Topan Senyar meninggalkan dampak paling getir bagi orangutan Tapanuli. Sebanyak 58 individu dilaporkan tewas seketika setelah longsor besar membawa lumpur, puing, dan batang kayu menghantam kawasan hutan di Sumatra bagian barat.
Jumlah itu setara sekitar 7% dari seluruh populasi orangutan Tapanuli. Angka tersebut menunjukkan betapa rapuhnya satwa langka ini ketika bencana ekstrem langsung melanda habitatnya.
Terjebak di tengah lumpur dan puing
Bangkai orangutan ditemukan terkubur di desa Pulo Pakkat, Tapanuli Tengah. Lokasinya berada di antara lumpur dan kayu, berserakan bersama material longsoran yang menutup area hutan.
Decky Chandra, pekerja kemanusiaan yang ikut dalam pencarian, menyebut temuan itu sebagai pengalaman pertamanya melihat bangkai satwa liar. Ia mengatakan beberapa hari sebelumnya telah melihat sejumlah mayat manusia, tetapi baru kali itu menemukan korban hewan liar.
Direktur Pelaksana Borneo Futures, Erik Meijaard, juga melihat foto-foto orangutan yang mati dan mengaku terkejut. Menurutnya, bagian wajah hewan itu terkoyak habis, memperlihatkan kerasnya hantaman bencana.
Longsor membuat orangutan tak punya ruang selamat
Meijaard menilai longsor besar-besaran itu membuat orangutan sama sekali tidak punya kesempatan menyelamatkan diri. Ia menggambarkan bahwa jika beberapa hektar hutan runtuh sekaligus, bahkan orangutan yang dikenal kuat pun bisa hancur berkeping-keping.
Bencana itu memperlihatkan bagaimana kekuatan alam dapat melampaui kemampuan satwa liar untuk bertahan. Dalam situasi seperti ini, hutan tidak lagi menjadi tempat berlindung, melainkan sumber ancaman yang mematikan.
Ancaman yang bisa terulang
Para peneliti mengingatkan bahwa Siklon Senyar, yang juga menewaskan lebih dari 1.000 orang, bisa terjadi lagi di masa depan. Frekuensi dan intensitas curah hujan ekstrem disebut berpotensi terus mengancam hidup orangutan Tapanuli sekaligus habitatnya.
Penelitian yang dikutip juga menyebutkan populasi orangutan bisa punah jika jumlahnya terus berkurang lebih dari 1% dari populasi yang ditemukan pada 2017. Sementara itu, kematian akibat Siklon Senyar mencapai 10% populasi, angka yang jauh melampaui kemampuan hewan untuk bertahan.
Sergei Vich, primatolog Universitas Liverpool John Moore sekaligus salah satu penulis studi, menegaskan bahwa tingkat kematian itu sangat tinggi. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai kejadian besar karena dampaknya melampaui batas daya tahan spesies itu.
Kondisi ini membuat perlindungan habitat orangutan Tapanuli semakin mendesak. Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang bisa terulang, kehilangan puluhan individu dalam satu peristiwa menjadi peringatan keras bagi kelangsungan satwa yang sudah sangat terancam ini.
Source: www.cnbcindonesia.com






