Biaya Kesehatan Karyawan Diproyeksi Naik 15,1 Persen, Penyakit Ringan Jadi Risiko Mahal

Biaya kesehatan karyawan di Indonesia diproyeksikan meningkat 15,1 persen pada 2026, lebih tinggi dari rata-rata global yang berada di level 14 persen. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan proyeksi kenaikan biaya kesehatan tertinggi kelima di Asia Pasifik.

Tekanan biaya tersebut tidak hanya datang dari penyakit kronis yang membutuhkan perawatan panjang. Keluhan yang semula ringan, seperti infeksi saluran pernapasan, dapat menjadi beban lebih mahal ketika pekerja menunda pemeriksaan dan pengobatan.

Risiko Kesehatan Tidak Sama di Setiap Usia

Laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 dari Halodoc for Business memetakan perubahan risiko kesehatan berdasarkan usia pekerja. Analisis itu dihimpun dari lebih dari 1 juta transaksi layanan kesehatan dan lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 pada kuartal pertama 2026.

Data dari lebih dari 30 sektor industri tersebut menunjukkan pergeseran risiko, dari penyakit infeksi yang banyak muncul pada pekerja muda menuju penyakit kronis pada kelompok usia lebih tua. Karena itu, program kesehatan perusahaan dinilai perlu disusun berdasarkan profil risiko, bukan menggunakan pendekatan yang sama untuk seluruh karyawan.

Kelompok UsiaRisiko yang MenonjolDampak Utama
Usia mudaISPAKeluhan paling sering muncul
30-49 tahunGangguan muskuloskeletalMasalah otot dan tulang mulai mendominasi
50 tahun ke atasPenyakit kardiovaskular dan kankerPenyumbang biaya kesehatan terbesar

Pada kelompok usia muda, ISPA menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan dalam layanan kesehatan karyawan. Sementara pekerja berusia 30 hingga 49 tahun lebih banyak menghadapi gangguan muskuloskeletal yang berkaitan dengan otot dan tulang.

Risiko yang paling mahal muncul pada kelompok usia 50 tahun ke atas. Penyakit kardiovaskular dan kanker menjadi penyumbang biaya kesehatan terbesar bagi kelompok pekerja tersebut.

Perbedaan Risiko Berdasarkan Jenis Kelamin

Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, menyebut terdapat perbedaan pola penyakit berdasarkan jenis kelamin. Sebanyak 81 persen pasien penyakit kardiovaskular merupakan laki-laki, sedangkan 72 persen pasien kanker adalah perempuan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kebutuhan skrining tidak dapat diseragamkan. Perusahaan perlu mengetahui kondisi dominan pada kelompok pekerjanya agar intervensi kesehatan dapat diarahkan ke risiko yang paling relevan.

Keluhan Ringan yang Terlambat Ditangani

Dalam layanan rawat jalan, ISPA tercatat sebagai diagnosis yang paling banyak ditangani. Untuk rawat inap, infeksi saluran pencernaan menjadi penyebab yang paling sering membuat pekerja harus dirawat di rumah sakit.

Kedua kondisi tersebut disebut dapat dicegah melalui langkah kesehatan yang relatif sederhana. Namun, akses layanan yang belum mudah membuat sebagian pekerja memilih menunda konsultasi ketika gejala pertama muncul.

Penundaan itu dapat membuat keluhan awal berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Dampaknya tidak hanya terlihat pada biaya pengobatan, tetapi juga pada durasi perawatan dan produktivitas tenaga kerja yang berkurang.

Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, menilai pengelolaan kesehatan karyawan di banyak perusahaan masih bersifat reaktif. Menurutnya, pemahaman atas profil risiko menjadi dasar untuk membangun strategi kesehatan yang lebih tepat sasaran.

Telemedicine Menekan Kebutuhan Kunjungan Langsung

Halodoc mencatat layanan telemedicine menangani sekitar 24 persen dari seluruh kasus kesehatan, tetapi hanya menyerap 8 persen dari total biaya layanan kesehatan. Lebih dari 95 persen kasus digital dapat diselesaikan tanpa kunjungan langsung ke fasilitas kesehatan dalam 30 hari setelah konsultasi.

Data tersebut menunjukkan konsultasi digital dapat memberi akses penanganan lebih cepat bagi pekerja. Akses awal yang lebih mudah juga dapat membantu mencegah kondisi kesehatan memburuk akibat keterlambatan pemeriksaan.

Pada pasien penyakit kronis, penggunaan layanan Digital Cashless Outpatient atau DCO disebut mampu menekan biaya pengobatan hingga 66,4 persen dalam 90 hari. Perbandingan itu berlaku terhadap pasien yang tidak menggunakan layanan digital tersebut.

Ekosistem Halodoc for Business mencakup konsultasi dokter 24 jam, DCO, pengiriman obat, pengelolaan administrasi dan klaim, serta pendampingan pasien melalui HaloAssist. Perusahaan juga memakai HILDA atau Halodoc Intelligent Digital Assistant untuk verifikasi kepesertaan, pemantauan tagihan medis, dan validasi klaim otomatis.

Teknologi AI tersebut diklaim dapat menekan biaya pengelolaan klaim kesehatan hingga 18 persen. Penggunaan data dan layanan digital menjadi salah satu cara bagi perusahaan untuk mengarahkan anggaran kesehatan pada risiko yang paling membutuhkan penanganan.

Source: www.suara.com
Terkait