerika Serikat Mengecam China Menilai tindakan terhadap personel Filipina berbahaya dan mengganggu stabilitas kawasan.
Australia Mengecam China Menyebut perilaku China membahayakan dan mengganggu stabilitas.
Filipina Menempuh langkah diplomatik Menegaskan kekerasan terhadap personel angkatan lautnya tidak dapat diterima.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan tindakan China terhadap personel angkatan laut Filipina di Second Thomas Shoal mengganggu stabilitas kawasan. Juru bicara Tommy Pigott mengatakan pola provokasi terhadap operasi maritim Filipina yang sah merusak perdamaian dan bertentangan dengan komitmen penyelesaian sengketa secara damai.

Australia juga menyampaikan kecaman melalui Menteri Luar Negeri Penny Wong. Ia menilai tindakan China sebagai perilaku yang membahayakan dan mengganggu stabilitas.

Klaim Maritim dan Taruhan bagi ASEAN

Filipina menempatkan Second Thomas Shoal di dalam zona ekonomi eksklusifnya yang membentang hingga 200 mil laut. Di sisi lain, China terus mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, meski putusan arbitrase internasional disebut menyatakan klaim itu tidak memiliki dasar hukum.

Pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Manila berlangsung bersama Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. Sebelum berangkat, Rubio menyatakan terbuka untuk bertemu Wang Yi di sela forum tersebut.

Dalam artikel opini di media Filipina, Rubio menekankan bahwa kebebasan navigasi di Asia Tenggara tidak dapat dianggap terjamin. Ia memperingatkan bahwa kendali perairan oleh kekuatan yang menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik dapat mengancam kedaulatan, keamanan, serta masa depan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara ASEAN.

Insiden terbaru juga menambah keraguan terhadap harapan tercapainya Code of Conduct antara ASEAN dan China di Laut China Selatan. Perundingan mengenai aturan perilaku itu dipandang penting karena sengketa tersebut terkait dengan keamanan, jalur perdagangan, dan kedaulatan sejumlah negara.

Di luar sengketa maritim, Myanmar tetap menjadi isu utama dalam forum ASEAN. Thailand kembali mendorong keterlibatan penuh Myanmar, sedangkan Malaysia masih menolak normalisasi hubungan tingkat tinggi selama penindasan di negara itu berlanjut.

Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan, “Yang terbaik adalah membawa Myanmar kembali ke dalam keluarga ASEAN.” Perbedaan pandangan mengenai Myanmar dan memanasnya situasi di Second Thomas Shoal memperlihatkan beratnya tantangan diplomasi yang dihadapi ASEAN di Manila.

Source: www.kompas.com
Terbaru