Balita Obesitas Tak Boleh Diet Ketat, Dokter Soroti Jadwal Makan dan Camilan Manis

Author: Cung Media

Balita yang mengalami obesitas tidak dianjurkan menjalani diet ketat seperti orang dewasa. Pembatasan makan secara drastis dapat mengabaikan kebutuhan nutrisi anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.

Fokus penanganannya bukan membuat anak menahan lapar, melainkan mengatur asupan sesuai usia dan kebutuhan energinya. Pola makan yang lebih terarah, pilihan camilan, serta aktivitas fisik menjadi perhatian penting dalam tata laksana kondisi ini.

Diet ketat bukan pilihan untuk balita

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Kesehatan Anak Nutrisi dan Penyakit Metabolik RS Pondok Indah–Pondok Indah, Dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A, Subsp.N.P.M, menegaskan penanganan obesitas pada anak perlu mempertimbangkan tumbuh kembangnya. Anak yang didiagnosis obesitas berdasarkan indeks massa tubuh tetap membutuhkan asupan gizi yang sesuai dengan tahap usianya.

“Anak masih berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan, sehingga diet ketat seperti orang dewasa tidak dapat diterapkan,” tegas Cut. Kebutuhan nutrisi balita berbeda dari orang dewasa, sehingga pengaturan makanan perlu dilakukan secara terukur.

Penilaian berat badan anak juga tidak cukup hanya mengandalkan angka pada timbangan. Usia dan tinggi badan perlu dilihat bersama untuk menggambarkan kebutuhan pertumbuhan serta energi anak sehari-hari.

Dalam contoh yang disampaikan Cut, anak berusia 3 tahun idealnya memiliki berat badan 14 kilogram dengan tinggi 95 sentimeter. Dengan ukuran tersebut, kebutuhan energinya umumnya mencapai 1.400 kilokalori per hari.

Angka kebutuhan energi itu menunjukkan bahwa anak tetap memerlukan kalori untuk beraktivitas dan bertumbuh. Karena itu, penanganan obesitas pada balita tidak boleh berujung pada pengurangan makan yang ekstrem.

Jadwal makan perlu lebih teratur

Langkah utama yang dianjurkan adalah membentuk pola makan anak menjadi tiga kali sehari. Jadwal tersebut perlu diterapkan tepat waktu agar rutinitas makan anak lebih terarah.

Pengaturan jadwal membantu orang tua menyesuaikan asupan anak dengan kebutuhannya. Pendekatan ini berbeda dari pembatasan ketat yang berisiko membuat kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi.

Durasi setiap waktu makan juga perlu diperhatikan. Cut menyarankan waktu makan tidak berlangsung lebih dari 30 menit.

Pembatasan durasi makan bertujuan menjaga kegiatan makan tetap teratur dalam rutinitas harian anak. Aturan ini dapat diterapkan sebagai bagian dari diet anak balita tanpa menghilangkan kebutuhan gizinya.

Selain jadwal makan utama, makanan selingan juga perlu menjadi perhatian. Camilan berkandungan gula tinggi dianjurkan untuk dihindari karena dapat menambah asupan energi anak di luar waktu makan utama.

Pilihan camilan penting karena anak dapat memperoleh tambahan energi dari makanan yang dikonsumsi di sela jadwal makan. Orang tua perlu memperhatikan jenis makanan selingan agar pengaturan asupan harian tetap sesuai kebutuhan anak.

Asupan dan aktivitas perlu seimbang

Penanganan obesitas pada balita tidak hanya dilakukan melalui pengaturan makanan. Anak juga perlu diajak melakukan aktivitas fisik di luar rumah sebagai bagian dari tata laksana yang disarankan.

Aktivitas fisik perlu diperhatikan bersamaan dengan pola makan yang teratur. Keseimbangan antara makanan yang dikonsumsi dan kegiatan anak sehari-hari menjadi bagian penting dalam penanganannya.

Ketika anak telah didiagnosis obesitas berdasarkan indeks massa tubuh, kebutuhan kalori perlu disesuaikan dengan usia. Penyesuaian kebutuhan kalori anak dilakukan agar energi untuk pertumbuhan tetap terpenuhi tanpa menerapkan diet ketat yang tidak sesuai bagi balita.

Pengaturan makan tiga kali sehari, durasi makan maksimal 30 menit, penghindaran camilan tinggi gula, dan aktivitas di luar rumah menjadi langkah yang disarankan. Seluruh pendekatan tersebut menempatkan kebutuhan tumbuh kembang anak sebagai pertimbangan utama.

Terbaru