50 Desa Wisata Disiapkan Sumenep, Dari Pantai Lobuk Hingga Keris Aengtongtong

Author: Cung Media

Pemerintah Kabupaten Sumenep memperluas pengembangan desa wisata menjadi 50 desa untuk mendorong ekonomi warga dan menguatkan UMKM setempat. Langkah ini menunjukkan bahwa potensi wisata di daerah itu tidak hanya bertumpu pada satu jenis daya tarik.

Faruk Hanafi, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Pemkab Sumenep, menyebut pengembangan dilakukan sesuai karakter masing-masing desa. Sebagian besar diarahkan ke wisata alam, sementara sebagian lain ditopang kekuatan budaya yang sudah tumbuh lebih dulu.

Wisata Alam Jadi Andalan di Banyak Desa

Salah satu contoh yang menonjol adalah Desa Lobuk, Kecamatan Bluto. Desa ini dikenal dengan pantai yang indah dan suasana sejuk, sekaligus menjadi lokasi favorit warga sekitar untuk memancing di bibir pantai.

Aparat desa setempat kemudian mempercantik sumber daya alam yang ada dan membangun sejumlah titik agar kawasan itu lebih menarik dikunjungi. Upaya tersebut membuat Lobuk semakin kuat sebagai destinasi berbasis alam.

Aengtongtong Bertumpu pada Budaya Keris

Berbeda dengan Lobuk, Desa Aengtongtong, Kecamatan Saronggi, dikembangkan melalui wisata budaya. Desa ini dikenal sebagai pusat kerajinan keris terbesar di Kabupaten Sumenep.

Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan keris oleh warga setempat. Faruk mengatakan model pengembangan di desa ini memang berbeda karena bertumpu pada tradisi dan keterampilan yang sudah hidup di tengah masyarakat.

Aengtongtong juga disebut memiliki sekitar 446 perajin keris aktif. Desa ini pernah dinobatkan UNESCO sebagai desa wisata dengan empu terbanyak di dunia dan meraih juara pertama Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

Desa Potensi Utama Keunggulan Keterangan
Lobuk, Bluto Wisata alam Pantai indah, sejuk, favorit memancing Dipercantik dan dibangun di sejumlah titik
Aengtongtong, Saronggi Wisata budaya Pusat kerajinan keris terbesar di Sumenep Memiliki sekitar 446 perajin keris aktif

Perluasan menjadi 50 desa wisata itu menjadi bagian dari upaya Sumenep menggerakkan ekonomi dari bawah. Pemerintah daerah menempatkan desa sebagai titik awal pertumbuhan wisata yang diharapkan memberi dampak lebih luas bagi warga dan pelaku UMKM setempat.

Source: jatim.antaranews.com
Terbaru