Tarian akrobatik burung manakin jantan di hutan tropis ternyata berawal dari perubahan yang jauh lebih sederhana, yakni kemampuan mengenali dan mencerna buah. Adaptasi pada lidah serta sistem pencernaan diduga lebih dulu memberi mereka energi untuk mengembangkan pertunjukan kawin yang sangat menguras tenaga.
Manakin dikenal melalui gerakan mundur menyerupai “moonwalk” di atas ranting, kepakan sayap cepat, dan putaran di udara. Aksi tersebut kemudian menjadi bagian penting dari persaingan jantan untuk menarik perhatian betina.
Buah Membuka Ruang bagi Pertunjukan Jantan
Buah menyediakan gula dan lemak yang relatif stabil bagi manakin di hutan tropis Amerika Tengah dan Selatan. Pasokan energi itu memungkinkan jantan mengalokasikan lebih banyak waktu serta tenaga untuk menampilkan gerakan dan bulu berwarna mencolok.
Penelitian yang dimuat dalam Current Biology menelusuri hubungan antara pola makan, fisiologi tubuh, dan perilaku kawin kelompok burung ini. Tim yang melibatkan biolog dari Institute of Science Tokyo membandingkan genom lima spesies manakin, melakukan eksperimen laboratorium, serta merekonstruksi sejarah evolusinya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan pada fungsi pencernaan dan indera pengecap muncul sebelum tarian akrobatik maupun warna bulu jantan yang terang. Urutan itu memperkuat dugaan bahwa seleksi seksual pada manakin ditopang oleh fondasi fisiologis yang berkembang lebih awal.
| Tahap Evolusi | Perubahan Utama | Dampak bagi Manakin |
|---|---|---|
| Paling awal | Perubahan fungsi pencernaan | Memperluas kemampuan memanfaatkan buah |
| Berikutnya | Kemampuan mendeteksi gula | Membantu menemukan buah kaya energi |
| Lebih belakangan | Tarian akrobatik dan bulu jantan cerah | Mendukung persaingan memikat betina |
Reseptor Gurih Berubah Fungsi untuk Mengenali Gula
Burung menghadapi kendala khusus dalam mengenali rasa manis karena leluhur mereka telah kehilangan reseptor rasa manis yang masih digunakan mamalia. Pada manakin, reseptor umami T1R1-T1R3 tampaknya digunakan kembali untuk mendeteksi gula yang terkandung dalam buah.
Adaptasi ini membantu manakin membedakan buah yang kaya energi di antara sumber makanan yang tersedia di kanopi hutan. Profesor Yasuka Toda menjelaskan bahwa gen reseptor rasa, enzim pencernaan, dan fungsi fisiologis yang terkait konsumsi buah menunjukkan tanda seleksi positif dalam studi tersebut.
Kemampuan menemukan buah matang penting karena makanan ini dapat tersedia cukup lama di ranting-ranting hutan tropis. Bagi jantan, buah yang kaya energi menjadi bahan bakar untuk kepakan bersuara, lompatan, dan gerakan lain selama ritual kawin.
Perubahan di Pencernaan Memperluas Pilihan Makanan
Tantangan manakin bukan hanya menemukan buah manis, melainkan juga menghadapi pertahanan kimia pada buah liar. Buah yang belum matang dapat mengandung senyawa yang berpotensi merugikan hewan pemakannya.
Para peneliti menemukan aktivitas enzim lactase-phlorizin hydrolase menurun pada manakin. Perubahan ini diduga membuat senyawa tertentu dari buah mentah atau buah dengan pertahanan kimiawi dapat melewati saluran pencernaan tanpa diuraikan, sehingga risiko keracunan dapat berkurang.
Penyesuaian tersebut berpotensi memberi manakin akses ke jenis buah yang lebih beragam, termasuk yang mungkin dihindari pesaingnya. Jejak perubahan pencernaan itu bahkan dapat ditelusuri hingga nenek moyang kelompok yang mencakup manakin, cotinga, dan tyrant flycatcher.
Energi yang Ikut Mengubah Kehidupan Sosial
Ketersediaan buah yang stabil juga dapat memengaruhi pembagian peran antara jantan dan betina. Ketika betina mampu memberi makan anak tanpa banyak bantuan pasangan, jantan memiliki kesempatan lebih besar untuk berkompetisi melalui penampilan kawin.
Dalam konteks ini, tarian kawin manakin bukan sekadar hasil dari warna bulu atau gerakan tubuh yang mencolok. Pertunjukan itu diduga menjadi konsekuensi lanjutan dari kemampuan tubuh mereka dalam mengecap, memilih, dan mencerna makanan berenergi tinggi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan kecil pada lidah dan perut dapat mengarahkan evolusi sifat yang tampak jauh lebih rumit. Pendekatan serupa diharapkan dapat membantu menelusuri asal-usul perilaku kompleks lain pada manakin dan kelompok hewan berbeda.
