Harga minyak dunia melonjak tajam setelah minyak Brent menembus US$94 per barel di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar juga mencermati ancaman terhadap jalur ekspor minyak Arab Saudi, yang dapat memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.
Lonjakan harga terjadi setelah AS melancarkan serangan udara selama 11 malam berturut-turut ke sejumlah target militer strategis Iran. Situasi itu membuat perhatian investor tidak hanya tertuju pada konflik udara, tetapi juga keamanan jalur distribusi minyak mentah di kawasan Timur Tengah.
Brent dan WTI Menguat dalam Sehari
Pada Jumat pagi waktu setempat, harga minyak Brent naik 3,7 persen menjadi US$94,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI menguat 4 persen ke level US$87,71 per barel.
| Patokan Minyak | Kenaikan | Harga |
|---|---|---|
| Minyak Brent | 3,7 persen | US$94,40 per barel |
| WTI | 4 persen | US$87,71 per barel |
Pergerakan dua patokan utama tersebut memperlihatkan besarnya sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kawasan ini memiliki jalur penting yang menghubungkan produsen minyak besar dengan negara-negara konsumen di pasar internasional.
Suara.com yang mengutip CNN Internasional melaporkan bahwa serangkaian gempuran AS menyasar target militer strategis milik Iran. Eskalasi tersebut berlangsung ketika belum terlihat tanda bahwa konflik antara kedua negara akan segera mereda.
Ancaman Houthi Menambah Risiko Pasokan
Ketegangan meningkat setelah milisi Houthi di Yaman mengancam melumpuhkan jalur penting untuk ekspor minyak Arab Saudi. Ancaman itu memicu kekhawatiran baru bahwa distribusi minyak mentah dapat terganggu saat konflik regional masih berlangsung.
Jalur ekspor Arab Saudi menjadi perhatian karena berperan mengalirkan pasokan ke berbagai negara konsumen. Ketika keamanan rute tersebut dipertanyakan, pelaku pasar cenderung memasukkan kemungkinan krisis pasokan yang lebih luas ke dalam perhitungan mereka.
Risiko di laut menegaskan kerentanan rantai pasok energi global ketika ketegangan geopolitik meningkat. Gempuran militer dan kemungkinan blokade oleh kelompok bersenjata dapat menambah tekanan terhadap arus minyak mentah internasional.
Pasar kini memantau dua perkembangan sekaligus, yakni serangan udara antara AS dan Iran serta potensi gangguan pada titik-titik penyaluran energi. Setiap indikasi eskalasi dapat memengaruhi penilaian investor mengenai ketersediaan pasokan minyak dunia.
Diplomasi Dinilai Penting bagi Arah Harga
Analis Deutsche Bank menilai kenaikan harga minyak terbaru terjadi saat serangan antara AS dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Mereka juga melihat belum ada indikasi konkret mengenai kesepakatan damai yang bisa mengurangi ketegangan tersebut.
“Pergerakan harga minyak terbaru ini terjadi saat serangan antara AS dan Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dan belum ada tanda-tanda konkret mengenai kesepakatan damai,” tulis analis Deutsche Bank dalam sebuah catatan.
Tanpa jalur diplomasi yang efektif, pertempuran udara dan ancaman di lautan berpotensi terus mendorong biaya energi global. Ketidakpastian itu membuat pasar menghadapi pertanyaan mengenai seberapa lama tekanan terhadap pasokan akan bertahan.
Konflik di Timur Tengah secara historis menjadi salah satu faktor yang dapat mengguncang stabilitas harga minyak dunia. Gangguan keamanan di kawasan tersebut dapat cepat menjalar ke pasar komoditas karena pentingnya jalur perdagangan minyak mentah internasional.
Kenaikan minyak Brent dan WTI menunjukkan bahwa risiko pasokan kini menjadi perhatian utama pasar. Selama ketegangan AS dan Iran belum mereda serta ancaman terhadap jalur ekspor tetap ada, gejolak harga energi berpotensi berlanjut.
