WHO Peringatkan Fatalitas Ebola Bisa Capai 50 Persen, Wabah Kongo Kian Mengkhawatirkan

Wabah Ebola jenis bundibugyo di Kongo dan Uganda kembali memicu kewaspadaan tinggi setelah WHO menilai tingkat fatalitasnya bisa mencapai 30 hingga 50 persen. Dalam perhitungan itu, organisasi kesehatan dunia memperingatkan bahwa lima dari setiap 10 pasien berpotensi meninggal.

Peringatan itu muncul di tengah situasi kasus yang masih bergerak dan belum menunjukkan tanda benar-benar reda. WHO menilai data yang ada belum cukup untuk memastikan apakah penularan sudah melewati puncaknya.

Kasus masih bertambah dan pengawasan diperketat

Hingga Kamis, Kongo mencatat 125 kasus terkonfirmasi dengan 17 kematian yang tersebar di 13 zona kesehatan. Angka ini membuat pemantauan tetap menjadi prioritas karena kasus baru masih mungkin ditemukan.

WHO juga menilai perluasan pengujian di masyarakat berpeluang mengungkap lebih banyak infeksi yang sebelumnya belum terdeteksi. Kondisi ini membuat gambaran wabah masih bisa berubah, terutama bila penelusuran kasus menjangkau wilayah yang lebih luas.

Pejabat teknis program kedaruratan kesehatan WHO, Anais Legand, mengatakan pengalaman dari wabah sebelumnya menunjukkan pola kematian yang tetap mengkhawatirkan. Ia menegaskan bahwa tingkat fatalitas itu sangat tinggi karena artinya hingga separuh pasien bisa meninggal.

Fokus perawatan sambil dorong vaksin

Di tengah situasi tersebut, WHO pada Kamis menerbitkan rekomendasi perawatan suportif untuk pasien Ebola. Langkah ini ditujukan untuk membantu penanganan klinis sambil mendorong pengembangan kandidat vaksin yang sedang dikaji.

WHO menyebut vaksin rekombinan dosis tunggal rVSV Bundibugyo sebagai kandidat yang paling menjanjikan. Vaksin yang dikembangkan International AIDS Vaccine Initiative itu diperkirakan memerlukan waktu sekitar tujuh hingga sembilan bulan untuk pengembangan.

Ada pula kandidat lain, ChAdOx1 Bundibugyo, yang dikembangkan University of Oxford bersama Serum Institute of India. Kandidat ini diperkirakan dapat tersedia dalam dua hingga tiga bulan untuk dievaluasi efektivitasnya melalui uji klinis.

Belum ada larangan perjalanan

Meski wabah masih dipantau ketat, WHO belum merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan dengan Uganda dan Kongo. Namun, kedua negara diminta menerapkan pemeriksaan ketat terhadap seluruh pelaku perjalanan.

Pendekatan itu menunjukkan fokus utama masih berada pada pengendalian risiko penularan tanpa menghentikan mobilitas lintas negara. Di saat yang sama, deteksi kasus, pengawasan kesehatan, dan kesiapan layanan medis menjadi kunci untuk menekan dampak wabah yang fatalitasnya dinilai bisa mencapai separuh dari total pasien.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button