Anak Rumah Baca Riang Menulis Dongeng AR, Literasi Bertemu Teknologi di Bangil

Pelatihan menulis dongeng berbasis Augmented Reality di Rumah Baca Riang Education, Bangil, menghadirkan cara baru mengenalkan literasi kepada anak-anak. Kegiatan ini tidak hanya mendorong mereka menulis cerita, tetapi juga mengaitkan kebiasaan baik, karakter, dan teknologi digital dalam satu proses belajar yang dekat dengan dunia anak.

Program tersebut digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat skema PKM EDU UPN “Veteran” Jawa Timur bersama Rumah Baca Riang Education di Kelurahan Latek, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat budaya baca di ruang literasi nonformal yang selama ini menjadi tempat anak-anak belajar dan bercerita.

Literasi yang Dibuat Lebih Dekat dengan Anak

Fokus pelatihan ini bukan sekadar mengajak anak menulis, tetapi juga mengenalkan nilai karakter melalui aktivitas yang mereka pahami. Tema yang diusung adalah pelatihan pengembangan cerita dongeng berbasis Augmented Reality sebagai media implementasi Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Tim pelaksana melihat kebutuhan penguatan literasi dan pendidikan karakter dari kebiasaan membaca anak-anak di rumah baca tersebut. Minat mereka terhadap membaca dan bercerita cukup tinggi, namun koleksi bacaan yang tersedia masih didominasi buku cetak konvensional.

Kondisi itu mendorong hadirnya media pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif. Pendekatan berbasis teknologi dipilih agar kegiatan literasi tetap relevan dengan perkembangan era digital.

Anak Menulis dari Pengalaman Sehari-hari

Kegiatan dibuka dengan sambutan mitra lalu dilanjutkan Senam Anak Indonesia Hebat untuk membangun suasana yang lebih hidup. Setelah itu, peserta masuk ke sesi materi yang disusun agar mudah dipahami anak-anak.

Zahro Rokhmawati, dosen Program Studi Linguistik UPN “Veteran” Jawa Timur, memaparkan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Tujuh kebiasaan itu meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat.

Materi disampaikan secara interaktif agar peserta bisa mengaitkan kebiasaan tersebut dengan aktivitas sehari-hari. Cara ini membuat diskusi lebih aktif dan memberi ruang bagi anak-anak untuk berbagi pengalaman.

Pada sesi berikutnya, Kingkin Puput Kinanti mengajak peserta menulis dongeng menggunakan worksheet yang telah disiapkan. Anak-anak memilih salah satu dari tujuh kebiasaan sebagai tema cerita, lalu menyusun tokoh, alur, konflik, hingga pesan moral.

Dongeng Dipadukan dengan Augmented Reality

Mahimma Romadhona kemudian memperkenalkan buku cerita anak berbasis Augmented Reality. Dengan teknologi ini, ilustrasi pada buku bisa dipindai menggunakan gawai dan menampilkan objek digital yang membuat cerita terasa lebih hidup.

Pendekatan tersebut dirancang agar membaca menjadi pengalaman yang lebih interaktif dan menarik bagi anak. Inovasi ini juga diarahkan untuk meningkatkan minat baca sekaligus mengenalkan pemanfaatan teknologi digital secara positif di dunia literasi.

Sepanjang kegiatan, anak-anak terlihat aktif menyampaikan ide cerita, berdiskusi, dan berbagi pengalaman tentang kebiasaan baik yang mereka lakukan setiap hari. Nilai karakter tidak hanya dikenalkan lewat penjelasan, tetapi juga diwujudkan dalam karya dongeng yang mereka susun sendiri.

Tokoh KegiatanPeranFokus Materi
Zahro RokhmawatiDosen Program Studi Linguistik UPN “Veteran” Jawa TimurGerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Kingkin Puput KinantiPemateriMenulis dongeng dengan worksheet
Mahimma RomadhonaPemateriBuku cerita anak berbasis Augmented Reality

Tujuh Dongeng Terbaik Akan Dipilih

Program ini tidak berhenti pada sesi pelatihan. Tim PKM EDU menjadwalkan pendampingan lanjutan pada awal Agustus 2026 untuk menyeleksi dan menyempurnakan karya peserta.

Sebanyak tujuh dongeng terbaik akan dipilih dan masing-masing mewakili satu tema dari Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Karya terpilih itu nantinya akan diilustrasikan, dibukukan, dan dilengkapi fitur Augmented Reality.

Buku hasil karya anak-anak tersebut diharapkan menjadi koleksi Rumah Baca Riang Education sekaligus media pembelajaran karakter yang inovatif. Keterlibatan dosen dari UPN “Veteran” Jawa Timur dan Universitas Insan Budi Utomo Malang juga menunjukkan kolaborasi lintas kampus dalam mendorong lahirnya penulis cilik yang kreatif.

Tim PKM EDU diketuai Zahro Rokhmawati dengan anggota Mahimma Romadhona dan Kingkin Puput Kinanti. Mitra kegiatan ini adalah Rumah Baca Riang Education yang dikelola Wiwit Istighfarini, dengan target akhir membentuk generasi muda yang sehat, berkarakter, gemar belajar, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Rencana LanjutanDetailHasil yang Ditargetkan
PendampinganAwal Agustus 2026Seleksi dan penyempurnaan karya
Seleksi karya7 dongeng terbaikMewakili 7 tema kebiasaan
PublikasiDiilustrasikan, dibukukan, dan diberi fitur ARKoleksi Rumah Baca Riang Education

Source: jurnalpost.com

Terkait