
Alarm hantavirus yang kembali mencuat dari kasus di kapal pesiar MV Hondius bukan hanya soal satu temuan penyakit menular. Peristiwa itu juga menyoroti celah lama yang masih membuat Indonesia rentan, yakni sanitasi lingkungan yang rapuh, populasi tikus yang sulit dikendalikan, dan kebiasaan hidup bersih yang belum merata.
Virus ini juga tidak menyebar seperti Covid-19 yang dapat menular antarmanusia secara luas. Hantavirus umumnya berpindah lewat paparan urine, air liur, atau kotoran tikus terinfeksi, sehingga risiko terbesarnya sangat terkait dengan kebersihan lingkungan.
Risiko yang tidak boleh diremehkan
Sorotan utama dalam kasus MV Hondius adalah hantavirus pulmonary syndrome atau HPS. Kementerian Kesehatan menyebut varian ini memiliki fatalitas global sekitar 60%, jauh lebih tinggi dibanding hantavirus hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS yang selama ini lebih umum ditemukan di Indonesia dengan fatalitas sekitar 5% hingga 15%.
CDC Amerika Serikat juga menempatkan HPS sebagai penyakit dengan tingkat kematian tinggi. Gejala awalnya kerap tampak ringan, seperti demam, nyeri otot, dan kelelahan, tetapi kondisi dapat memburuk cepat karena gangguan pernapasan akut.
Kondisi itu membuat deteksi dini menjadi sangat penting. Hingga kini belum ada pengobatan spesifik maupun vaksin yang efektif untuk HPS, sehingga pencegahan dan penanganan cepat menjadi kunci utama.
Pengawasan diperketat, laboratorium dipacu
Kementerian Kesehatan mulai mengaktifkan kembali langkah mitigasi yang terbangun dari pengalaman pandemi Covid-19. Salah satu fokusnya adalah memperkuat kapasitas laboratorium agar infeksi hantavirus bisa terdeteksi lebih cepat.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni mengatakan fasilitas pemeriksaan PCR dan ELISA terus dilengkapi. Dua metode ini penting untuk mendeteksi materi genetik virus dan antibodi dalam tubuh pasien.
Pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional juga diperketat melalui sistem digital kesehatan All Indonesia. Thermal scanner masih digunakan di pintu masuk internasional untuk mendeteksi penumpang yang menunjukkan demam atau gangguan pernapasan.
Jika ada indikasi penyakit menular tertentu, penumpang dapat langsung dirujuk ke rumah sakit rujukan pemerintah. Indonesia juga memiliki 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan yang bertugas mencegah masuknya penyakit menular dari luar negeri.
Masalah utamanya tetap di darat
Meski pengawasan administratif dan teknis diperkuat, para epidemiolog menilai akar masalah belum tersentuh maksimal. Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono menekankan bahwa pencegahan di level lingkungan jauh lebih penting daripada hanya mengandalkan pemeriksaan setelah kasus muncul.
Ia menyoroti tikus yang masih tersebar luas di banyak ruang hidup masyarakat, mulai dari pasar, rumah, kantor, restoran, hingga pusat perbelanjaan. Selama populasi tikus tidak dikendalikan, penyakit zoonosis akan terus punya peluang muncul.
Situasi itu berkaitan erat dengan sanitasi dan tata kelola lingkungan yang belum rapuh. Data World Bank menunjukkan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sanitasi dan sampah perkotaan, sementara akses sanitasi aman belum merata di kawasan padat penduduk dan daerah tertinggal.
Pandu juga menilai pengawasan fasilitas publik perlu lebih ketat, terutama di restoran, hotel, apartemen, dan pusat perbelanjaan. Dinas Kesehatan, menurut dia, perlu lebih aktif memantau sanitasi dapur dan kebersihan tempat umum.
Kelompok kerja berisiko perlu perlindungan lebih
Pekerja di lingkungan berisiko tinggi menjadi kelompok yang perlu perhatian khusus. Petugas kebersihan, pengelola sampah, pekerja saluran air, hingga pekerja pelabuhan disebut memiliki peluang lebih besar terpapar penyakit zoonosis berbasis rodent.
Untuk kelompok ini, Kementerian Kesehatan mengimbau penggunaan masker, boot, dan sarung tangan saat bekerja. Langkah sederhana itu penting karena kontak dengan area terkontaminasi bisa terjadi tanpa disadari.
Imbauan perilaku hidup bersih dan sehat juga kembali ditegaskan kepada masyarakat umum. Kebersihan rumah dan kawasan permukiman menjadi titik awal untuk menekan perkembangan tikus sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit.
Pelajaran kesiapsiagaan yang belum merata
Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia menilai sistem antisipasi penyakit menular memang membaik dibanding masa awal pandemi Covid-19. Namun, respons antarwilayah masih timpang dan belum benar-benar siap menghadapi ancaman baru secara merata.
Ketua Umum Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia Trubus Rahardiansah menyebut Jakarta dan kota-kota besar cenderung lebih siap dibanding banyak daerah lain, terutama wilayah 3T. Tantangan geografis Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau membuat pemerataan layanan dan surveilans kesehatan menjadi pekerjaan yang rumit.
Trubus juga menilai sistem kini lebih terintegrasi dan didukung anggaran deteksi dini yang lebih besar. Meski begitu, tantangan sosial dan budaya masyarakat masih besar, terutama soal kesadaran kesehatan yang belum seragam.
Alarm hantavirus pada akhirnya menunjukkan bahwa ancaman penyakit zoonosis tidak hanya ditentukan oleh mobilitas internasional. Kesehatan lingkungan, pengendalian tikus, dan disiplin sanitasi masih menjadi ujian panjang yang menentukan seberapa siap Indonesia menghadapi ancaman berikutnya.
Source: lifestyle.bisnis.com




