Rencana mencampur etanol ke bensin memasuki tahap yang lebih serius. Pemerintah menargetkan mandatori bensin E10 mulai dijalankan pada 2027, sementara Presiden Prabowo Subianto meminta pembangunan puluhan pabrik baru untuk mengejar kebutuhan pasokan.
Skala proyeknya besar karena Indonesia saat ini disebut baru memiliki satu pabrik etanol. Prabowo menyatakan jumlah fasilitas produksi perlu ditambah minimal menjadi 30 pabrik, bahkan dapat mencapai 50 pabrik bila diperlukan.
Mandatori E10 hingga E20 Disiapkan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut tahap awal kebijakan akan mencakup campuran etanol 10% sampai 20% dalam bensin. Artinya, pemerintah membuka jalan bagi penerapan Bensin E10 sekaligus kemungkinan pengembangan campuran E20.
Menurut Bahlil, mandatori etanol diproyeksikan mengikuti jejak program biodiesel yang telah lebih dahulu dikembangkan di sektor solar. Kebijakan tersebut menempatkan bioetanol sebagai bagian dari agenda bahan bakar nabati di dalam negeri.
“Nah arahan Bapak Presiden, etanol kita harus lakukan, maka mandatori kita akan lakukan 2027, tahap pertama 10% sampai dengan 20%, sehingga etanol ini akan bisa mengikuti jejak daripada biodiesel,” ujar Bahlil. Pernyataan itu disampaikan saat peluncuran B50 di Rest Area KM 57 Tol Japek, Karawang, Jawa Barat.
| Program | Komposisi | Status atau Arah |
|---|---|---|
| Biodiesel B50 | Solar dengan olahan minyak kelapa sawit | Telah diluncurkan |
| Bensin E10 | Bensin dengan 10% etanol | Tahap awal mandatori 2027 |
| Bensin E20 | Bensin dengan 20% etanol | Potensi pengembangan berikutnya |
Pasokan Menjadi Tantangan Utama
Penerapan campuran etanol dalam bensin tidak hanya bergantung pada perubahan formula bahan bakar di SPBU. Kebijakan ini juga membutuhkan kapasitas produksi Bioetanol yang besar dan pasokan bahan baku yang stabil.
Prabowo menekankan kebutuhan itu dalam pidatonya pada Panen Raya TNI dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia menilai pembangunan fasilitas baru perlu segera dilakukan karena kapasitas industri yang tersedia masih sangat terbatas.
“Butuh tadi pabriknya yang baru kita miliki baru 1 pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik etanol. Kalau perlu sampai 50 pabrik,” kata Prabowo.
Target pembangunan Pabrik Etanol tersebut menunjukkan bahwa mandatori E10 tidak dapat dipisahkan dari penguatan industri pengolahan di dalam negeri. Jumlah pabrik yang besar dibutuhkan agar pencampuran bensin dapat dijalankan secara lebih luas sesuai arah kebijakan pemerintah.
Tebu, Singkong, dan Jagung Masuk Perhitungan
Pemerintah melihat tebu, singkong, dan jagung sebagai komoditas yang dapat menopang pengembangan etanol. Ketiga bahan baku itu dinilai tumbuh subur di Indonesia dan berpeluang diolah untuk kebutuhan bahan bakar.
Pengembangan bahan baku direncanakan melibatkan Badan Pengelola Investasi Danantara, Pertamina, serta pihak swasta. Bahlil menyebut pengelolaan tebu, singkong, dan jagung akan dilakukan bersama oleh pihak-pihak tersebut.
Prabowo juga membandingkan ambisi Indonesia dengan negara lain yang telah menggunakan campuran etanol lebih tinggi. Ia menyebut India sudah menerapkan E20, sedangkan Brasil menggunakan E100.
“India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia nggak bisa. Indonesia bisa kan? Bisa? Bisa, bisa,” ujar Prabowo. Perbandingan itu menjadi penegasan bahwa pemerintah ingin mempercepat pemanfaatan sumber daya pertanian untuk bahan bakar.
Keberhasilan program ini pada akhirnya akan ditentukan oleh kesiapan pabrik baru dan ketersediaan bahan baku dalam jumlah memadai. Dua faktor tersebut menjadi fondasi agar target campuran bensin E10 hingga E20 dapat dijalankan sesuai rencana pada 2027.
