Risiko kesehatan di usia produktif menunjukkan pola yang berbeda tajam antara pekerja laki-laki dan perempuan. Penyakit kardiovaskular menjadi keluhan dengan proporsi tertinggi pada laki-laki, sementara neoplasma atau kanker paling banyak tercatat pada perempuan.
Perbedaan tersebut penting karena sejumlah penyakit dapat berkembang tanpa keluhan berat pada tahap awal. Pemeriksaan berkala dan perhatian terhadap perubahan kondisi tubuh menjadi langkah untuk mengenali risiko lebih cepat.
Stres Turut Memengaruhi Kondisi Tubuh
Kesehatan pekerja tidak hanya dipengaruhi aktivitas fisik, melainkan juga kondisi psikologis. Dokter umum Irwan Heriyanto mengingatkan bahwa stres yang berlangsung lama dapat memicu perubahan hormon dan menurunkan daya tahan tubuh.
Daya tahan tubuh yang menurun dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami berbagai gangguan kesehatan. Karena itu, upaya menjaga kesehatan di tempat kerja perlu mencakup perhatian pada beban aktivitas, kebiasaan harian, serta kondisi mental.
Irwan juga menekankan agar keluhan yang berulang atau tidak membaik meski sudah beberapa kali berobat tidak diabaikan. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lanjutan agar penyebabnya dapat diketahui.
Peta Keluhan Menurut Kelompok Pekerja
Laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 memetakan kelompok penyakit yang paling banyak dialami pekerja di Indonesia. Data itu memperlihatkan dominasi keluhan yang berbeda pada masing-masing kelompok pekerja.
| Kelompok Pekerja | Keluhan Kesehatan | Proporsi |
|---|---|---|
| Laki-laki | Penyakit kardiovaskular | 81% |
| Laki-laki | Penyakit muskuloskeletal | 68% |
| Perempuan | Neoplasma atau kanker | 72% |
| Perempuan | Cedera atau trauma | 48% |
| Perempuan | Penyakit menular dan gangguan pencernaan | 48% |
Pada pekerja laki-laki, penyakit kardiovaskular tercatat dengan proporsi 81%. Gangguan muskuloskeletal berada di urutan berikutnya dengan proporsi 68%.
Irwan mengaitkan tingginya keluhan jantung dan muskuloskeletal pada laki-laki dengan aktivitas fisik serta faktor risiko kesehatan. Kombinasi beban aktivitas dan gaya hidup yang kurang baik dapat terbentuk sejak usia produktif.
Menurut Irwan, kondisi tersebut umumnya mulai muncul pada rentang usia 30 hingga 49 tahun. Penjelasan itu disampaikan dalam konferensi pers Halodoc di Jakarta pada 16 Juli 2026.
Kanker Menjadi Perhatian pada Pekerja Perempuan
Pada kelompok perempuan, kanker pada perempuan tercatat sebagai keluhan utama dengan proporsi 72%. Kasus yang disorot terutama mencakup kanker payudara dan kanker rahim.
Faktor biologis, termasuk organ reproduksi dan pengaruh hormon, membuat perempuan memiliki faktor risiko yang berbeda dari laki-laki. Namun, risiko kanker tidak hanya berkaitan dengan hormon atau faktor biologis yang tidak dapat diubah.
Pola makan yang kurang sehat, paparan polusi, faktor lingkungan, dan riwayat kanker dalam keluarga juga dapat berkontribusi terhadap munculnya penyakit ini. Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan perlu mempertimbangkan risiko personal setiap individu.
Selain kanker, pekerja perempuan tercatat rentan terhadap cedera atau trauma dengan proporsi 48%. Penyakit menular dan gangguan pencernaan juga tercatat pada proporsi yang sama.
Deteksi Dini Perlu Menjadi Kebiasaan
Irwan menilai skrining berkala penting dilakukan, terutama untuk mendeteksi kanker sedini mungkin. Peluang keberhasilan pengobatan dinilai lebih besar ketika kanker ditemukan pada tahap awal dibandingkan setelah memasuki stadium lanjut atau menyebar ke organ lain.
Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan kesehatan pekerja tidak cukup bila hanya berfokus pada satu jenis penyakit. Pencegahan dan pemeriksaan rutin perlu disesuaikan dengan faktor biologis, kebiasaan, lingkungan, serta keluhan yang dihadapi setiap orang.
Source: lifestyle.bisnis.com






