Harga saham BBNI dinilai sudah jatuh terlalu dalam, padahal kinerja bisnisnya masih menunjukkan tenaga yang kuat. Di tengah koreksi yang membuat valuasinya makin murah, KB Valbury Sekuritas tetap melihat saham bank pelat merah ini masih menarik untuk investor jangka panjang.
Penurunan harga saham lebih banyak dipandang sebagai dampak sentimen pasar dan faktor domestik, bukan pelemahan fundamental. Karena itu, BBNI masih dipertahankan sebagai saham dengan rekomendasi beli oleh KB Valbury.
Valuasi sudah masuk area murah
KB Valbury menilai BBNI kini diperdagangkan di price to book value sekitar 0,7 kali. Posisi itu disebut berada di bawah level minus dua standar deviasi, sehingga dinilai membuka ruang masuk yang cukup menarik.
Akhmad Nurcahyadi dari KBVS Research mengatakan penurunan saham BBNI sudah terlalu dalam dan tidak lagi mencerminkan kondisi perseroan. Dalam risetnya, ia menyebut, “Menurut kami, penurunan harga saham BBNI sudah terlalu dalam dan tidak lagi mencerminkan fundamental perseroan.”
| Indikator | Data BBNI | Keterangan |
|---|---|---|
| Koreksi harga saham | 24% year to date | Turun 34,9% dari level tertinggi |
| Price to Book Value | 0,7 kali | Di bawah minus dua standar deviasi |
| Target harga KB Valbury | Rp4.720 | Rekomendasi beli tetap dipertahankan |
Kinerja operasional masih solid
Di saat harga saham tertekan, laba bersih bank induk BBNI justru tumbuh 7,1 persen menjadi Rp9,05 triliun selama lima bulan pertama 2026. Capaian ini disebut sejalan dengan proyeksi KB Valbury maupun konsensus pasar.
Penyaluran kredit juga bergerak kencang dengan pertumbuhan 24,5 persen secara tahunan menjadi Rp940,88 triliun. Angka itu bahkan melampaui target pertumbuhan kredit perseroan tahun ini yang berada di kisaran 8-10 persen.
Pendanaan kuat, kualitas aset terjaga
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga BBNI naik 33,2 persen secara tahunan. Dana murah atau current account saving account (CASA) juga tumbuh 26,8 persen, dengan rasio CASA berada di level 68,3 persen.
KB Valbury menilai struktur pendanaan itu masih efisien untuk menopang bisnis bank. Di saat yang sama, cost of credit BBNI tercatat 0,9 persen, lebih baik dari target manajemen yang berada pada kisaran 1,0-1,2 persen.
“Fundamental BBNI masih sangat kuat. Pertumbuhan kredit melampaui target, kualitas aset tetap terjaga, dan biaya kredit berada di bawah panduan manajemen,” kata Akhmad.
Masih ada risiko yang perlu dipantau
Meski terlihat murah, saham BBNI tetap membawa sejumlah risiko yang tidak bisa diabaikan. KB Valbury menyoroti perlambatan pertumbuhan kredit, kenaikan biaya dana, tekanan terhadap net interest margin, dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Dengan kombinasi valuasi rendah dan fundamental yang masih kuat, BBNI kini berada di titik yang menarik sekaligus penuh kewaspadaan. Selama kinerja laba, kredit, dan pendanaan tetap solid, saham ini masih punya peluang bergerak lebih tinggi saat sentimen pasar membaik.
