7 Mitos Tentang Anjing Yang Masih Dipercaya, Dari Ekor Bergoyang Sampai Mulutnya “Bersih”

Author: Cung Media

Banyak anggapan tentang anjing terdengar masuk akal, tetapi tidak semuanya benar. Sejumlah mitos justru membuat pemilik salah membaca perilaku hewan peliharaan dan mengambil respons yang keliru.

Memahami fakta dasar tentang anjing penting untuk menjaga interaksi tetap aman dan tepat. Dari gerakan ekor sampai kebiasaan makan, ada tanda-tanda yang sering disalahartikan sebagai bahaya padahal tidak selalu demikian.

Ekor bergerak bukan jaminan anjing ramah

Gerakan ekor tidak selalu berarti anjing ingin menyapa. Menurut Nutrena World, ekor yang bergoyang cepat bisa menandakan kebahagiaan, kegembiraan, kewaspadaan, ketakutan, kecemasan, bahkan awal agresi.

Karena itu, bahasa tubuh anjing tidak boleh dibaca dari satu tanda saja. Anjing yang tidak dikenal sebaiknya tidak langsung didekati atau disentuh tanpa izin pemiliknya.

Warna yang dilihat anjing tidak hanya hitam dan putih

Anggapan bahwa anjing hanya melihat dunia dalam hitam putih masih sering dipercaya. Blue Cross menjelaskan bahwa anjing tetap bisa melihat berbagai warna, meski spektrum visualnya lebih sempit dibanding manusia.

Perbedaan itu berasal dari sel fotoreseptor yang tidak sama dengan milik manusia. Di sisi lain, penglihatan anjing tetap kuat dalam kondisi minim cahaya karena mereka memiliki lebih banyak batang di mata.

Hidung kering tidak otomatis berarti sakit

Banyak pemilik langsung cemas saat hidung anjing terasa hangat atau kering. Padahal, kondisi itu tidak selalu menjadi tanda penyakit.

Country Living menyebut hidung anjing sangat dipengaruhi cuaca dan kelembapan. Hidung panas dan kering memang bisa terkait demam, dehidrasi, atau mata kering, tetapi gejala lain seperti lesu, muntah, diare, perubahan aktivitas, dan nafsu makan tetap perlu diperhatikan.

Tidak semua anjing pandai berenang

Anjing sering dianggap dekat dengan air, tetapi itu tidak berarti semua ras bisa berenang dengan baik. Country Living menuliskan bahwa anjing dengan dada kuat dan tengkorak berat, seperti bulldog, mastiff, dachshund, dan boxer, bukan perenang yang baik.

Anak anjing juga membutuhkan pengawasan ekstra saat belajar berenang. Mereka lebih rentan terhadap hipertermia, sehingga pendampingan menjadi penting.

Mulut anjing tidak lebih bersih dari mulut manusia

Mitos tentang liur anjing sering muncul karena luka pada kulit kadang tampak membaik setelah dijilat. Namun, perbaikan itu terjadi karena jilatan membantu menghilangkan jaringan rusak dan merangsang aliran darah, bukan karena mulut anjing bersih.

Nutrena World mencatat kebanyakan anjing tidak menyikat gigi dua kali sehari. Laman yang sama juga menyebut 90 persen anjing di atas usia tiga tahun memiliki beberapa bentuk penyakit periodontal.

Kebiasaan makan rumput tidak selalu tanda sakit

Melihat anjing makan rumput memang sering membuat pemilik waspada. Ada anggapan kebiasaan itu muncul karena anjing ingin menyingkirkan sesuatu yang buruk atau karena kekurangan nutrisi, tetapi tidak ada penelitian yang jelas untuk klaim tersebut.

Blue Cross menjelaskan bahwa perilaku itu bisa muncul karena rumput terasa enak, terutama pada musim tertentu. Selama rumput tidak disemprot pestisida berbahaya dan anjing terlindungi dari cacing paru, kebiasaan ini umumnya tidak menjadi masalah.

Anjing tidak menularkan flu biasa ke manusia

Blue Cross menerangkan bahwa virus pilek dan flu biasa tidak dapat menular dari anjing ke manusia. Sebaliknya, anjing juga tidak akan tertular flu dari manusia.

Meski penularan dari hewan peliharaan ke manusia sangat jarang, kehati-hatian tetap dibutuhkan saat merawat anjing yang sakit. Langkah sederhana seperti mencuci tangan setelah memegang anjing dan setelah membersihkan kotorannya tetap penting dilakukan.

Mitos tentang anjing sering bertahan lama karena terdengar meyakinkan dan mudah diingat. Saat fakta-fakta dasarnya dipahami dengan benar, pemilik bisa merespons perilaku anjing dengan lebih aman dan lebih tepat.

Source: www.idntimes.com
Terbaru